Pemerintah Perlu Hati-hati dalam Penyertaan Modal

Kompas - - SOSOK - (AHA/HEN)

JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah Indonesia perlu berhati-hati dalam penyertaan modal kepada badan usaha milik negara yang sumbernya sebagian berasal dari utang luar negeri. Hal ini bisa memicu kenaikan ruang utang baru bagi badan usaha milik negara. ”Jangan sampai terjadi double leveraging karena utang luar negeri pemerintah sebagian disertakan sebagai modal badan usaha milik negara. Kalau badan usaha milik negara lalu juga menarik utang baru karena kapasitas meningkat, ini bisa menimbulkan risiko baru,” ujar Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual, Jumat (13/10), di Jakarta. Sebagian besar rasio lain terkait utang luar negeri Indonesia masih relatif sehat. Menurut David, kalaupun terjadi pertumbuhan utang baru, kemampuan bayar utangnya juga harus meningkat. Apalagi, sudah ada berbagai instrumen untuk menjaga kehati-hatian penarikan utang luar negeri. Utang luar negeri sektor publik (pemerintah dan bank sentral) pada triwulan II-2017 tercatat sebesar 174,3 miliar dollar AS atau 51,3 persen dari total utang luar negeri Indonesia. Utang sektor publik itu tumbuh 9,2 persen selama setahun. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah rasio utang luar negeri terhadap ekspor Indonesia. Pada 2012 rasio utang luar negeri terhadap ekspor sebesar 113,82 persen, tetapi pada triwulan II-2017 meningkat menjadi 174,26 persen. Untuk mengimbanginya, pemerintah dan kalangan dunia usaha akan meningkatkan ekspor secara bertahap. Ada enam upaya yang dilakukan, yaitu penguatan produk di dalam negeri, membuka pasar baru, mendorong misi pembelian, promosi, bilateral, dan pemasaran digital. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, pemerintah saat ini tengah menggarap peningkatan produk dalam negeri. Salah satunya dengan peningkatan kualitas desain produk-produk usaha kecil menengah (UKM) yang siap ekspor melalui Indonesia Design Development Center. Kemendag juga berupaya membuka pasar ekspor baru, seperti di Afrika Selatan, Nigeria, sejumlah negara di Timur Tengah, Eropa Timur, dan Amerika Latin. Caranya melalui peningkatan komunikasi bilateral, mengoptimalkan peran atase perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center, serta mendatangkan pembeli potensial ke Indonesia melalui misi pembelian. ”Setiap tahun, Kemendag juga menggelar pameran perdagangan dan ajang bisnis untuk bisnis terbesar di Indonesia, yaitu Trade Expo Indonesia. Dalam ajang itu, kami juga membuka peluang perdagangan jasa, investasi, dan pariwisata,” katanya.

Ekspor nonmigas

Ekspor Indonesia pada Januari-Agustus 2017 tercatat 108,79 miliar dollar AS, meningkat 17,58 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Tahun ini, Kemendag menargetkan ekspor nonmigas meningkat 5,6 persen dari tahun lalu sebesar 131,35 miliar dollar AS. Selain tetap mengandalkan komoditas utama, seperti minyak kelapa sawit dan produk turunannya, Indonesia akan mendorong peningkatan ekspor kopi, rempah, teh, dan cokelat. Hal itu dalam rangka menjawab kebutuhan perkembangan kelas menengah yang mengedepankan gaya hidup. Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia akan menerapkan lima pilar utama strategi peningkatan ekspor. Pilar-pilar itu adalah penambahan jumlah eksportir, diversifikasi produk ekspor, pengembangan pasar ekspor, peningkatan harga produk ekspor, serta pengembangan ekosistem ekspor. Prioritas Kadin sekarang adalah menambah jumlah eksportir. Ketua Komite Tetap Pengembangan Ekspor Kadin Indonesia Handito Joewono mengatakan, sasaran utama dalam upaya menambah jumlah eksportir adalah perusahaan-perusahaan yang sudah beroperasi dengan baik serta calon wirausaha baru yang didorong untuk melakukan bisnis ekspor.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.