Ibu Kota Sambut Gerhana Bulan

Kompas - - Halaman Dapan -

JAKARTA, KOMPAS — Ibu Kota bersiap merayakan ilmu pengetahuan lewat fenomena langka Bulan super darah biru.

”Setiap tahun, kami adakan (pengamatan gerhana), tetapi selama ini yang mengadakan biasanya Planetarium (Taman Ismail Marzuki/TIM) dan Museum Iptek (Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi/PP-Iptek TMII),” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Tinia Budiati, Selasa (30/1), di Jakarta.

Tahun ini, menurut dia, Gubernur DKI Anies Baswedan ingin masyarakat secara lebih luas mengamati dan memahami peristiwa ilmiah tersebut.

Karena itu, selain di Planetarium TIM di Jakarta Pusat dan PP-Iptek TMII di Jakarta Timur, pengamatan Bulan super darah biru diadakan di kawasan Monumen Nasional (Monas), Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan di Jakarta Selatan, Taman Fatahillah di Jakarta Barat, Ancol Taman Impian di Jakarta Utara, serta di Kepulauan Seribu.

Gerhana Bulan total diperkirakan terjadi pukul 19.51-21.07, dengan puncaknya pukul 20.29.

Bulan berlatar Monas

Di Monas, pengunjung berkesempatan menyaksikan Bulan super darah biru di tiga tempat, yaitu di area terbuka yang gratis, serta di cawan dan puncak tugu Monas dengan membayar tiket. Kepala Subbagian Tata Usaha Unit Pengelola Kawasan Monas Arista Nurbaya mengatakan, retribusi ke cawan tugu Monas sebesar Rp 5.000 per orang dewasa dan Rp 2.000 per orang untuk anak-anak. Jika ingin sampai ke puncak, pengunjung dewasa membayar biaya tambahan Rp 10.000 per orang, sedangkan pengunjung anak-anak menambah Rp 2.000 per orang.

Namun, kapasitas maksimal di pelataran cawan tugu hanya 400 orang, sedangkan di puncak sekitar 100 orang. Petugas menghentikan tambahan pengunjung ke cawan dan puncak tugu jika jumlah pengunjung sudah maksimal. ”Daripada kesulitan melihat gerhana dari tugu, kami menyarankan pengunjung mengamati dari area lapang saja,” ujar Arista.

Pengelola Monas menyiapkan lokasi pengamatan di zona ruang agung, yaitu pelataran di sisi barat. Dari tempat ini, pengunjung, terutama fotografer, bisa mengabadikan gerhana Bulan dengan

Sejumlah tempat wisata di Jakarta menawarkan lokasi pengamatan Bulan super darah biru, Rabu ini. Lokasi itu tidak hanya terpusat di tempat yang selama ini memang untuk pengamatan astronomi.

tambahan obyek tugu Monas. Namun, Arista mempersilakan pengunjung di area ruang terbuka untuk memilih titik yang dinilai paling cocok untuk mengamati.

Di sisi lain, pengelola juga akan mematikan lampu bertiang tinggi (25 meter) di 22 titik agar mengurangi polusi cahaya dalam pengamatan. Namun, lampu-lampu bertiang rendah (6 meter) tetap dinyalakan demi menjaga keamanan. Lampu-lampu yang menerangi badan tugu, kecuali lampu yang menyorot ke lidah api emas, juga dimatikan.

Untuk merayakan fenomena alam langka ini, Monas buka hingga pukul 23.00. Biasanya, Monas ditutup pukul 22.00. Namun, Arista menegaskan, tak boleh ada pengunjung yang menginap di kawasan Monas.

Sekitar 100 petugas pengamanan dari internal Monas serta TNI dan Polri juga akan bersiaga saat pengamatan gerhana Bulan.

Namun, tidak ada ahli atau pemandu di Monas yang akan memberikan penjelasan kepada pengunjung soal fenomena gerhana Bulan. Teropong pengamatan juga tak tersedia. Arista mempersilakan pengunjung membawa alat pengamatan sendiri. Ia juga menyarankan pengunjung membawa payung dan jas hujan untuk mengantisipasi hujan.

