Butir-butir Transaksi Bin Salman-Alwaleed

Kompas - - Internasional - Musthafa Abd Rahman Dari Kairo, Mesir

Pembebasan miliarder Arab Saudi, Pangeran Alwaleed bin Talal, dari tahanan otoritas Kerajaan Arab Saudi, Sabtu (27/1) terus menuai perhatian publik dunia Arab dan internasional. Pembebasan yang terkesan begitu mendadak itu tidak mungkin terjadi tanpa ada transaksi yang diterima kedua pihak.

Tokoh sekelas Pangeran Alwaleed dan Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), yang mewakili Kerajaan Arab Saudi, sudah pasti sama-sama berusaha tidak kehilangan muka dengan cara mencapai kesepakatan yang diterima dan memuaskan kedua pihak (win-win solution).

Apalagi, dalam beberapa pekan terakhir ini, sudah cukup terdengar luas adanya perundingan alot antara Alwaleed dan MBS dalam upaya mencapai kesepakatan dengan imbalan pembebasan Alwaleed. Bahkan, beberapa kali perundingan tersebut mengalami jalan buntu.

Akan tetapi, tiba-tiba, Sabtu lalu, bergulir berita soal pembebasan Alwaleed dan sejumlah pangeran lainnya dari tempat tahanannya di hotel mewah, Ritz-Carlton, Riyadh. Menteri Keuangan Arab Saudi Mohammed al-Jadaan pada harian Al Hayat edisi Minggu (28/1) mengungkapkan, pemerintah telah mendapatkan aset dan dana segar sebagai kompensasi dari pembebasan sejumlah pangeran itu. Sebagian besar aset yang diperoleh dari para pangeran itu berupa aset properti yang masih membutuhkan waktu untuk memberdayakan aset properti tersebut.

Dalam pernyataan yang dirilis, Selasa (30/1), Jaksa Agung Arab Saudi Sheikh Saud bin Abdullah al-Mojeb memaparkan bahwa Pemerintah Arab Saudi meraup sekitar 106 miliar dollar AS (Rp 1.421 triliun) dalam kesepakatan keuangan dengan para pengusaha dan pejabat yang ditangkap dalam kasus dugaan korupsi pada 4 November lalu.

”Perkiraan nilai kesepakatan hingga saat ini mencapai lebih dari 400 miliar riyal Arab Saudi (106 miliar dollar AS atau Rp 1.421 triliun) berupa berbagai jenis aset, termasuk real estat, entitas komersial, sekuritas, uang, dan aset-aset lain,” demikian pernyataan Mojeb yang dilansir kantor berita Arab Saudi, SPA.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu, Mojeb menyampaikan, Pemerintah Arab Saudi menargetkan bisa meraup dana 100 miliar dollar AS yang diduga berasal dari korupsi para pangeran dan pengusaha yang ditangkap, awal November lalu.

Kasus spesial

Kasus Pangeran Alwaleed yang ikut ditangkap pada awal November itu berbeda dengan kasus para pangeran lainnya. Otoritas Arab Saudi ternyata tidak mudah mendapatkan dana segar atau aset likuid lainnya dari Pangeran Alwaleed karena sebagian besar asetnya berupa jaringan saham dan obligasi di manca negara. Menarik saham atau obligasi milik Alwaleed bisa mengganggu stabilitas pasar dunia dan kepentingan bisnis banyak negara.

Realitas inilah yang kemudian disadari otoritas Arab Saudi dan MBS. Realitas itu pula yang mendorong MBS menerima solusi realistis dengan Alwaleed.

Kini, bergulir pula bocoran kesepakatan umum antara MBS dan Alwaleed yang berbuah imbalan pembebasan Alwaleed. Disinyalir, seperti dikutip harian berbahasa Arab Al Quds Al Arabi, kesepakatan ditandatangani Alwaleed di Hotel Ritz Carlton, beberapa jam sebelum sang pangeran itu menghirup udara bebas.

Kesepakatan umum itu terdiri atas beberapa butir. Pertama, Pangeran Alwaleed membaiat kesetiaan terhadap negara Arab Saudi dan keluarga besar Ibn Saud yang berkuasa, khususnya duet kepemimpinan Raja Salman dan Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman.

Kedua, Pangeran Alwaleed tetap berdomisili di Arab Saudi dan mengendalikan jaringan gurita bisnisnya dari Riyadh. Ia dilarang pindah ke luar negeri.

Ketiga, Pangeran Alwaleed harus terlibat, baik dengan dana segar maupun saham, pada proyek-proyek dalam Visi Arab Saudi 2030 yang berada di bawah kendali langsung MBS. Kelak Alwaleed harus menghibahkan sebagian keuntungan dalam proyek tersebut ke kas negara.

Keempat, Alwaleed dengan jaringan internasionalnya harus ikut andil menarik investor internasional untuk terlibat dalam semua proyek Visi 2030.

Kelima, Alwaleed harus membantah berita yang beredar di media internasional tentang penyiksaan dirinya dan mendapat perlakuan tidak baik selama hampir tiga bulan berada dalam tahanan. Alwaleed dalam wawancara dengan kantor berita Reuters, beberapa waktu lalu, telah menyampaikan bantahan atas berita penyiksaan dirinya.

Menarik saham atau obligasi milik Alwaleed bisa mengganggu stabilitas pasar dunia dan kepentingan bisnis banyak negara.

REUTERS/KATIE PAUL

Miliarder Arab Saudi Pangeran Alwaleed bin Talal memberikan kesempatan wawancara kepada kantor berita Reuters di kantor suite, tempat ia ditahan otoritas Arab Saudi di Hotel Ritz-Carlton, Riyadh, Arab Saudi, beberapa jam sebelum ia dibebaskan pada 27 Januari lalu.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.