Saudi Ingin Konflik Diakhiri

Di tengah kemelut dan konflik yang tak berkesudahan di Yaman, koalisi yang dipimpin Arab Saudi menyerukan gencatan senjata. Koalisi akan mengambil langkah pemulihan keamanan.

Kompas - - Internasional - (AFP/REUTERS/RAZ)

RIYADH, SELASA — Koalisi yang dipimpin Arab Saudi, Selasa (30/1), menyerukan gencatan senjata untuk mengakhiri konflik di Aden, Yaman. Selama ini kawasan itu menjadi arena pertempuran paling sengit antara tentara pemerintah yang setia kepada Presiden Abdurabbuh Mansour Hadi yang didukung Riyadh melawan pasukan keamanan yang mendukung kelompok separatis selatan. Kelompok itu disebutkan dilatih dan didukung oleh Uni Emirat Arab.

”Koalisi memperbarui seruannya kepada semua pihak untuk segera melakukan gencatan senjata dan mengakhiri semua bentuk konflik bersenjata,” kata koalisi sebagaimana dikutip oleh Kantor Berita Arab Saudi SPA. Koalisi akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk memulihkan keamanan dan stabilitas di Aden.

Sebanyak 36 orang tewas dalam pertempuran antardua kubu yang awalnya bersekutu melawan Houthi di Yaman. Setelah pertempuran dua hari, pasukan Hadi terusir dari banyak pos.

Pecah

Pertempuran dimulai setelah pasukan Hadi menyerang pendukung Dewan Transisi Selatan (STC) lebih dahulu. Pasukan Hadi beralasan mencegah kudeta yang akan dilancarkan STC. Dasar tuduhan itu adalah gelombang milisi dan pendukung STC yang memasuki Aden.

Pendukung STC antara lain berdatangan dari Provinsi Marib dan Provinsi Abyan. Bahkan, rombongan dari Abyan bertempur dengan pendukung Hadi kala menuju ke Aden.

Pertarungan semakin sengit karena kedua pihak menggunakan senjata berat seperti tank dan artileri. Pertarungan itu membuat Aden lumpuh. Mengutip sumber dari kalangan militer, AFP mengatakan STC, Senin lalu, berhasil menduduki dua kamp militer yang berada tak jauh dari Bandara Internasional Aden.

Pendukung STC juga merebut kantor Perdana Menteri Yaman Ahmed Dagher. Setelah gedung direbut, Dagher menyatakan serangan itu sebagai kudeta dan mengancam persatuan Yaman. Ia mendesak Koalisi Saudi turun tangan. Sayangnya, koalisi menanggapi permintaan itu dengan harapan pendukung Hadi dan STC menghentikan adu tembak.

Pendukung Hadi dan STC sama-sama disokong koalisi Saudi. Hadi ditopang Saudi, sementara STC didukung Uni Emirat Arab (UEA). Hadi dan pendukung STC awalnya sama-sama melawan Houthi yang disokong Iran. Belakangan, mantan Gubernur Aden, Aidarous al-Zoubeidi, mengumpulkan pendukung STC dan membentuk dewan lalu memunggungi Hadi. STC lalu kembali ke agenda lama, yaitu memisahkan Yaman Selatan yang beribu kota Aden dari Yaman Utara yang beribu kota Sana’a. Yaman Selatan dan Yaman Utara bergabung pada 1990 dan menjadi Yaman.

Komite Internasional Palang Merah (ICRC) Yaman mengatakan, penguasaan kantor PM tidak menghentikan pertempuran yang telah berlangsung sejak Senin. ”Semua yang di sisi selatan kota, termasuk staf ICRC, tidak bisa keluar,” kata Alexandre Faite dari ICRC kantor Sana’a.

REUTERS/FAWAZ SALMAN

Para anggota kelompok separatis Yaman Selatan berdiri di depan pintu barak militer pro-pemerintah, yang dihiasi poster Presiden Abdurabbuh Mansour Hadi, di kota Aden, Yaman, Selasa (30/1). Pasukan Pemerintah Yaman terpecah antara tentara loyalis Mansour Hadi dukungan Arab Saudi dan kelompok separatis dukungan Uni Emirat Arab.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.