31 Perusahaan Masih Nekat

Kompas - - Ekonomi -

31 perusahaan diduga membuang limbah langsung ke Sungai Citarum. Datanya sudah diserahkan ke Polda Jawa Barat.

31 perusahaan diduga masih membuang limbah langsung ke Sungai Citarum. Data perusahaan sudah diserahkan ke Polda Jawa Barat dan Kementerian LHK untuk diusut lebih lanjut.

BANDUNG, KOMPAS — Tim survei Satuan Tugas Pembenahan Sungai Citarum mengungkap aktivitas 31 perusahaan yang diduga membuang limbah tanpa pengolahan ideal ke Sungai Citarum. Lokasi perusahaan yang berada di bantaran sungai itu tersebar di sembilan kecamatan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Data yang dihimpun tim survei, jumlah pabrik terbanyak, tujuh perusahaan, ada di Kecamatan Majalaya. Perusahaan-perusahaan itu adalah PT PM, PT BCP, PT NM, CV PT, PT GJS, PT WIS, dan PT DM.

Di Kecamatan Dayeuhkolot ada lima perusahaan, yaitu PT Dtx, PT Mtx, PT Mhm, PT At, dan PT C. Perusahaan lain berada di Kecamatan Banjaran, Pamengpeuk, Bojongsoang, Rancaekek, Kotawaringin, Margaasih, dan Katapang.

Perusahaan-perusahaan itu bergerak di bidang tekstil, makanan, kertas, dan jenis industri lain. Limbah yang dibuang berbau menyengat dan berwarna-warni mulai dari hitam, hijau, hingga ungu. Limbah biasanya dibuang mulai pukul 22.00 hingga 04.00 dini hari.

Kepala Penerangan Daerah Militer III/Siliwangi Kolonel Desi Aryanto memaparkan, tim survei terdiri dari anggota TNI, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar dan Kabupaten Bandung, aktivis lingkungan hidup, dan relawan. Temuan didapat saat tim turun ke lapangan, 17-23 Januari. ”Pola pabrik membuang limbah kebanyakan sama, pada malam hari saat warga sudah terlelap. Aktivitas itu kami foto dan buat videonya,” ujar Desi, Selasa (30/1).

Data-data itu sudah disampaikan kepada Kepolisian Daerah Jabar dan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) untuk diusut lebih lanjut secara hukum.

Kepala Polda Jabar Inspektur Jenderal Agung Budi Maryoto

berterima kasih atas temuan tim survei itu. ”Itu fakta sosial yang harus ditindaklanjuti dengan fakta yuridis. Kami akan turun ke lapangan bersama penyidik Kementerian LHK untuk mengecek kebenarannya,” ujar Agung.

Jika terbukti membuang limbah, perusahaan-perusahaan tersebut akan diproses secara hukum. Pada Januari ini, Polda Jabar mengusut delapan perusahaan yang diduga membuang limbah ke Sungai Citarum.

Mewakili pengusaha, Ketua Kamar Dagang dan Industri Jawa Barat Agung Suryamal mengakui, masih ada perusahaan yang membuang limbah ke Sungai Citarum. Menurut dia, para pengusaha terkendala pembuatan instalasi

pengolahan air limbah.

”Kami sudah kerap menegur dan meminta pengusaha soal ini. Sungai Citarum menghidupi dan jadi tumpuan jutaan orang,” ujar Agung.

Data dari Tim Satgas, setiap hari ada 340.000 ton limbah cair dibuang pabrik-pabrik ke Sungai Citarum. Selain itu, 20.462 ton sampah termasuk limbah medis dibuang ke Citarum.

Data dari DLH Jabar mengatakan, Sungai Citarum masuk dalam kategori tercemar berat. Air sungai itu mengandung bakteri E-coli dan merkuri yang sangat berbahaya bagi tubuh manusia.

Kepala DLH Jabar Anang Sudarna mencontohkan, pabrik tekstil yang membuang limbah

selama bertahun-tahun di kawasan industri Rancaekek, Kabupaten Bandung, telah menghancurkan sekitar 70 hektar lahan pertanian di Daerah Aliran Sungai Citarum. Padahal, lahan pertanian itu merupakan tumpuan hidup bagi ratusan orang berpuluh tahun.

”Lahan sawah jadi tidak produktif, tidak bisa menghasilkan padi yang baik,” kata Anang.

Akademisi

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan meminta para akademisi dan mahasiswa berperan aktif dalam upaya menyelesaikan persoalan Sungai Citarum. Gerakan Citarum Harum yang menurut rencana akan dicanangkan Presiden

Joko Widodo, awal Februari, perlu keterlibatan semua pihak agar berjalan optimal. ”Peran aktif mahasiswa dan para akademisi diperlukan untuk penanganan Citarum secara ilmiah melalui penelitian,” ujarnya.

Menurut dia, Pemprov Jabar dan Kodam III Siliwangi sudah berkomitmen mengajak seluruh mahasiswa, di ITB maupun perguruan tinggi lain, untuk terlibat dalam proses Citarum Harum.

Pemerintah berharap semua pihak, termasuk kaum terdidik, yakni mahasiswa, pakar, dosen dan guru besar di ITB juga mahasiswa kampus lain ikut serta memikirkan secara ilmiah dan mendalam bagaimana menangangi Citarum.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Sejumlah anak di Sekeloa, Kota Bandung, mengisi bak penampungan untuk membersihkan diri dengan mengambil air dari mata air Sekeloa, Senin (29/1). Sekeloa menjadi salah satu mata air di tepi anakan Sungai Cikapundung yang menjadi bagian DAS Citarum.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.