Kedepankan Politik Santun

Dalam peringatan hari lahir ke-58 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Presiden Joko Widodo menuturkan, Indonesia butuh politik yang menyatukan dan membawa optimisme.

Kompas - - Politik & Hukum -

BANDUNG, KOMPAS — Presiden Joko Widodo mengajak semua pihak mengedepankan budaya politik santun yang merupakan ciri masyarakat Indonesia. Tindakan saling menghujat dalam kompetisi politik mesti dihindarkan karena dapat mengancam persatuan bangsa.

”Kita memerlukan politik yang menyatukan, bukan yang membawa perpecahan. Budaya politik Indonesia penuh dengan kesantunan, bukan saling memaki dan penuh kebencian,” kata Presiden saat menghadiri peringatan hari lahir ke-58 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Gedung Sabuga, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (17/4/2018).

Selain anggota PMII, juga hadir dalam acara ini, antara lain, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi; Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri; serta Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo. Selain itu, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan juga hadi acara ini.

Presiden juga mengimbau masyarakat untuk tidak terpengaruh dengan provokasi pihak tertentu. Menurut dia, integrasi bangsa harus tetap dijaga karena hal itu akan memengaruhi stabilitas pembangunan nasional. ”Jangan dengarkan pihak-pihak yang ingin memecah belah. Kita harus bersatu untuk menghadapi tantangan sebagai bangsa yang besar,” kata Presiden.

Dalam kesempatan ini, Presiden juga mengatakan, kemajemukan masyarakat Indonesia merupakan modal sosial untuk pembangunan nasional. Namun, pada saat yang sama, hal itu juga dapat menjadi ancaman jika perbedaan-perbedaan tersebut terus ditonjolkan.

Oleh sebab itu, Jokowi meminta semua anggota PMII ikut berperan aktif menjaga persatuan bangsa. Terlebih, mahasiswa sebagai calon pemimpin di masa mendatang mempunyai peran penting untuk menghindari disintegrasi bangsa.

”Saya juga mengajak semua pihak, terutama mahasiswa, untuk menebarkan optimisme di tengah masyarakat. Kita harus yakin Indonesia akan menjadi negara kuat dengan pertumbuhan ekonomi yang terus membaik,” ujarnya.

Presiden menuturkan, menurut kajian Bank Dunia dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Indonesia akan masuk 10 besar negara dengan ekonomi

terkuat di dunia pada 2030. Bahkan, pada tahun 2045 Indonesia berpotensi masuk empat besar. Agar prediksi tersebut menjadi nyata, Jokowi mengatakan, diperlukan optimisme dari semua elemen bangsa. ”Jadi, kalau ada yang pesimistis atau menakut-nakuti, jangan terpengaruh,” ucapnya.

Komitmen

Ketua Umum Pengurus Besar

PMII Agus M Herlambang mengatakan, sejak organisasi itu didirikan 58 tahun lalu, pihaknya selalu berkomitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuk itu, PMII menolak cara-cara politik yang menebar kebencian karena mengancam integrasi bangsa.

”PMII akan selalu mengawal keutuhan NKRI. Ideologi Pancasila sebagai pemersatu bangsa

sudah tidak dapat ditawar,” ujarnya.

Agus mengatakan, anggota PMII tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan ada di sejumlah kampus. ”Selain memahami ilmu agama, anggota PMII juga harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keduanya harus sejalan,” ujarnya.

Adapun PMII didirikan oleh 13 mahasiswa pada 17 April 1960.

KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA

Ratusan anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menghadiri hari lahir ke-58 organisasi tersebut di Gedung Sabuga, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (17/4/2018). Acara dihadiri Presiden Joko Widodo yang mengajak semua pihak, termasuk...

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.