Dua teropong di Ancol

Di Ancol, dua teropong milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) disiapkan untuk pengunjung. Kegiatan pengamatan juga bakal diisi materi edukasi, yang menurut rencana oleh Deputi Bidang Geofisika Muhamad Sadly, Kepala Pusat Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu Jaya Murjaya, serta Kepala Bidang Geofisika Potensial dan Tanda Waktu Hendra Suwarta Suprihatin.

”Kepala BMKG (Dwikorita Karnawati) direncanakan juga akan hadir,” ujar Rika Lestari dari humas Ancol.

Rika mengatakan, pengamatan gerhana berpusat di Jembatan Hati, Beach Pool.

Pengunjung dengan kendaraan diminta memarkir kendaraan di Carnaval yang bisa menampung 800 mobil dan 1.000 sepeda motor. Dari lokasi tersebut, ada bus Wara-Wiri yang akan membawa pengunjung ke titik pengamatan dan mengantar kembali ke lokasi parkir.

Rika menyarankan pengunjung yang berencana ikut menjadi saksi Bulan super darah biru di Ancol datang menjelang sore hari. ”Di area Jembatan Hati, kapasitas pengunjung sekitar 300 orang, tetapi di area pantai bisa 1.000 orang,” ucapnya.

Di Ancol, pengunjung dikenai tiket masuk Rp 25.000 per orang serta Rp 25.000 per mobil dan Rp 15.000 per sepeda motor.

Festival kuliner

Warga yang berada di wilayah Jakarta Selatan dapat mengamati Bulan super darah biru di Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan, Jagakarsa. Namun, pengamatan di lokasi ini tak dilengkapi dengan teleskop.

Kepala Unit Pengelola PBB Setu Babakan Rofiqoh Mustafa mengatakan, warga yang akan mengamati fenomena alam itu bisa berkumpul di area amfiteater PBB Setu Babakan. Di area itu pengamatan tidak akan terhalang gedung-gedung tinggi atau pepohonan karena merupakan ruang terbuka.

Rofiqoh berharap cuaca pada Rabu ini cerah sehingga masyarakat bisa melihat dengan jelas fenomena tersebut.

Meskipun tidak menyediakan teleskop, di kawasan Setu Babakan akan diramaikan dengan festival kuliner dengan menu selendang mayang, dodol betawi, dan kerak telor.

Lokasi parkir kendaraan di Setu Babakan juga luas. Khusus untuk pengamanan selama pengamatan gerhana Bulan, akan dikerahkan 29 petugas.

”Kami juga menyiapkan layar proyektor seandainya kami mendapatkan link pengamatan dari Lapan. Namun, rencana ini belum pasti, baru akan dimatangkan besok,” kata Rofiqoh.

Film pendek gerhana

Sebanyak dua teropong dapat dipakai publik secara bergantian di PP-Iptek, sedangkan satu teropong sisanya akan digunakan sebagai input di layar yang dapat ditonton semua pengunjung.

”Layar televisi digunakan agar pengunjung dapat menyaksikan gerhana Bulan bersama-sama,” kata Direktur PP-Iptek M Syachrial Annas ketika ditemui di kantornya, kemarin.

Sebelum kegiatan pengamatan bersama, Syachrial mengatakan, akan ada pengantar penjelasan mengenai fenomena gerhana Bulan total dari tim PP-Iptek dan juga pemutaran film pendek tentang gerhana Bulan agar pemahaman masyarakat meningkat mengenai fenomena alam ini.

Koordinator tim PP-Iptek Wahyuningsih mengatakan, teropong yang digunakan berukuran 8 inci, 6 inci, dan 14 sentimeter. Adapun pelataran gedung dinilai tepat sebagai tempat pengamatan sebab tidak ada pepohonan yang menghalangi pandangan.

Wahyuningsih menambahkan, jika hujan, mendung, atau cuaca tidak mendukung, pihaknya akan mengadakan diskusi mengenai fenomena gerhana Bulan sebagai acara pengganti.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Pegawai Planetarium, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (30/1), mengeset teleskop yang akan dipergunakan untuk melihat gerhana Bulan. Menurut rencana, malam ini di tempat tersebut akan diadakan nonton bareng gerhana Bulan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.