Perubahan Mourinho

Manajer Manchester United Jose Mourinho menghukum para bintangnya yang buruk.

Kompas - - Halaman Dapan -

BOURNEMOUTH, SELASA — Manchester United memerlukan perubahan signifikan untuk mengejar gelar juara Liga Inggris musim depan. Evolusi besar itu dimulai sejak awal, yaitu saat bertandang ke markas AFC Bournemouth di lanjutan Liga Inggris musim ini, Kamis (19/4) dini hari WIB.

Laga kontra tim papan tengah di Liga Inggris itu memang tidak akan berdampak besar pada kiprah MU musim ini. Mereka tidak lagi bisa mengejar gelar juara dan hampir pasti finis di empat besar, posisi untuk meraih tiket ke Liga Champions musim depan.

Namun, laga ini tetap penting bagi Manajer MU Jose Mourinho. Pikirannya melayang jauh ke depan ketika menyiapkan timnya untuk menyambut laga ini. Laga ini bisa saja menjadi semacam bola kristal yang menyingkap kerangka skuad masa depan Setan Merah.

Mourinho, yang masih kecewa dengan kekalahan MU dari West Bromwich Albion, akhir pekan lalu, mengatakan, hanya akan menurunkan pemain yang dianggapnya masih memiliki masa depan di MU saat bertamu ke Bournemouth. Dengan kata lain, Mourinho berancang-ancang menendang barisan pemain bintang yang dianggapnya tidak punya mental tangguh di laga.

”Jadi, itu bukanlah rotasi (pemain). Sebaliknya, itu adalah peluang mereka unjuk gigi dan mendapat tempat di skuad kontra Tottenham Hotspur (semifinal Piala FA, 21 April). Jika memang fenomenal, mereka bisa tampil, baik melawan Bournemouth maupun Spurs,” tuturnya.

Diakui Mourinho, timnya jauh tertinggal dari City pada musim ini. Besarnya jurang performa itu akan mempersulit mereka untuk kembali mengejar City pada Liga Inggris musim depan. Untuk itu, perlu langkah radikal untuk memangkas ketertinggalan itu.

Salah satu langkah itu adalah membentuk skuad berisikan barisan pejuang tangguh. Jika tidak, MU akan terus dihantui masalah inkonsistensi penampilan seperti musim ini. Mereka ibarat punya dua wajah, yaitu perkasa ketika menjungkalkan City, 2-3, di Stadion Etihad, tetapi putus asa saat menjamu Bromwich.

”Apa kriteria manajer memilih pemain? Apakah karena harga, gajinya, atau wajah tampannya? Kalau saya, hanya ada satu (kriteria), yaitu performa di lapangan. Konsistensi itu tidak terkait dengan usia, tetapi karakter (pemain),” ujar Mourinho.

Perkataannya itu mengisyaratkan kekesalan kepada sejumlah bintang MU, seperti Paul Pogba, Ander Herrera, dan Ashley Young. Ketiganya bermain buruk di Old Trafford, akhir pekan lalu. Pogba, yang cemerlang saat melawan City, kuat diisukan sebagai salah satu bintang MU yang bakal dijual musim depan.

Gary Neville, mantan bek MU di era Manajer Sir Alex Ferguson, setuju jika bekas timnya itu menjual sejumlah bintangnya di akhir musim ini. Menurut dia, ada tiga hingga empat bintang MU dengan mental buruk dan menjadi beban tim musim ini. Namun, ia enggan menyebutkan nama-nama pemain yang dimaksud.

”Ia (Mourinho) harus rela melepas tiga hingga empat pemain yang memicu masalah (inkonsistensi penampilan MU). Empat pemain baru dengan mental yang tepat harus datang jika MU ingin memangkas selisih kualitas dari City musim depan,” tutur Neville seperti dikutip Independent.

Mark Ogden, analis sepak bola Inggris di ESPN, sependapat, kegagalan MU bersaing dengan City musim ini bukanlah semata-mata kesalahan dari Mourinho, manajer yang sebelumnya selalu sukses memberi gelar juara di musim keduanya.

Tidak beruntung

Ia menilai Mourinho tidaklah seberuntung Manajer City Pep Guardiola. Jauh-jauh hari sebelum kedatangan Guardiola, City telah menyiapkan fondasi agar sesuai ”habitat” yang disukainya. Sebagai contoh, mereka lebih dulu mendatangkan Txiki Begiristain, Direktur City yang turut membantu Guardiola dan Barca meraih treble alias tiga gelar semusim, satu dekade silam.

Hadirnya Txiki membuat Guardiola sangat leluasa menentukan arah kebijakan tim, mulai dari latihan hingga perekrutan pemain baru. Jadi, City memang telah didesain untuk Guardiola.

Sebaliknya, Mourinho datang ke Old Trafford untuk ”menambal sulam” MU setelah kegagalan dua manajer sebelumnya, Louis van Gaal dan David Moyes. Mayoritas pemain MU saat ini adalah warisan kedua manajer itu. ”Mourinho kini harus membangun ulang timnya,” ujar Ogden.

AFP/PAUL ELLIS

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.