Gayatri, Menembus Dinding Sejarah

Kompas - - AKHIR PEKAN BUKU - (PUTU FAJAR ARCANA)

Aktris Sha Ine Febriyanti harus berulang-alik menembus dinding sejarah yang tebal dan berserak. Detik ini ia memasuki studio tarinya, lalu ngevlog di depan kamera, detik berikutnya menjelma Dyah Dewi Gayatri Kumara Rajassa, yang hidup antara abad ke-13-14 Masehi. Sebuah peran dengan karakter menantang, yang tidak mudah ditaklukkan. Sampai pada pentas Minggu (8/10) di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Jakarta, Ine jatuh-bangun untuk keluar-masuk karakter tokoh Dia dan Gayatri. Apalagi selama ini Ine dikenal memiliki karakter dasar yang cenderung ”keras” di atas panggung. Harus diakui, katanya, memerankan tokoh Gayatri membuatnya lelah bukan kepalang. ”Capek karena harus menekan karakter yang cenderung meledak dari saya. Sementara Gayatri, perempuan jawa yang halus, tetapi berwibawa,” ujar Ine seusai pentas monolog Gayatri-Reinkarnasi yang disutradarai Yustiansyah Lesmana. Pentas ini memadukan unsur-unsur teater, seperti musik, nyanyian, dan tari yang dikomposisi oleh koreografer kawakan Elly D Luthan. Panggung GIK yang terbatas justru memberi ruang kedekatan pementasan monolog antara aktor dan audiens. Sutradara Yustiansyah memasukkan unsur-unsur kekinian, seperti kamera, meja kerja, kapstok, studio latihan, serta tata cahaya, yang mengubah panggung (kecil) menjadi cukup artistik, dalam pengertian yang sangat imajinatif. Bahkan, permainan kain menjadi unsur penting yang mengantarkan imajinasi ke masa-masa Kerajaan Singasari dan Majapahit. Kain tidak hanya simbolik, tetapi menjadi ikonik Jawa klasik sehingga cukup kuat menjadi properti untuk memasuki sejarah. Gayatri tak banyak disebut dalam silsilah raja-raja Singasari dan Majapahit. Ia hanya diketahui sebagai Rajapatni, pendamping Raden Wijaya yang mendirikan Majapahit pada 1293. Ayahandanya Kertanegara, raja terakhir Singasari, yang terbunuh tahun 1292 dalam penyerangan oleh Jayakatwang dari Kerajaan Kediri. Kitab Pararathon dan Negarakertagama, yang kemungkinan besar ditulis di masa Majapahit, lebih banyak mengulas silsilah raja-raja, yang cenderung patriarkis. Padahal, ada raja perempuan Tribhuwana Tunggadewi, yang tak lain adalah anak Gayatri, yang kemudian melahirkan raja besar Hayam Wuruk. ”Saya berusaha menggumuli sosok yang hidup delapan abad lalu. Tentu saja tidak mudah. Kita tahu, sejarah bagaikan negeri asing yang tidak bisa kita kenali dengan pasti. Bahkan, sejarah hanya mencatat kebenaran menurut kepentingan yang berkuasa saat itu….” tutur Ine membuka monolog ini. Dasar ini menjadi fondasi kuat untuk menguak peran penting Gayatri dalam sejarah silsilah keberadaan raja-raja besar di masa lalu.

Tanpa ambisi berkuasa

Ketika suaminya, Raden Wijaya, wafat pada usia 46 tahun, sebagai Rajapatni, Gayatri menolak mengambil takhta. Ia justru memberikannya kepada Jayanegara, anak tirinya, putra dari Dara Petak. Di situ, kesabaran, kehalusan budi, dan kecerdasan Gayatri justru semakin muncul. Ia mendekati Gajahmada, seorang pengawal raja dari rakyat biasa, yang memiliki ambisi dan kecerdasan memimpin. Bersama Gajahmada, Gayatri tetap memegang teguh cita-cita ayahandanya, Kertanegara, untuk mempersatukan Nusantara. Itulah yang kemudian mengejawantah dari Mahapatih Gajahmada saat menggaungkan sumpah Amukti Palapa, untuk mempersatukan Nusantara di masa pemerintahan Hayam Wuruk, cucu dari Gayatri. Di bawah Hayam Wuruk dan Gajahmada, kekuasaan Majapahit bahkan mencapai Filipina dan negara-negara di sekitar Asia Tenggara. Sejarah kemudian mengisahkan Gayatri menghilang. Ia tak hanya meninggalkan ambisi dan kesempatan untuk menjadi raja di Majapahit, tetapi menjalani laku moksa, dengan menjadi biksuni. Ia menanggalkan segala keduniawian dan memilih mendekat kepada Sang Pencipta. ”Apalah arti kemegahan? Jika yang diwariskan hanyalah ketakutan, ambisi, kebencian. Apalah arti kemenangan jika dicapai dengan cara yang sempit, menguat tapi sekaligus menyimpan kerapuhan.” Ini adalah dialog kunci, yang menjadi jembatan penghubung masa lalu dan masa kini. Ajaran rendah hati dari seorang Rajapatni, yang tak ba- nyak dikenal dalam peta sejarah di Nusantara. Monolog ini tak hanya mengangkat narasi tersembunyi dalam sejarah Nusantara, tetapi memberi api dengan menelusur cikal bakal persatuan Nusantara (Indonesia) dalam keberagaman. ”Mungkinkah Indonesia adalah cita-cita Singasari dan Majapahit. Bukankah bangsa ini lahir dari kesatuan yang sama. Jangan-jangan inilah masa yang kuharapkan. Masa di mana kesadaran akan keberagaman muncul, bukan sebagai paksaan….” ujar Dia, representasi dari manusia Indonesia kekinian. Di situlah teater menjadi pisau bedah yang lembut untuk meneropong perut sejarah dan membacanya dengan kecerdasan akal budi.

ARSIP IMAGE DYNAMICS

Gayatri oleh Sha Ine Febriyanti

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.