Isu ZEE Perlu Segera Dirampungkan

Kompas - - Internasional -

JAKARTA, KOMPAS — Setelah 10 kali berunding, para perunding dari Indonesia dan Vietnam didorong segera menuntaskan negosiasi perbatasan zona ekonomi eksklusif kedua negara. Penyelesaian itu akan menguntungkan kedua negara.

Dorongan itu jadi salah satu bahasan dalam Sidang Komisi Bersama Indonesia-Vietnam, Selasa (17/4/2018), di Hanoi, Vietnam. Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi dan mitranya, Menlu Vietnam Pham Binh Minh, mendorong para perunding mempercepat pembahasan penyelesaian garis batas ZEE itu.

”Finalisasi ZEE (zona ekonomi eksklusif ) sangat penting karena akan membawa manfaat dan kepastian bagi kedua negara,” kata Menlu Retno. Perundingan terakhir digelar pada November 2017.

Dalam catatan Kompas, Indonesia kerap direpotkan akibat ketidakjelasan batas ZEE dengan Vietnam. Berkali-kali, nelayan Vietnam masuk ZEE Indonesia hingga ke perairan teritorial Indonesia karena merasa tidak melanggar wilayah saat mencari ikan. Terkait hal itu, Indonesia mengajak Vietnam bekerja sama memberantas penangkapan ikan ilegal. Indonesia masih menunggu tanggapan Vietnam atas rancangan komunike bersama soal isu itu. Rancangan itu diusulkan Indonesia kepada Vietnam. Indonesia mendorong tata kelola perikanan berkelanjutan.

Ekspor otomotif

Selain isu ZEE, dalam sidang Vietnam setuju untuk meninjau kembali aturan impor otomotif. Aturan yang diberlakukan pada akhir 2017 membuat Indonesia— dalam empat bulan terakhir— berhenti mengekspor produk otomotif ke Vietnam. Padahal, otomotif adalah salah satu komoditas ekspor terbesar Indonesia ke Vietnam. ”Nilainya mencapai 293 juta dollar AS,” ujar Retno.

Dalam aturan baru itu, ada sejumlah ketentuan yang mempersulit produsen otomotif Indonesia, antara lain mewajibkan mobil contoh harus lolos uji hingga 3.000 kilometer. Vietnam mengambil dua mobil dari setiap model yang dikirim. Jika tidak lulus uji, seluruh mobil dikembalikan ke negara pengirim.

Bihn Mihn mengatakan, kerja sama kedua negara semakin kokoh melalui berbagai jalur. Perdagangan kedua negara pun terus meningkat. Sepanjang 2017, neraca perdagangan Indonesia-Vietnam mencapai 6,8 miliar dollar AS atau naik 8,64 persen dibanding pada 2016. Kenaikan itu antara lain karena kedua negara menyepakati kemitraan strategis pada 2013.

Kemitraan strategis itu akan dilanjutkan untuk periode 20192023. Sektor kerja sama ditekankan pada wisata bahari, energi terbarukan, industri kreatif, akuakultur, dan industri pertahanan strategis. Rencana aksi untuk kerja sama itu ditargetkan rampung pada November 2018. Peluang baru diharapkan masuk dalam rencana itu. (RAZ)

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.