Reenactor, ”Perang” yang Senang

Kisah perang memang membawa memori pahit. Namun, tak bisa dimungkiri bahwa kejadian itu pernah ada dan kita perlu belajar dari hal itu. Bersama Paguyuban Reenactor Indonesia, belajar sejarah perang bisa sedemikian menyenangkan, tanpa perlu mengerutkan ken

Kompas - - HALAMAN DAPAN - OLEH FRANSISCA ROMANA NINIK

Kisah perang memang membawa memori pahit. Namun, tak bisa dimungkiri bahwa kejadian itu pernah ada dan kita perlu belajar dari hal itu. Bersama Paguyuban Reenactor Indonesia, belajar sejarah perang bisa sedemikian menyenangkan.

Cuaca di Jalan Kali Besar, di kawasan Kota Tua, Jakarta, Minggu (8/10) pagi, itu terasa menyengat. Meski peluh bercucuran, Boy Aris Tjahyono antusias mengenakan satu demi satu seragam dan perlengkapan Battalion Airborne 101st Divisi 506th Paratrooper Amerika Serikat. Seragam dan perlengkapan itu dikenakan pasukan AS saat Perang Dunia II. Tak jauh dari tempat Boy bersiap-siap, beberapa anggota lain juga sibuk mengenakan seragam dan perlengkapan pasukan yang dikenakan saat PD II. Ada tentara Jerman dari Panzer Lehr Division. Ada pula tentara Inggris yang mengenakan seragam untuk medan perang tropis Pasifik. ”Ini ajang gila bareng. Saya sering iseng dandan di rumah, minta difoto istri. Saya usul foto seperti ini untuk foto keluarga, dia menolak. Ha-ha-ha,” tutur Boy. Anggota Paguyuban Reenactor Indonesia di Jakarta sekitar 30 orang. Biasanya mereka bertemu saat akhir pekan untuk berfoto atau merekam video. Anggotanya beragam, mulai dari mahasiswa, karyawan pemerintah, hingga karyawan swasta. Komunitas sejenis juga terdapat di sejumlah kota di Indonesia, antara lain Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Semarang, Malang, Manado, Bogor, Bali, Magelang, dan Temang- gung. Paguyuban semakin aktif pada 2009 dan booming pada 2013. Boy mengatakan, paguyuban tersebut berangkat dari para penggemar permainan airsoft gun. Namun, lebih dari itu, ketertarikan terbesar adalah soal sejarah, terutama sejarah perang. Kalau sejarah itu hanya dibaca lewat buku teks tebal yang hanya berisi tulisan, tentulah membosankan. Akhirnya, reka ulang kejadian perang menjadi pilihan menarik. Namun, memainkan reka ulang perang bukan perkara hanya berpose ala tentara yang mengacungkan senjata di medan laga. Di balik foto atau video yang sempurna dari sebuah reka ulang, ada serangkaian riset mendalam yang dilakukan para anggota Paguyuban Reenactor Indonesia. ”Misalnya kami ingin memainkan Perang Vietnam. Jadi, seragam tentaranya harus ini, senjatanya harus ini. Di luar itu tidak. Contoh lain, main perang Battle of St Lo di Perancis tahun 1944. Yang turun Ranger, kalau pakai seragam Airborne, ya, salah. Badge harus pas. Helm pun begitu. Detail satuan mana yang turun juga harus paham,” papar Boy. Pemahaman itu didapat dari membaca berbagai referensi. Mencari sumber di YouTube atau mesin pencari Google adalah cara minimal. Membaca buku adalah kewajiban. Mengunjungi museum atau berbincang dengan para veteran, terutama untuk perang kemerdekaan Republik Indonesia, menjadi pengayaan sumber.

