Tekan Risiko Bedah Tumor Otak

Metode Lubang Kunci Meminimalkan Sayatan

Kompas - - IPTEK LINGKUNGAN & KESEHATAN - (DD09)

JAKARTA, KOMPAS — Teknik bedah tumor otak terus berkembang. Bedah dengan metode key hole atau lubang kunci pada alis kini menambah pilihan metode bedah pengangkatan tumor di otak bagian dalam. Metode dengan invasi minimal tersebut bisa meminimalkan risiko dalam pembedahan. Tumor merupakan pertumbuhan benjolan atau jaringan tak normal dalam organ tubuh. Ketua Tim Medis Comprehensive Brain and Spine Center M Sofyanto mengapresiasi adanya metode key hole atau lubang kunci melalui alis mata untuk bedah pengangkatan tumor pada otak bagian dalam. ”Sebelum mengenal metode ini, kami (dokter spesialis bedah saraf) harus membuka tempurung kepala untuk pengangkatan tumor otak. Ini bisa memakan waktu 10 jam, bahkan 22 jam. Ditambah lagi, dengan metode lama, pemulihan akibat pembengkakan dampak pembedahan berlangsung minimal seminggu,” ujarnya, Jumat (13/10), pada jumpa pers di Jakarta. Metode lubang kunci meminimalkan risiko pembengkakan otak dan jaringan lunak sebagai dampak pembedahan. Agus C Anab, dokter spesialis bedah saraf yang menjadi perintis penggunaan metode lubang kunci pada alis mata di Indonesia, memaparkan, keunggulan metode itu terletak pada minimalnya cedera atau kerusakan pada jaringan sehat. Risiko pendarahan pun menurun karena luka sayatan jauh lebih kecil. Dengan metode itu, dokter bedah hanya menyayat 1 sampai 2 sentimeter (cm) pada alis. ”Dengan metode lama, kami harus menyayat sepanjang 25 cm. Dari segi waktu, bedah dengan metode lubang kunci ini lebih singkat, berkisar 4-6 jam,” kata Agus. Secara umum, bedah pengangkatan tumor pada otak dengan metode tersebut membutuhkan alat dan teknik khusus. Bedah ini memakai alat-alat berukuran mikron. Selain itu, peralatan bedah juga harus dilengkapi dengan mikroskop dan endoskopi. ”Secara teknik, setelah menyayat kulit di alis, tulang dilubangi dan dibersihkan untuk memberi jalan. Lalu, sisi otak yang menjadi jalannya pengangkatan tumor akan dikempiskan. Setelah ada jalan, tumor tersebut kami angkat,” tutur Agus. Sejak tahun 2012 hingga kini, Agus menangani 25 kasus tumor otak dengan metode lubang kunci melalui alis mata. Secara keseluruhan, dengan menggunakan metode lubang kunci, ia menangani sekitar 50 kasus per tahun. ”Pada 2012, saya memperdalam metode ini lewat magang pada Profesor Nicolay Hofp di Jerman,” ucapnya. Salah seorang pasien yang ditangani Agus adalah Amelia Genial (50). Agus mengangkat tumor jinak berukuran 4 sentimeter dari otak Amelia pada September 2016 dengan metode lubang kunci pada alis. ”Satu hari setelah operasi, saya sudah siuman. Tiga hari setelah operasi, saya sudah bisa berjalan,” tutur Amelia. Metode lubang kunci ini bisa mengangkat tumor jinak atau tumor ganas. ”Perbedaannya dari segi terapi pascabedah. Kalau tumor jinak, cenderung tidak ada terapi. Sementara jika pasien memiliki tumor ganas, ia membutuhkan terapi pascabedah. Terapi itu bisa berupa kemoterapi, imunoterapi, dan terapi dengan radiasi,” ucap Agus.

Keunggulan metode itu terletak pada minimalnya cedera atau kerusakan pada jaringan sehat.

Perkuat kapasitas

Untuk memperkuat kapasitas tenaga medis dalam bedah saraf, Sofyanto memaparkan, ada 12 rumah sakit yang sudah dilatih timnya untuk melaksanakan bedah mikro dengan metode lubang kunci. ”Rumah sakit itu tersebar di Yogyakarta, Jakarta, Batam, Palembang, Medan, dan sejumlah daerah lainnya,” katanya. Jika ingin melaksanakan bedah dengan metode lubang kunci, rumah sakit harus memenuhi sejumlah standar. ”Secara sarana-prasarana, rumah sakit harus memiliki mikroskop dan ruangan ICU (unit perawatan intensif). Dari segi sumber daya manusia, rumah sakit harus punya dokter bedah saraf dan tim bedah yang mampu berkoordinasi. Tim bedah terdiri dari dokter spesialis bedah saraf, dokter anestesi, dan perawat,” ujarnya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.