Penelitian Lanjutan di Natuna 2018

Kompas - - PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN - (DHF/RAZ)

NATUNA, KOMPAS — Penelitian arkeologi di Kepulauan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, perlu dilanjutkan mengingat masih banyak situs arkeologi dan peninggalan masa lalu yang belum terungkap dari kawasan tersebut. Menurut rencana, penelitian lanjutan ini akan digelar tahun depan. ”Nanti akan lebih melibatkan para peneliti muda,” tutur Prof Naniek Harkantiningsih, arkeolog senior dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) yang memimpin penelitian arkeologi di Pulau Natuna tahun ini, kepada Kompas, Jumat (13/10), di Natuna. Naniek bersama delapan arkeolog dari Puslit Arkenas melakukan ekskavasi di empat lokasi situs di Pulau Natuna sejak lebih dari tiga pekan lalu. Ini adalah penelitian arkeologi keenam di Natuna setelah penelitian pertama pada 2010. Dalam penelitian tahun ini, para arkeolog menemukan berbagai peninggalan, seperti kerangka manusia serta pecahanpecahan keramik dari sejumlah negara dan periode. Berdasarkan posisi kerangka dalam makamnya, diketahui mereka adalah orang-orang yang pernah menempati Pulau Natuna pada periode pra-Islam. ”Dari temuan keramik yang terserak di sekitar situs, paling banyak berasal dari periode abad ke-12 hingga abad ke-14. Banyak sekali ditemukan keramik China dari era Dinasti Song (abad ke-10 hingga ke-13) dan Dinasti Yuan (abad ke-13 sampai ke-14),” tutur arkeolog Sonny C Wibisono. Tim peneliti juga mengambil sampel tulang kerangka untuk diuji DNA di Jakarta. Tujuannya untuk diketahui asal-usul penghuni Natuna di masa lalu. Bupati Natuna Abdul Hamid Rizal menyambut baik rencana penelitian lanjutan arkeologi di Natuna tersebut. ”Dengan penelitian ini diharapkan kami akan lebih memahami asal-usul masyarakat Natuna dan kekayaan sejarahnya di masa lalu. Hal ini penting karena sampai saat ini informasi dan pemahaman masyarakat soal itu masih sangat minim,” ujar Hamid.

Masih banyak

Kompas mendatangi salah satu situs di Kampung Teluk Baru, Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, Natuna. Lokasi penggalian hanya berjarak sekitar 300 meter dari bibir pantai dan terletak persis di belakang dinding rumah yang dihuni warga bernama Riyanto (48). ”Di lokasi ini kami menemukan tiga kerangka yang berjejer. Dugaan kami, masih banyak lagi kerangka lain yang belum ditemukan di sekitar sini,” tutur Sonny. Di lokasi tersebut, Kompas menemukan pecahan-pecahan keramik kuno yang terserak begitu saja di atas tanah, di sela-sela rerumputan. Menurut Sonny, serakan keramik kuno di permukaan tanah itu menjadi salah satu penanda awal adanya situs permukiman masa lalu.

KOMPAS/DAHONO FITRIANTO

Arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), Sonny C Wibisono (tidak terlihat), menunjukkan pecahan-pecahan keramik kuno yang terserak di atas tanah di Situs Sepempang di Kampung Teluk Baru, Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Jumat (13/10). Serakan keramik kuno itu menjadi petunjuk awal adanya bekas permukiman kuno para penghuni Natuna masa lalu.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.