Gempa Beruntun di Lembata Rusak Bangunan

Kompas - - IPTEK LINGKUNGAN & KESEHATAN - (AIK)

JAKARTA, KOMPAS — Gempa bumi beruntun yang melanda Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, sepekan terakhir, menyebabkan kerusakan puluhan bangunan. Gempa itu tak terkait dengan peningkatan aktivitas Gunung Ili Lewotolok, tetapi diduga berasal dari zona patahan yang belum dikenali. Kepala Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono, Jumat (13/10), di Jakarta, mengatakan, gempa pertama terjadi pada Sabtu (7/10) pukul 19.04 WIB. ”Hingga Jumat ini 17 kali gempa bumi dirasakan,” ujarnya. Kekuatan gempa rata-rata M 4-M 4,9 dengan sumber dangkal, 10 kilometer di bawah tanah. Gempa terkuat terjadi Selasa (10/10) pukul 05.23 WIB dan Rabu (11/10) pukul 06.10 WIB, kekuatan M 4,9. ”Karena kuatnya, gempa memicu warga berhamburan keluar rumah. Karena gempanya dangkal, guncangan dirasakan kuat,” ucapnya. Analisis mekanisme sumber menunjukkan, gempa dipicu pergerakan sesar mendatar (strike slip fault). ”Ini menunjukkan gempa murni aktivitas tektonik dipicu sesar aktif,” katanya. Analisis mekanisme sumber menunjukkan aktivitas gempa tak terkait struktur geologi Sesar Naik Flores (Flores back arc thrust) yang pada 1992 memicu gempa besar diikuti tsunami. ”Dugaan kami, gempa ini sesar baru, belum dikenali,” ujarnya. Berdasarkan distribusi pusat gempanya, ada jalur sesar arah utara-selatan dari Lembata ke Laut Flores. Sementara Sesar Naik Flores yang dipetakan dalam Peta Gempa Bumi Nasional 2016/2017 mengarah timur-barat sejajar Pulau Flores. Menurut Kepala Bidang Gempa Bumi dan Tsunami Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Sri Hidayati, distribusi gempa arah utara-selatan itu mengherankan. Sebelum gempagempa terjadi, aktivitas Gunung Ili Lewotolok (di Lembata) naik dari Normal menjadi Waspada. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho memaparkan, akibat bencana itu, 2 orang luka ringan dan 2.172 orang mengungsi. Gempa juga menyebabkan 11 rumah rusak berat dan 29 rumah rusak ringan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.