Sektor Hilir Migas Bisa Lebih Efisien

Kompas - - Ekonomi -

Perusahaan induk BUMN migas diyakini akan mendongkrak efisiensi di sektor hilir. Selain meningkatkan aset perusahaan, pembentukan perusahaan induk juga memudahkan pengawasan oleh pemerintah, sekaligus memperbaiki tata niaga.

JAKARTA, KOMPAS — Pembentukan perusahaan induk badan usaha milik negara bidang minyak dan gas bumi diyakini bakal menciptakan efisiensi sektor hilir. Dalam waktu dekat, saham pemerintah pada PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk dilimpahkan ke PT Pertamina (Persero). Dengan demikian, PGN akan menjadi anak usaha Pertamina.

Selain pemindahan saham PGN ke Pertamina, anak usaha Pertamina yang bergerak di sektor hilir gas bumi, yakni PT Pertamina Gas, akan digabungkan dengan PGN. Dengan begitu, tata kelola sektor hilir gas bumi, seperti pembangunan jaringan pipa gas, akan lebih efisien. PGN dan Pertamina Gas selama ini dikenal sebagai badan usaha yang bergerak di bidang usaha niaga, transportasi, dan distribusi gas.

”Pembangunan jaringan pipa akan menjadi lebih efisien dan terintegrasi,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Adiatma Sardjito, Selasa (30/1), di Jakarta.

Akan tetapi, lanjut Adiatma, Pertamina masih menunggu terbitnya payung hukum pembentukan perusahaan induk sektor migas tersebut. Pertamina belum dapat mengambil langkah apa pun sebelum ada dasar hukum. Setelah saham PGN menjadi milik Pertamina secara resmi, pembahasan berikutnya akan terkait dengan pembagian tugas di sektor hulu dan hilir migas.

”Dengan pengalihan saham ke Pertamina, PGN akan menjadi anak usaha Pertamina. Sementara itu, anak usaha Pertamina yang memiliki jenis usaha sama dengan PGN akan dialihkan kepemilikannya ke PGN,” kata Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama.

Menurut Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro, pembentukan perusahaan induk migas akan memberikan manfaat bagi banyak pihak. Bagi PGN, pembentukan perusahaan induk berpotensi meningkatkan nilai sahamnya di lantai bursa. Sementara bagi Pertamina, pembentukan perusahaan induk dapat meningkatkan aset perusahaan yang berpotensi menjadi penggerak utama pertumbuhan perusahaan.

”Dari aspek pengawasan, pembentukan perusahaan induk migas kian menyederhanakan dan memudahkan pengawasan oleh pemerintah,” kata Komaidi.

Hal lain yang tidak kalah penting, lanjut Komaidi, adalah adanya kepastian dalam hal pasokan gas bumi kepada konsumen di dalam negeri, kemudahan dalam hal jual beli gas, serta potensi konsumen mendapat harga beli gas yang lebih kompetitif.

Kilang minyak

Sementara itu, terkait dengan pembangunan kilang minyak baru di Bontang, Kalimantan Timur, Overseas Oil and Gas LLC atau OOG dan Cosmo Oil International Pte Ltd atau COI terpilih sebagai mitra PT Pertamina (Persero) untuk membangun kilang. OOG adalah perusahaan minyak asal Oman, sedangkan COI merupakan unit usaha Cosmo Energy Group yang bergerak di bidang pengolahan minyak asal Jepang. Dalam perusahaan patungan ini, Pertamina memiliki saham 10 persen.

Kilang baru yang hendak dibangun di Bontang akan berkapasitas 300.000 barrel per hari. Adapun nilai investasi proyek pembangunan kilang baru ini sebesar 10 miliar dollar AS atau setara Rp 130,5 triliun. Kilang itu ditargetkan dapat beroperasi mulai 2025.

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ardhy N Mokobombang mengatakan, alasan dipilihnya kedua perusahaan itu menjadi mitra Pertamina adalah faktor kekuatan finansial. Selain itu, juga terkait dengan kepastian pasokan minyak mentah untuk kilang dari Pemerintah Oman.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.