Menyelamatkan Kedelai Lokal

Usaha yang melawan arus pasti tak mudah. Akan tetapi, minat dan idealisme tak bisa dibendung. Secara perlahan usaha mereka terus maju. Banyak pilihan usaha yang lebih menjanjikan, tetapi mereka memilih menyelamatkan kedelai lokal yang bukan transgenik mel

Kompas - - EKONOMI - OLEH ANDREAS MARYOTO

Nurhayati Nirmalasari dan Atris Suyantohadi memperlihatkan tempe produksinya di tempat usaha atau pabrik tempe yang berada di Prambanan, Yogyakarta, saat Kompas berkunjung ke tempat itu. Pabrik ini tampak bersih. Sejumlah karyawan pagi itu tengah bekerja. ”Saya memulai usaha ini sejak dua setengah tahun yang lalu. Dulu saya pernah membuka kantin. Sempat istirahat karena saya melahirkan, eh, semua alat memasak dicuri sampai habis. Saya juga pernah usaha binatu, terus menjadi agen asuransi. Menjadi agen asuransi memang mudah mendapat duit, tetapi saya memilih untuk mundur. Saya kemudian menekuni usaha tempe ini,” kata Nurhayati yang akrab dipanggil Nunung. Usaha pembuatan tempe dengan nama Attempe ini bermula dari suami Nunung, Atris Suyantohadi, yang juga dosen di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada. Sejak beberapa tahun lalu, Atris mendampingi petani-petani kedelai di sejumlah kabupaten di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Awalnya, Atris sekadar membantu petani menyalurkan kedelai ke beberapa kalangan. ”Saat itu tidak terpikir untuk membuat tempe. Pokoknya, ya, kalau ada informasi petani panen kedelai, lalu suami saya mengabarkan ke pedagang. Akan tetapi, saya kemudian berpikir, kok, tidak dicoba membuat tempe?” kata Nunung. Pasangan ini kemudian mencoba membuat tempe. Mereka beruntung karena di Fakultas Teknologi Pertanian UGM banyak dosen yang mendalami tempe, semisal produksi ragi dan juga produksi tempe itu sendiri. Membuat tempe adalah masalah tersendiri karena mereka tak pernah punya pengalaman membuat tempe. Masalah itu berhasil diatasi. Masalah berikutnya, soal memasarkan tempe. Meskipun tempe yang beredar di pasaran juga ada yang berasal dari kedelai lokal, tetapi karena Attempe mengangkat dengan tegas bahwa produk mereka berasal dari kedelai lokal dan nontransgenik, mau tidak mau mereka harus menjelaskan ke calon pembeli mengenai produk tersebut. ”Kami sangat beruntung karena tidak sedikit yang sudah paham dengan produk nontransgenik atau non-GMO sehingga beberapa bisa langsung menerima produk kami. Beberapa rumah sakit dan restoran sudah menjadi pelanggan tetap kami. Akan tetapi, pada konsumen secara umum tetap harus dijelaskan mengenai produk mereka yang nontransgenik itu,” katanya. Ia juga sudah mendapat pasar di beberapa ritel di Yogyakarta. Penjelasan itu penting karena harga jual tempe dengan kedelai lokal lebih mahal dibandingkan dengan tempe yang menggunakan kedelai impor. Kejelasan informasi yang diberikan membuat konsumen memahami kelebihan Attempe dibandingkan dengan tempe berbahan baku kedelai impor. Tak cuma itu, mereka menjamin kualitas dengan menyeleksi kedelai yang layak untuk dijadikan bahan baku tempe. Saat ini produksi mereka mencapai 75 kg-100 kg per hari, dengan mempekerjakan enam orang. Selama ini mereka mengatakan, pasokan kedelai dari petani lancar. Pada bulan Desember-Januari mereka tidak mendapat pasokan kedelai, tetapi sebulan sebelumnya mereka telah menyimpan kedelai untuk memenuhi kebutuhan selama dua bulan itu.

Petani bertahan

Mereka mengakui memilih kedelai lokal karena saat ini gempuran kedelai impor sangat besar. Kedelai impor mudah ditemukan di pasaran dengan harga murah sementara petani makin sulit bertahan dengan varietas lokal. Bila pasar mereka musnah, harapan agar petani bertahan dengan menanam kedelai lokal pun akan hilang. ”Sekarang pemerintah memberi perhatian pada petani kedelai. Pemerintah mengalokasikan anggaran untuk memberikan subsidi pupuk dan benih. Saya berharap dengan usaha ini, apa yang sudah diberikan pemerintah ke petani tidak sia-sia. Petani bisa memproduksi kedelai lokal dengan lebih baik dan mendapat pasar untuk produk mereka,” kata Atris. Untuk mengembangkan pasar, Attempe telah membuat berbagai inovasi. Misalnya, ukuran tempe, bentuk tempe, hingga jenis keperluan tempe, seperti untuk tempe mendoan dijual dengan ukuran tipis disertai tepung berbumbu yang siap digoreng. Mereka juga bekerja sama dengan salah satu dosen UGM untuk memperbaiki kemampuan ragi. Pasangan ini bukan sekadar bekerja untuk kepentingan sendiri. Mereka juga menggerakkan perempuan di sekitar pabrik untuk membungkus tempe dengan daun. Para perempuan ini cukup mengambil kedelai yang sudah dicampur ragi. Lalu, mereka membungkus tempe itu di rumah masing-masing untuk mendapatkan tambahan penghasilan.

KOMPAS/ANDREAS MARYOTO

Nurhayati Nirmalasari dan Atris Suyantohadi

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.