Reformasi Struktural Bisa Lebih Ekspansif

Kompas - - EKONOMI -

WASHINGTON DC, KOMPAS — Pemulihan ekonomi global yang menguat dan lebih merata tahun ini memberi ruang bagi pengambil kebijakan untuk melakukan reformasi struktural yang lebih ekspansif. Sementara kebijakan moneter dan fiskal diharapkan akomodatif dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Reformasi struktural menjadi salah satu pesan yang paling banyak diangkat dalam Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia 2017 di Washington DC, Amerika Serikat, pekan ini, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Laksana Agung Saputra. Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde dan Presiden Kelompok Bank Dunia Jim Yong Kim, dalam konferensi pers terpisah di Washington DC, Kamis (12/10), juga mengangkat isu tersebut. Pertumbuhan ekonomi global pada 2013-2015 stagnan di 3,4 persen. Tahun 2016, lajunya melambat menjadi 3,2 persen, atau terendah sejak krisis keuangan global pada 2007-2008. IMF dalam Proyeksi Ekonomi Dunia per Oktober 2017 memproyeksikan pertumbuhan global tahun ini dan tahun depan menjadi 3,6 persen dan 3,7 persen. Proyeksi ini lebih baik 0,1 persen ketimbang proyeksi per April 2017. ”Kami melihat pemulihan ekonomi yang menguat, yakni pertumbuhan terjadi lebih merata daripada beberapa tahun belakangan,” kata Lagarde dalam keterangan pers. Sekitar 75 persen dari negara-negara di dunia mengalami penguatan pertumbuhan ekonomi, baik negara dengan perekonomian maju maupun berkembang. Kondisi ini merupakan yang paling merata dalam 10 tahun terakhir. Penggerak pertumbuhan berupa investasi, konsumsi, dan perdagangan. Namun, Lagarde mengingatkan, pemulihan belum tuntas. ”Saran kami, tak ada waktu untuk berpuas diri. Sekarang waktunya untuk mengambil berbagai kebijakan yang benar-benar mendorong masyarakat dan negara untuk mendapat keuntungan dari pemulihan ekonomi yang semestinya dijaga agar berkelanjutan. Dan, isu inilah yang akan kami bawa pada pertemuan menteri keuangan, gubernur bank sentral, dan para pengambil kebijakan lainnya,” kata Lagarde. Untuk itu, Lagarde merekomendasikan agenda kebijakan global dengan prioritas menjaga momentum pemulihan perekonomian. Hal ini dilakukan dengan menjalankan kombinasi tiga pendekatan sekaligus, yakni moneter, fiskal, dan reformasi struktural. Jim Yong Kim mengatakan, perekonomian global mulai berakselerasi setelah pertumbuhan yang lemah dalam beberapa tahun terakhir. Perdagangan mulai meningkat, tetapi investasi masih lemah. Risiko seperti proteksionisme, ketidakpastian kebijakan, atau mungkin turbulensi pasar keuangan yang bisa mengganggu pemulihan, harus diwaspadai. ”Secara umum, kami melihat pertumbuhan meningkat di kebanyakan negara berkembang dan negara maju. Karena itu, mengapa negara-negara butuh membuat investasi penting saat ini. Sekarang waktunya mengimplementasikan reformasi untuk mengatasi potensi pelemahan di masa datang,” katanya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.