Delegasi Uni Eropa Mengecek Perkebunan

Kompas - - Halaman Dapan -

JAMBI, KOMPAS — Sektor sosial ekonomi dan lingkungan hidup menjadi perhatian delegasi Uni Eropa ketika melihat secara langsung pengelolaan kelapa sawit berkelanjutan di Jambi. Mereka berkali-kali bertanya mengenai kesejahteraan petani, deforestasi, dan keragaman hayati di perkebunan kelapa sawit.

Selasa (17/4/2018), delegasi Uni Eropa (UE) yang terdiri dari 12 duta besar dan perwakilan Kedutaan Besar UE, Austria, Denmark, Jerman, Irlandia, Polandia, Swedia, Belanda, dan Inggris berkunjung ke PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VI, Kabupaten Batanghari, Jambi, untuk melihat pengelolaan lingkungan dan keragaman hayati di perkebunan sawit. Sebelumnya, mereka berkunjung ke Perkebunan Tungkal Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, yang dikelola PT Inti Indosawit Subur.

Kunjungan itu terkait dengan program Excecutive Oil Palm for Ambassadors yang difasilitasi Kementerian Luar Negeri dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit di Jambi pada 15-19 April 2018.

Di PTPN VI, mereka ditunjukkan program penelitian dan percontohan pengelolaan sawit berkelanjutan yang dilakukan Collaborative Research Center (CRC) 990. CRC 990 merupakan kolaborasi Universitas Jambi, Institut Pertanian Bogor, Universitas Tadulako, dan University of Göttingen, Jerman.

CRC 990 telah melakukan riset intensif selama lima tahun di lahan 1.000 hektar. Riset itu terkait peralihan fungsi lahan, keragaman hayati melalui sistem tanam tumpang sari, dan sosio ekonomi. Dalam kunjungan di plot percontohan tumpang sari CRC 990, Duta Besar Swedia untuk Indonesia Johanna Brismar-Skoog menanyakan mengenai manfaat yang diterima petani atau masyarakat sekitar dalam pengembangan sistem tumpang sari perkebunan sawit.

Dia menyarankan agar ke depan plot-plot tumpang sari tidak sekadar menjadi percontohan, tetapi juga diterapkan di

perkebunan-perkebunan besar dan rakyat. Tujuannya adalah untuk memperkaya keragaman hayati dan menambah penghasilan petani atau masyarakat sekitar.

Konselor UE Bidang Lingkungan dan Perubahan Iklim Michael Bucki mempertanyakan penebangan pohon di sejumlah titik di Jambi. Dalam dialog dengan para petani plasma, Senin lalu, delegasi UE menilai, hasil yang diterima petani kelapa sawit bersertifikat dengan tidak bersertifikat kurang sepadan. Selisih harga tandan buah segar (TBS) bersertifikat dengan TBS tidak bersertifikat hanya Rp 40 per kilogram.

Peneliti CRC 990 dari Universitas Jambi, Bambang Irawan, mengatakan, CRC 990 menjajaki pengelolaan kebun sawit dari monokultur ke tumpang sari. Di sela-sela tanaman sawit, ditanam pula pohon petai, jengkol, durian, dan jelutung. Hasil percobaan selama dua tahun itu menunjukkan, keragaman hayati mulai bertambah, produksi sawit meningkat, dan mendatangkan penghasilan tambahan bagi petani.

”Dalam penelitian itu, kami juga menemukan bahwa lahan sawit yang muda atau baru berumur dua tahun menjadi penyebab dan sumber peningkatan karbon. Namun, lahan sawit yang sudah dewasa (berumur 10-12 tahun) malah menjadi sumber penyerapan karbon,” ujarnya.

Hasil penelitian

Dari hasil penelitian di sektor sosio ekonomi, lanjut Bambang, kelapa sawit dapat meningkatkan kesejahteraan dan perbaikan nutrisi warga. Kondisi ekonomi desa dan warga sekitar lahan sawit meningkat. Taraf pendidikan anak petani sawit juga semakin tinggi.

”Kami telah menghasilkan 62 artikel ilmiah yang dipublikasikan di berbagai jurnal ilmiah internasional dan dapat dimanfaatkan untuk menangkal kampanye negatif terhadap sawit Indonesia,” ujarnya.

Direktur Utama PTPN VI Jambi Ahmad Haslan Saragih mengemukakan, PTPN VI menerapkan pengelolaan sawit secara berkelanjutan. Salah satunya mengintegrasikan sawit dengan peternakan sapi. Kotoran sapi digunakan sebagai pupuk organik. Secara sosial ekonomi, PTPN VI juga akan menerapkan skema plasma dengan petani di lahan 8.000 hektar. Saat ini sudah terealisasi sekitar 1.000 hektar untuk dijadikan percontohan.

”Skema yang diterapkan adalah petani sebagai pemilik bisa bekerja di kebun, sedangkan kami mengelola sawit. PTPN memberikan bibit, membeli TBS petani dengan harga pasar, dan tetap menjadikan tanah itu milik petani,” ujarnya.

PTPN VI memiliki delapan pabrik pengolahan minyak sawit mentah (CPO). Tahun ini PTPN VI menargetkan produksi 130.000 ton CPO atau naik sekitar 7 persen dari tahun lalu.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri Siswo Pramono mengatakan, kegiatan itu merupakan upaya mengenalkan secara langsung pengelolaan sawit secara berkelanjutan kepada UE. Pengelolaan itu tetap mengedepankan lingkungan hidup, melestarikan hutan dan keragaman hayati, serta menyejahterakan petani kecil.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.