Mengenal ETF, Produk Reksa Dana di Bursa

Kompas - - EKONOMI - (JOICE TAURIS SANTI)

Produk exchange traded fund reksa dana yang diperdagangkan di bursa sudah ada sejak 10 tahun lalu. Akan tetapi, perkembangan dan popularitasnya tidak seperti reksa dana biasa yang sudah lebih dulu eksis. Di pasar saham Amerika Serikat dan Jepang, produk exchange traded fund (ETF) ini digemari investor ritel dan institusi. Di AS, ETF pertama diluncurkan pada 1993 dan di Jepang pada 1995. ETF pertama di Indonesia diterbitkan tahun 2007. Saat ini, total dana kelolaan ETF sekitar Rp 7 triliun-Rp 8 triliun. Pengelolaan portofolio ETF dapat dilakukan secara aktif maupun pasif. Pengelolaan aktif dilakukan seperti pengelolaan reksa dana biasa, manajer investasi berjual beli saham atau obligasi mengikuti keadaan di pasar. Pengelolaan aktif membuat biaya lebih besar karena ada biaya pada setiap transaksi jual beli portofolio. Pada reksa dana biasa, manajer investasi harus pandai membeli dan menjual saham mengikuti pergerakan di pasar setiap saat, agar reksa dananya berkinerja baik. Reksa dana biasa umumnya dikelola secara aktif. ETF dengan pengelolaan pasif merupakan produk reksa dana yang kebijakan investasinya mengacu pada indeks tertentu. Misalnya, ETF LQ 45. Portofolio dari ETF ini dibuat mirip dengan portofolio saham-saham yang menjadi anggota dari LQ 45, yaitu 45 saham terlikuid di Bursa Efek Indonesia. Kinerjanya pun mirip dengan kinerja indeks LQ 45. Manajer investasi sudah mengatur portofolio ETF mirip dengan LQ 45, tidak perlu sering bertransaksi saham. Ketika saham yang termasuk LQ 45 berubah atau bobotnya berubah, barulah manajer investasi menyesuaikan kembali portofolio ETF-nya menjadi semirip mungkin dengan indeks LQ 45. ETF juga dapat dikelola dengan mengombinasikan pengelolaan aktif dan pasif, agar mendapatkan ETF dengan risiko yang sama seperti risiko pasar. Namun, imbal hasilnya lebih tinggi dari imbal hasil indeks yang diikutinya. Reksa dana biasa tidak dicatatkan di bursa, sementara ETF dicatatkan di bursa. Setiap saat, pergerakan harganya dapat dilihat, persis pergerakan harga saham yang naik turun. Jika harga reksa dana biasa akan terlihat pada akhir hari bursa, harga ETF dapat dipantau sepanjang perdagangan bursa. Isi ETF merupakan sekumpulan saham yang mengacu pada indeks tertentu. Para investor ETF sudah melakukan diversifikasi portofolionya. Sementara risiko berinvestasi pada ETF yang mengacu pada indeks tertentu, mirip dengan risiko yang ada di pasar. Jika salah satu saham dari indeks tersebut anjlok, maka harga ETF tersebut juga turun. Saat ini, masih sedikit produk ETF yang dikeluarkan manajer investasi. Untuk membeli produk ETF di pasar primer atau pasar perdana, minimum pembelian Rp 50 juta. Sementara di pasar sekunder, investasi dapat dimulai dari Rp 50.000 bahkan kurang, tergantung dari harga ETF pada saat pembelian. ETF juga sudah dibeli secara dalam jaringan dari berbagai sekuritas dan manajer investasi penerbitnya. Tertarik?

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.