Menyoal Pasang Laut

Kompas - - Halaman Dapan - Brigitta Isworo Laksmi

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperingatkan masyarakat agar waspada terhadap rob yang diperkirakan tinggi pada Rabu ini. Setiap peristiwa bulan purnama, terjadi pasang laut. Dua peristiwa ini berkaitan erat. Diperkirakan, pasang kali ini lebih kuat daripada biasanya.

Kali ini, Bulan berada di titik terdekat dengan Bumi (perigee) sehingga tampak lebih besar (super). Di negara empat musim, gerhana Bulan total (GBT) ini adalah purnama ketiga dari empat purnama dalam satu musim. Padahal, biasanya hanya tiga kali purnama dalam satu musim—berlangsung bulan.

Purnama ketiga itu disebut sebagai pengkhianat. Sebutan blue untuk pengkhianat diduga berasal dari istilah Inggris kuno belewe yang berarti ’pengkhianat’ karena purnama ketiga melanggar kebiasaan tiga purnama dalam satu musim (Kompas, 30/1). Faktor jarak Bulan-Bumi yang amat dekat kali ini merupakan faktor penting penyebab pasang laut yang tinggi.

Sama dengan Bumi yang memiliki gaya gravitasi, Bulan pun

gaya gravitasi. Gaya gravitasi Bulan ini merupakan gaya tarik yang mengarah ke pusat Bulan. Rob atau pasang air laut terjadi karena adanya gaya gravitasi Bulan.

Gaya gravitasi Bulan itu menarik air laut ke arah Bulan. Lantas, mengapa manusia dan yang lain tidak tertarik ke arah Bulan? Peneliti pada Pusat Sains Antariksa, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Agustinus Gunawan Admiranto, mengatakan, air laut adalah benda cair sehingga lebih mudah berubah bentuk. Pada manusia, gaya tarik Bumi jauh lebih kuat daripada gravitasi ke Bulan.

Gaya gravitasi Bulan bekerja pada obyek luas (extended object). Karena itu, permukaan air yang ada di posisi tegak lurus sumbu Bumi-Bulan akan tertarik termampatkan sehingga terjadi surut. Gaya gravitasi Bumi pun lebih besar daripada gaya gravitasi Bulan karena massa Bumi jauh lebih besar daripada Bulan. Maka, air laut tetap berada di Bumi. ”Kalau gravitasi Bulan lebih besar, sudah dari dulu air laut ’tertarik’ semua ke sana,” katanya.

Air pasang juga dipengaruhi momen inersia Bumi. Jadi, ada gaya sentrifugal (mengarah ke luar) sehingga air bergerak ke luar. Gaya gravitasi dan inersia itu mendorong air laut mengarah ke luar permukaan Bumi (maka terjadi pasang air laut).

Perbedaan gravitasi

Saat bulan purnama, posisi Matahari segaris dengan Bumi dan Bulan serta gaya gravitasi Matahari jauh lebih besar daripada gravitasi Bulan. Namun, pasang air laut adalah soal perbedaan gravitasi antara permukaan Bumi berlawanan (pada permukaan yang berhadapan dengan Bulan dan yang ada di balik Bumi).

Radius Bumi hanya 0,005 persen dari jarak Matahari-Bumi sehingga perbedaan gaya tarik amat kecil dari dua permukaan itu. Sebaliknya, radius Bumi dibandingkan dengan jarak BumiBulan sekitar 1,7 persen. Maka, meski gaya gravitasi Bulan lebih kecil daripada Matahari, gaya itu lebih kuat sebagai penyebab pasang laut.

Kondisi pasang tersebut akan bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain sesuai pergerakan Bulan mengelilingi Bumi. Maka, dalam waktu 24 jam 50 menit, satu lokasi akan mengalami dua kali pasang dan dua kali surut.

Fenomena bulan purnama pun amat dekat dengan beragam mitos. Sejumlah mitos itu, antara lain, mengaitkan bulan purnama dengan siklus menstruasi, mengganggu pola tidur, memicu agresivitas hewan, bahkan disebut menyebabkan banyak penderita sakit jiwa kambuh saat bulan purnama.

Muncul pula istilah lunatic mind terkait dengan gangguan kejiwaan (lunar berarti ’bulan’). Hampir semua mitos tersebut telah diruntuhkan melalui penelitian. Hal yang pasti adalah saat listrik belum ditemukan, sinar terang bulan purnama memengaruhi pola tidur yang bisa memicu gangguan emosi.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.