Yang Datang dan Pergi

Kompas - - PENDIDIKAN & KEBUDAYAAN - EKO ENDARMOKO EKO ENDARMOKO Penyusun ”Tesamoko, Tesaurus Bahasa Indonesia”

Banyak kata berseliweran, datang dan pergi begitu saja sering tanpa kita sadari. Berbarengan dengan hadirnya sejumlah kata baru lewat berbagai cara, sekian banyak kata lain mulai jarang dipakai, pudar, dan kemudian lambat laun lenyap. Bukan punah, kecuali apabila masyarakat pendukung atau penuturnya sudah tak ada lagi sehingga bahasa itu tidak berkembang lagi, seperti bahasa Latin atau bahasa Jawa kuna. Saya katakan lenyap, bukan punah. Sesuatu yang dikatakan lenyap, dalam kenyataan sering bukan punah (seperti beberapa spesies makhluk hidup purba), melainkan cuma luput dari pengindraan. Cuma berpindah tempat (seperti ponsel atau dompet yang disambar copet). Menjelang usia masuk sekolah dasar di Jakarta, sebelum 1965, saya sekali dua ikut Ibu atau Bibi dalam barisan, mengantre pada pembagian bulgur. Hari-hari ini bulgur sebagai kata (Turki: bulgur; Arab: burghul) boleh dibilang sudah amat jarang atau malah tak lagi pernah dipakai, kecuali jadi penghias kelengkapan kamus. Di sini saya kira menarik apabila kita punya data tentang berapa banyak kata dalam bahasa kita yang sudah terekam dalam kamus, namun tak pernah dipakai lagi alias sudah lenyap. Sebaliknya, pada sekitar masa itu, bahasa Indonesia belum lagi mengenal sekian kata ”baru” yang populer sekarang, seperti spageti, piza, hamburger, gawai, daring, luring, pratayang, narahubung. Sekian kata ”baru” ini tentu saja hadir tidak dengan tiba-tiba dan tidak dengan begitu saja. Zaman baru datang sambil membawa banyak sekali barang atau konsep yang juga baru. Dan kesemuanya, barang atau konsep-konsep baru itu, memerlukan wadah berupa kata demi memudahkan kita saling berhubungan dan bekerja sama. Dalam kenyataan, riwayat pertautan kata dan makna sebenarnya melibatkan sebuah proses yang sedikit lebih subtil, bukan serupa panggung tempat sembarang kata bulat-bulat datang dan pergi. Ada kata yang bertahan, tidak lenyap, tapi sebagian komponen maknanya saja yang tanggal. Dan berbarengan dengan itu, salah satu nuansa makna beroleh pengerasan, menjadi lebih menonjol. Contoh yang baik saya kira adalah kata seronok. Tengok saja transformasi maknanya sejak dulu di sana hingga kini di sini. Begini kamus kita mendeskripsikannya: ”menyenangkan hati; sedap dilihat (didengar dan sebagainya)”, atau dalam rumusan lebih ringkas, ”mengasyikkan, menyenangkan”. Kini, dalam banyak data, seronok dipakai lebih dalam pengertian erotis, jorok. Demikianlah, kata baru datang ke tengah pergaulan kita dengan misi atau maksud tertentu, yaitu menjadi wakil benda-benda atau konsep yang baru. Bahasa di situ ikut dimutakhirkan sejalan dengan perkembangan masyarakat dan kebudayaan. Apakah nanti sebuah kata baru diterima, atau sebuah kata lama ditinggalkan—kata berikut maknanya yang labil—nasib mereka sepenuhnya berada di tangan kita, para penutur bahasa (Indonesia), bukan di tangan para pekamus atau perencana bahasa.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.