Menggarap Usaha Rakyat

Kompas - - Ekonomi - (FERRY SANTOSO)

Wirausaha di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan kelautan secara modern dan profesional merupakan kunci peningkatan nilai tambah dan pendapatan petani, peternak, ataupun nelayan. Namun, wirausaha rakyat bukan pekerjaan yang mudah.

Pendampingan dibutuhkan agar petani, peternak, dan nelayan bisa menggeluti sektor usaha secara konsisten, dengan pengelolaan manajemen usaha yang profesional dan modern. Hal ini, antara lain, diupayakan PT Frisian Flag Indonesia, perusahaan swasta yang bergerak di industri pengolahan susu.

Melalui kerja sama dengan Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS), PT Frisian Flag membina peternak sapi perah untuk beternak dan memerah sapi sehingga menghasilkan produk susu sapi dengan tingkat kandungan bakteri (total plate count/TPC) rendah. Dengan produk yang baik, harga yang diterima peternak pun lebih tinggi.

Membina tidak hanya terkait soal cara beternak dan memerah susu sapi dengan benar. Peternak juga perlu diyakinkan bahwa usaha yang dilakukan akan memberikan nilai tambah dan pendapatan lebih tinggi, sekaligus membangun kepercayaan bahwa wirausaha yang dilakukan akan berkelanjutan.

Untuk itu, PT Frisian Flag dan KPBS membangun tempat penampungan susu (milk collection point/MCP) berbasis digital di lima tempat di Pangalengan, Bandung, Jawa Barat. Pada 2015, baru satu MCP yang dibangun. Saat ini sudah dibangun lima MCP. Nilai investasi satu MCP dengan dua tempat tangki penampungan masing-masing berkapasitas 6 ton sekitar Rp 3,5 miliar.

Tidak sembarang susu sapi yang dapat diterima di MCP. Susu sapi perah yang dapat diterima adalah susu sapi yang segar atau baru. Karena itu, sejak awal, dalam pendampingan, peternak dibina untuk memerah susu sapi perah dengan baik. Misalnya, membersihkan ambing sapi sebelum diperah, membersihkan peralatan sebelum dan sesudah digunakan untuk menekan tingkat kandungan bakteri, serta menjaga kebersihan kandang.

Peternak juga harus secara konsisten memerah susu sapi pada pagi dan sore hari agar dapat diserahkan ke MCP sesuai jadwal yang ditentukan. Para peternak dilengkapi kartu untuk pendataan secara digital, seperti data produksi dan kualitas susu yang diserahkan ke MCP.

Dengan keberadaan MCP dan pendampingan, para peternak, termasuk pengurus koperasi, diarahkan atau diajak untuk mengelola usaha secara lebih profesional dan modern. Dengan begitu, diharapkan hasil produksi susu dan pendapatan peternak meningkat. Kualitas sumber daya manusia yang mengelola usaha rakyat juga dapat ditingkatkan.

Rata-rata, produksi susu dari lima MCP meningkat dari 23,2 ton per hari menjadi 29,6 juta ton per hari. Tingkat kandungan bakteri susu turun. Harga yang diterima peternak pun rata-rata naik lebih dari 10 persen.

Jumlah peternak yang ikut dalam program pendampingan dan MCP mencapai 806 peternak. Namun, jumlah anggota aktif KPBS mencapai 3.500 peternak. Untuk itu, PT Frisian Flag dan KPBS berencana mengembangkan empat MCP hingga 2019. Investasi MCP cukup mahal sehingga skala ekonomis penempatan MCP perlu diperhitungkan.

Pola kerja sama perusahaan swasta maupun badan usaha milik negara (BUMN) dengan usaha rakyat berbasis pertanian, peternakan, perkebunan, ataupun kelautan perlu terus dikembangkan. Pada akhirnya, hal itu diharapkan dapat meningkatkan pemerataan ekonomi serta mengurangi tingkat kemiskinan dan ketimpangan.

Sebagai gambaran, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk pada September 2017 yang diukur dengan rasio gini sebesar 0,391 atau turun 0,002 poin dibandingkan dengan Maret 2017 yang sebesar 0,393, serta turun 0,003 poin jika dibandingkan dengan September 2016 sebesar 0,394.

Banyak sektor usaha berpotensi dikelola dengan kerja sama swasta ataupun BUMN dengan usaha-usaha rakyat, melalui koperasi, badan usaha milik desa, atau kelompok petani yang lebih dilembagakan menjadi badan usaha. Misalnya, usaha pengeringan dan penggilingan padi, usaha budidaya garam rakyat, tambak ikan dan udang, perkebunan kopi rakyat, dan usaha jasa pariwisata.

HANDINING

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.