Olok-olok

Jika ada anggota yang salah mengenakan perlengkapan, mereka menjadi sasaran olok-olok. Jadi, anggota harus memiliki alasan kuat mengapa dia mengenakan seragam atau perlengkapan dalam sebuah reka ulang. Selama ada bukti dan referensi, akan dianggap sah. Para anggota paguyuban juga saling tukar informasi dan referensi yang mereka miliki. Yang dikejar adalah keaslian atau otentisitas sehingga ketika rencana sudah matang, reka ulang pun menyerupai kejadian asli. Setelah mantap dibahas melalui grup di WhatsApp, akhirnya mereka turun ke lapangan. ”Karena mengejar reka ulang otentik, kami termotivasi untuk mencari data yang paling benar,” lanjut Boy. Hosea Aryo Bimo, anggota lain, mengatakan, mereka paling sering mereka ulang Perang Dunia II, Perang Vietnam, dan Perang Kemerdekaan RI. Perlengkapan untuk perang-perang itu terbilang lebih mudah dicari. Para anggota memiliki perlengkapan yang berasal dari relik dan replika. Relik artinya benda-benda yang asli dipakai saat peperangan. Hosea memiliki celana milik kakeknya, tentara Indonesia tahun 1950. Dia juga punya seragam tentara Belanda berupa baju dan sabuk peluru. Replika adalah barang-barang tiruan aslinya. Ada buatan lokal, ada yang diimpor dari luar negeri, terutama Hongkong dan China. ”Sepatu dan celana ini buatan Yogyakarta,” ujar Boy. Sepatu adalah jenis jump boot untuk terjun payung. Celana seragam pasukan M42 Airborne AS. Tas tempat magasin senapan replika dari China. Untuk senjata, mereka sering menggunakan senjata dummy dari kayu. Hosea mencontohkan, senapan M1 Garand untuk jenis airsoft paling murah Rp 7 juta-Rp 8 juta. Dummy senjata itu dari kayu hanya beberapa ratus ribu rupiah. ”Yang penting bisa gaya untuk foto. Enggak perlu bisa menembak beneran juga,” katanya sambil tertawa. Sering anggota paguyuban juga memodifikasi sendiri perlengkapan perangnya. Misalnya dari helm Vespa dibuat menjadi helm tentara Jerman. Dari luar tidak akan kelihatan bedanya. Sementara di dalamnya ada busa empuk. Baju seragam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) juga populer karena paling gampang dicari. Hosea menuturkan, dengan modal tak sampai Rp 500.000 sudah bisa memperoleh seragam lengkap. Sementara untuk seragam SS Panzer butuh hingga Rp 1,5 juta untuk celana, jaket, dan topi.

Obyektif

Acara ”wajib” mereka adalah saat peringatan Hari Pahlawan pada 10 November atau Serangan Oemoem 1 Maret. Saat detik-detik Proklamasi, mereka juga berkumpul untuk mengisi acara. Pada Februari 2018, Paguyuban Reenactor Indonesia akan menggelar jambore nasional di hutan pinus Bukit Sentul. Tempat itu dipilih karena tipikal untuk Perang Eropa. Mereka akan mereka ulang Perang Dunia II setelah D-Day sebelum Operasi Market Garden pada Juni-September 1944. Tidak hanya seragam, perlengkapan, dan aksi yang dibuat mirip, tetapi juga makanannya. ”Jangan harap makan gado-gado atau tongseng, ya,” kata Hosea. Yang jelas, Paguyuban Indonesia Reenactor ini tidak sekadar bersenang-senang. Hosea mengatakan, reka ulang menjadi cara gampang belajar sejarah. Di banyak negara maju, reka ulang sudah menjadi bagian pelajaran sejarah untuk tahu pasti gambaran masa lalu. Ini belum jamak di Indonesia. ”Kita butuh melihat. Pelajaran secara visual lebih mudah diterima, diresapi. Kita juga bisa belajar melihat sejarah secara obyektif. Saya sering memilih seragam Belanda dan mendapat cibiran. Lho, tidak bisa dimungkiri juga karena dalam sejarah kita tentara Belanda memang ada. Kalau sampai dicibir, berarti saya mainnya bagus. Harus all out, kan? Ha-ha-ha,” lanjut Hosea. Ada fakta-fakta sejarah di luar yang diajarkan sekolah yang bisa diperoleh dari paguyuban ini. Ada senang-senang yang bisa dilakukan bersama berdasarkan fakta sejarah itu. Kata Hosea, jangan sampai nyemplung ke komunitas itu jika tidak ingin ketagihan. ”Ini racun,” ujarnya, terbahak.

Searah jarum jam:

Komunitas Indonesia Reenactor saat berkumpul di kawasan Kota Tua, Jakarta, Minggu (8/10). Replika senjata. Seragam.

FOTO-FOTO: KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.