Gelang-gelang Pemikat dari Dusun Badat

Masyarakat Dayak Bidayuh di Dusun Badat Baru, Kecamatan Entikong, Kalimantan Barat, masih ada yang mengenakan rentengan gelang tembaga di kaki dan tangan. Pada masa lampau, gelang-gelang itu untuk menambah kecantikan yang bersifat magis spiritualitas dan

Kompas - - NUSANTARA - Oleh EMANUEL EDI SAPUTRA

Dusun Badat Baru di Kabupaten Sanggau merupakan daerah yang berbatasan dengan Malaysia. Saat memasuki Badat Baru, Senin (14/8), di teras-teras rumah penduduk terlihat hal yang menyita perhatian. Beberapa orangtua di kampung itu mengenakan aksesori berupa gelang berwarna keemasan di kedua tangan dan kaki. Gelang itu dikenakan salah satunya oleh Masiana Yom (70). Senin pagi itu, Yom duduk di teras rumahnya bersama cucu dan anakanaknya. Tak banyak lagi aktivitas yang bisa ia lakukan pada usianya yang lanjut. Ia menikmati masa tua bersama orang-orang yang ia cintai. Yom menyapa dengan senyum hangat siapa saja yang menghampirinya. Setiap tamu yang datang rata-rata ingin berbincang dengan Yom karena ingin tahu mengenai gelang unik yang dikenakannya. Diameter gelang keemasan itu berkisar 7-8 sentimeter. Gelang dipakai di pergelangan tangan kanan dan kiri. Juga di kaki, tepatnya di bawah lutut hingga ke betis. Dalam satu rangkaian gelang di tangan dan kaki, berjumlah 10-15 gelang. Gelang yang dipasang di bagian tangan disebut kayep. Adapu yang di kaki disebut asukng. Bagi orang awam yang melihat Yom mengenakan gelang di kaki, yang terbayang adalah sakitnya. Apalagi, gelang-gelang di kaki terlihat kecil dan ketat sehingga otot-otot betisnya tenggelam karena sudah lama menggunakannya. Namun, Yom tidak merasakan sakit.

Sejak belia

”Saya mengenakan gelang ini sejak usia belasan tahun. Orangtua saya yang memasangkan. Anak gadis waktu itu menggunakan kayep dan asukng agar tambah cantik dan makin percaya diri. Kalau pada zaman sekarang, mungkin perbandingannya seperti memiliki jam tangan dan cincin emas,” kata Yom. Tidak ada ritual khusus saat memasang gelang. Awalnya terasa sakit terutama saat memasang yang di kaki karena aliran darah agak terhambat. Namun, orangtuanya membantu mengatasi sakit dengan memijat kaki sehingga lama-lama terbiasa. ”Orangtua kami dulu mendapatkan tembaga sebagai bahan baku gelang dengan menjual ternak dan hasil pertanian ke Malaysia. Mereka berjalan kaki seharian melintasi hutan di perbukitan. Hasilnya ditukar dengan tembaga. Setelah di rumah, mereka olah lagi sehingga menjadi gelang,” kata Yom. Saat masyarakat kampung itu masih mencari kepala manusia (zaman kayau), selain menjadi aksesori sehari-hari, gelang itu digunakan untuk menari dalam ritual di tempat penyimpanan kepala manusia (panca). Namun, sekarang sudah tidak lagi. Sekarang, Yom dan perempuan seangkatan dengannya mengenakan gelang itu untuk menari pada acara syukuran panen. Biasanya sanak saudara mereka yang bekerja di Malaysia akan pulang ke kampung saat acara syukuran panen yang disebut gawai. Mereka menari sembari berpantun dengan mengenakan pakaian adat. Di Badat Baru, tinggal lima perempuan seusia Yom yang mengenakan gelang tersebut. Tinggal mereka melestarikan peninggalan nenek moyang. Seiring berubahnya konsep kecantikan pada generasi muda, gelang tangan dan kaki tidak lagi untuk menambah kecantikan.

Pergelaran budaya

Generasi muda Dusun Badat Baru tidak ada lagi yang mengenakan asukng dan kayep. Kalaupun ada yang mengenakan gelang, hanya di acara pergelaran budaya, misalnya saat memenuhi undangan menari pada acara-acara budaya yang digelar pemerintah. ”Kalau ada generasi muda mengenakan gelang dalam acara pentas seni, itu tidak lama. Setelah menari biasanya langsung dilepas. Mereka banyak yang kesakitan saat mengenakan di kaki. Bahkan, selesai menari ada yang kakinya bengkak,” kata Yom. Seiring perkembangan zaman, generasi muda di kampung itu sudah terbuka wawasannya dan ada yang menempuh pendidikan di luar Kalbar serta bekerja di Malaysia. Mereka mengenakan aksesori modern, misalnya jam tangan dan cincin. Kalaupun menggunakan gelang hanya di pergelangan tangan. Modelnya pun gelang modern. Ketua Perkumpulan Institut Dayakologi John Bamba, mengatakan, ada peribahasa adat ”Gelang sampai ke siku, cincin ada di semua jari”. Hal itu menggambarkan bahwa gelang dan cincin dari tembaga merupakan simbol kesejahteraan masyarakat pada masa lalu. Selain itu juga menjadi simbol keanggunan dan keindahan. ”Kemewahan zaman dulu seperti itu. Kalau sekarang, mungkin itu tidak ada apa-apanya. Namun, pada zamannya, itu merupakan ekspresi kesejahteraan, keanggunan, dan kecantikan kaum perempuan,” ujar John.

Magis spiritualitas

Aksesori gelang pada masyarakat subsuku Dayak di wilayah lain di Kalbar ada juga yang digunakan dalam ritual untuk membantu proses penyembuhan. Misalnya, gelang yang dipakai seorang dukun penyembuh yang disebut belian. Dia menggunakan gelang di kaki dan tangan untuk menyembuhkan penyakit dengan cara dibunyikan dengan gerakan tertentu. Antropolog Kristianus Atok menuturkan, aksesori yang dipergunakan di beberapa daerah cenderung bersifat spiritualitas. Konsep kecantikan dengan aksesori itu di kalangan tertentu tidak bermakna modis, melainkan mempercantik diri secara magis. ”Saya menyebutnya sebagai magis-spiritualitas,” kata Atok. Logam tembaga dipilih karena tidak mudah berkarat. Selain itu dinilai dekat dengan alam dan bumi. Ada juga aksesori yang menggunakan taring binatang hutan. Bisanya taring binatang buas dipilih sebagai simbol ketangguhan.

KOMPAS/EMANUEL EDI SAPUTRA

Masiana Yom (70), warga Dusun Badat Baru, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, mengenakan gelang di tangan dan kakinya, Senin (14/8). Itu merupakan tradisi yang kini telah ditinggalkan generasi muda setempat.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.