Kusta Belum Terkendali

Kompas - - Sains, Lingkungan & Kesehatan -

Penularan kusta masih terus terjadi. Padahal, penyakit tropis yang terabaikan itu bisa mengakibatkan kecacatan. Namun, penanganan kusta terkendala stigma di masyarakat.

JAKARTA, KOMPAS — Sembilan provinsi di Indonesia belum berhasil mencapai eliminasi penyakit kusta. Prevalensi penderita kusta di sejumlah provinsi itu masih lebih dari 1 per 10.000 penduduk. Padahal, tahun 2019, pemerintah menargetkan seluruh provinsi di Indonesia bisa mencapai eliminasi kusta.

”Sembilan provinsi itu adalah Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Gorontalo,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Wiendra Waworuntu saat peringatan Hari Kusta Sedunia, Selasa (30/1), di Jakarta.

Kusta merupakan penyakit menular disebabkan bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini bisa menyerang kulit dan sistem saraf tepi serta memicu cacat permanen jika terlambat diobati. Di dunia, kusta tergolong penyakit amat tua tetapi hingga kini masih terus ada. Peringatan Hari Kusta Sedunia dilakukan pada minggu terakhir Januari.

Wiendra menjelaskan, tahun 2016, prevalensi kusta di Indonesia 0,71 per 10.000 penduduk atau 18.248 kasus kusta. Dari total kasus itu, 16.826 kasus di antaranya kasus baru. Angka kasus baru kusta di Indonesia tahun 2016 mencapai 6,50 per 100.000 penduduk.

”Kalau melihat prevalensi nasional, Indonesia mencapai status eliminasi kusta level nasional. Namun, di level provinsi, kita belum berhasil mencapai status eliminasi keseluruhan,” ujarnya.

Status eliminasi kusta dicapai jika prevalensi kusta di suatu wilayah kurang dari 1 per 10.000 penduduk. Di Indonesia, tahun 2017, baru 25 provinsi berstatus eliminasi kusta, sedangkan 9 provinsi lain belum mencapai status eliminasi. ”Prevalensi kusta tertinggi di Papua dan Papua Barat yakni 2-3 per 10.000 penduduk,” kata Wiendra.

Untuk menurunkan jumlah kasus kusta dan mencapai target eliminasi, pemerintah melaksanakan pengawasan di sejumlah wilayah untuk menemukan penderita kusta. Jika ada pasien kusta di suatu daerah, tim kesehatan dari pemerintah langsung mengobati agar mereka bisa disembuhkan sedini mungkin dan tak menularkan kusta ke orang lain.

Hapus stigma

Pemerintah juga terus menyosialisasikan bahaya kusta kepada masyarakat. Sebab, masih ada salah persepsi di masyarakat tentang kusta, misalnya penyakit itu dianggap sebagai kutukan atau penyakit keturunan. ”Padahal, kusta disebabkan bakteri, bukan kutukan, keturunan, ataupun makanan,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah menggelar kampanye untuk menghilangkan stigma mengenai kusta yang kerap membuat penderita kusta dikucilkan orang-orang sekitarnya. Kampanye itu antara lain gerakan berjabat tangan antara para tokoh publik dan orang yang pernah kena kusta.

Pemerintah menargetkan semua provinsi di Indonesia mencapai status eliminasi kusta tahun 2019. Pada tahun itu pula, pemerintah menargetkan 95 persen kasus kusta baru tak lagi menyebabkan kecacatan.

Pada 2020, pemerintah menargetkan angka cacat tingkat dua pada pasien kusta baru kurang dari 1 per 1 juta penduduk. Cacat tingkat dua ialah kondisi ada perubahan anatomis pada penderita kusta.

Kenali gejala

Menurut Ketua Divisi Infeksi Tropik Kulit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Sri Linuwih Menaldi, kelainan kulit akibat kusta mirip dengan penyakit kulit biasa, seperti panu, sehingga banyak pasien kusta tak langsung berobat. ”Ini menyebabkan kusta kerap tak cepat ditangani,” ujarnya.

Padahal, jika pasien kusta tak segera diobati, penyakitnya kian parah dan ia amat mungkin menularkan kusta ke orang lain. Kondisi itu menghambat upaya eliminasi kusta di Indonesia.

Untuk itu, deteksi dini kusta sangat penting demi mencegah penularan penyakit tersebut. Dengan deteksi dini, penderita kusta bisa langsung ditangani sehingga penyakitnya tak jadi parah dan tak menular ke orang lain.

Hal itu membutuhkan keterlibatan masyarakat, khususnya keluarga. Sebab, keluarga bisa mendeteksi sedini mungkin adanya anggota keluarga yang terkena kusta. Menurut Sri, obat kusta tersedia gratis di puskesmas dan rumah sakit. Masa pengobatan kusta biasanya selama 6 bulan sampai 1 tahun.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.