Diversifikasi Perlu Didorong

Komoditas yang Berpeluang Pasar Dapat Membantu Petani

Kompas - - EKONOMI - (MKN)

BANDUNG BARAT, KOMPAS — Anjloknya harga bawang merah dan cabai menandai belum tuntasnya perbaikan manajemen produksi dan penanganan pascapanen. Sambil membangun sisi hilir, komoditas hortikultura lain yang punya potensi pasar perlu dikembangkan sebagai sumber penghasilan petani. Peneliti Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Suwandi di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (13/10), mengatakan, produksi sejumlah komoditas hortikultura naik sejalan dengan fokus pemerintah, khususnya bawang merah, cabai, bawang putih, dan kentang. Namun, lonjakan produksi itu berisiko menurunkan harga komoditas dan berimbas ke pendapatan petani. Hal ini perlu diimbangi dengan pengembangan komoditas lain yang permintaan pasarnya masih cukup tinggi. Suwandi mencontohkan, kentang saat ini masih banyak dibutuhkan industri pengolah makanan. Buncis dengan umur dan ukuran tertentu juga banyak diminta restoran modern. Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Produsen Benih Hortikultura Afrizal Gindow mengatakan, diversifikasi penanaman bisa menjadi salah satu solusi untuk membantu petani terhindar dari kerugian. Caranya dengan menanam komoditas potensial di luar komoditas utama yang digalakkan pemerintah. ”Komoditas melon, jagung manis, dan gambas, misalnya, punya potensi pasar, harga jual tinggi, dan ongkos produksi yang relatif kecil,” kata Afrizal yang ditemui dalam rangkaian Lokakarya Perbenihan dan Perbibitan yang diselenggarakan Badan Penyuluh dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pertanian bersama Masyarakat Perbenihan dan Perbibitan Indonesia di Bandung Barat dan Purwakarta. Dengan biaya produksi sekitar Rp 2.000 per kilogram (kg), kata Afrizal, petani bisa menjual melon dengan harga Rp 4.500 per kg. Sementara jagung manis, biaya produksinya sekitar Rp 800 per kg dengan harga jual di tingkat petani Rp 1.500 per kg.

Belum efektif

Sejak beberapa bulan terakhir, petani mengeluhkan harga bawang merah dan cabai yang terus turun, bahkan terjun di bawah ongkos produksi. Harga cabai rawit merah, misalnya, turun dari Rp 86.327 per kg di tingkat petani pada awal Maret 2017 menjadi Rp 13.031 per kg pada pertengahan Agustus. Padahal, biaya produksinya sekitar Rp 17.000 per kg. Nasib petani bawang merah pun tak berbeda. Penambahan area tanam membuat produksi berlimpah. Sementara upaya membangun tempat penyimpanan, pengolahan, atau ekspor belum optimal. Akibatnya, pasokan melimpah dan harga pun anjlok. Pemerintah, melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 63 Tahun 2016, telah menentukan harga acuan pembelian cabai dan bawang merah. Namun, harga komoditas ini tetap anjlok hingga di bawah harga acuan. Ketentuan tentang harga acuan itu dianggap belum efektif. Karena itu, kebijakan yang lebih menyeluruh, termasuk diversifikasi penanaman perlu menjadi alternatif solusi.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.