Kayu Galam Dijarah dari Cagar Alam Teluk Apar

Kompas - - NUSANTARA - (PRA)

SAMARINDA, KOMPAS — Pengangkutan 156 meter kubik kayu hasil jarahan dari Cagar Alam Teluk Apar, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, digagalkan. Kayu jenis galam yang akan dibawa ke Madura ini harganya Rp 1 miliar lebih. Satu kapal disergap, tetapi satu kapal lain berhasil kabur. Kepala Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPHLHK) Wilayah Kalimantan Subhan mengatakan, dua orang ditetapkan sebagai tersangka, yaitu A (44) dan CF (41), pengemudi kapal dan pembeli kayu. Pihaknya masih mencari satu kapal yang kabur yang sejauh ini diketahui belum dimuati kayu. ”Kedua tersangka belum mau buka mulut terkait satu kapal yang lolos itu. Beberapa kali ada informasi penjarahan di Cagar Alam Teluk Apar. Ada kemungkinan mereka tahu. April lalu, misalnya, satu kapal lain, lolos dari kejaran,” kata Subhan dalam jumpa pers, Jumat (13/10). Pekan lalu, pihaknya bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim dan sejumlah pihak, melacak informasi pembalakan liar di Cagar Alam Teluk Apar, Paser. Ternyata benar. Akhirnya, Rabu lalu, Kapal Layar Motor (KLM) Karya Indah disergap saat memuat kayu. Kapal ini memuat 156 meter kubik atau 2.139 batang (balok bulat) kayu galam. Kayu itu tidak dilengkapi dokumen sehingga dinyatakan ilegal. Kayu-kayu sepanjang 4 meter dengan diameter 30-40 cm ini ditebang dari cagar alam untuk dibawa ke Madura. Komandan Brigade Enggang Seksi BPPHLHK Wilayah Kalimantan, Lili Kardiansyah, menuturkan, kedua tersangka tidak bekerja sendiri. ”Ketika kami menyergap, ada beberapa orang penebang melarikan diri. Kami masih mencoba melacak,” kata Lili. Kayu galam bukan kayu favorit di Kaltim. Namun, itu jenis kayu serbaguna dan laku dijual. Di Jawa dan Madura, kata Subhan, 156 meter kubik kayu galam berharga Rp 1 miliar lebih.

Informasi bocor

Kepala BKSDA Kaltim Sunandar Trigunajasa menyatakan, penjarahan kayu di cagar alam sulit diungkap. Selain lokasi terpencil dan harus menggunakan kapal cepat, bocornya informasi menjadi tantangan tersendiri. ”Meski bisa menangkap satu kapal, tetapi ada yang lolos. Kami di jajaran penjaga hutan, bekerja sama dalam tim. Kali ini kami lebih cepat dari pembalak liar. Harus begitu karena hutan kita hampir habis,” katanya. Dengan pengungkapan kasus ini, sudah 15 kasus serupa di Kaltim dan Kaltara yang ditangani BPPHLHK Wilayah Kalimantan, selama Januari-Oktober 2017. Kasus terakhir, pertengahan Juni lalu, disita 27 meter kubik kayu ulin (olahan). Dalam kasus itu, JM (28), pengemudi kapal, ditetapkan sebagai tersangka. JM hendak membawa kayu-kayu ulin yang berjumlah 264 balok dan papan aneka ukuran ke Pangkep, Sulawesi Selatan. JM berangkat dari Pangkep dalam kondisi kapal kosong bersama enam orang lain. Kapal bermuatan kayu-kayu ulin tersebut disergap di perairan Tanjung Mangkaliat, Kabupaten Berau. Kayu diperkirakan ditebang dari kawasan hutan di Batu Putih, Kabupaten Berau. Ulin adalah kayu paling diminati para penjarah di Kaltim.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.