Memaknai Perjalanan Presiden

Kompas - - Opini -

Kemarin, Presiden Joko Widodo mengakhiri kunjungan kenegaraannya ke lima negara: Sri Lanka, India, Pakistan, Bangladesh, dan terakhir ke Afghanistan.

Dari kunjungan ke negara-negara tersebut, kiranya kunjungan ke Afghanistan adalah yang paling menarik perhatian dan memberikan makna yang sangat dalam, sekaligus pelajaran. Bukan berarti bahwa kunjungannya ke empat negara lainnya tidak menarik dan tidak sarat makna. Tidak demikian.

Kunjungan ke negara-negara tersebut tetaplah mempunyai arti penting; terutama dalam usaha untuk meningkatkan dan mempererat hubungan persahabatan. Juga tentu kunjungan tersebut membuka peluang, misalnya, untuk meningkatkan hubungan ekonomi, meningkatkan hubungan perdagangan.

Perlu dicatat bahwa Indonesia memiliki catatan historis yang tidak boleh dilupakan dengan negara-negara tersebut sejak awal-awal republik ini berdiri. Hubungan Indonesia dengan India, misalnya, bisa ditarik jauh ke belakang. Pada abad ke-11, ketika Raja Rajendra dari Dinasti Chola berkuasa di India, beberapa kali menyerang Sriwijaya untuk melindungi perdagangan India dengan China. Banyak pengaruh India, seperti agama, bahasa, seni, dan arsitektur, di Indonesia.

India juga memberikan sumbangan dan dukungan ketika Indonesia berjuang untuk memerdekakan diri. Nehru dan Soekarno kemudian berkolaborasi mendirikan Gerakan Non-Blok dalam KAA di Bandung pada 1955.

Hubungan Indonesia dengan Pakistan pun sangat historis. Pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, pemimpin Pakistan Muhammad Ali Jinnah memberikan dukungan penuh. Hubungan Indonesia dengan Sri Lanka pun bisa dilacak jauh ke belakang. Artinya, ada hubungan dekat di antara kedua negara. Demikian pula dengan Bangladesh.

Selain untuk mempererat hubungan, kunjungan Presiden itu juga menunjukkan simpati dan kepedulian, sekaligus bisa menarik manfaat, pelajaran dari kunjungan tersebut. Misalnya, kunjungan Presiden ke Afghanistan. Kita tahu Afghanistan, negeri yang hingga sekarang ini masih harus berjuang keras menyelesaikan persoalan dalam negeri untuk membangun persatuan, saling pengertian antarsuku, antarkelompok, antarklan, dan antar-aliran.

Afghanistan bisa dijadikan pelajaran sangat berharga. Bahwa pertikaian dalam negeri—apa pun alasan dan sebabnya, entah itu agama, suku, ras, ataupun etnik serta politik—hanya akan menghancurkan negeri. Konflik karena alasan SARA akan sangat sulit diselesaikan. Indonesia adalah negeri majemuk, plural baik dari suku, agama, ras, etnis, maupun golongan. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk terus memelihara persatuan dan kesatuan, toleransi, saling pemahaman dan pengertian, serta saling menghormati untuk memelihara keutuhan negara ini.

Kita sangat bersimpati kepada Afghanistan dan memberikan dukungan untuk menyelesaikan persoalan mereka. Kita juga berharap persoalan mereka segera selesai. Pada saat yang bersamaan, kita juga harus belajar dari tragedi Afghanistan.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.