Pertumbuhan China di Atas Ekspektasi

Pertumbuhan ekonomi China mencapai 6,8 persen pada triwulan pertama. Konsumsi, ekspor, dan properti menjadi penopang utama pertumbuhan.

Kompas - - Internasional -

BEIJING, SELASA — Konsumsi, mencakup sekitar 80 persen dari pertumbuhan ekonomi China pada tiga bulan pertama 2018, berperan signifikan di tengah proyeksi peningkatan risiko atas ekspor produk-produk China. Ketahanan ekonomi China, sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua, secara global penting bagi keberlanjutan proses pemulihan ekonomi global itu sendiri, sekalipun China tengah menghadapi naiknya tensi perang dagang dengan Amerika Serikat.

Perang dagang secara terbuka antara Beijing dan Washington dapat memengaruhi bisnis hingga miliaran dollar AS. Faktor penekan lainnya bagi China adalah negeri itu dapat kehilangan momentum pertumbuhan dalam beberapa triwulan mendatang. Hal itu terutama terkait dengan upaya sejumlah pemerintah di tingkat lokal di China menurunkan aktivitas pembangunan sehubungan upaya pengendalian utang. Investasi di sektor properti juga dapat mengendur jika pemerintah menetapkan aturan ketat sebagai upaya pengendalian atas gelembung di sektor itu.

Para analis sebelumnya memperkirakan, produk domestik bruto (PDB) China pada tiga bulan pertama tahun ini ada di angka 6,7 persen. Rupanya data statistik yang dirilis kemarin menunjukkan ekonomi China tumbuh sekitar 6,8 persen atau relatif sama dengan capaian pada triwulan IV-2017.

Penjualan ritel China pada Maret tumbuh hingga 10,1 persen secara tahunan. Capaian itu selain melebihi angka ekspektasi sebelumnya, juga merupakan angka tertinggi dalam empat bulan terakhir. Barang-barang yang dibeli warga merata kenaikan kuantitasnya, mulai dari kosmetik, pakaian, hingga furnitur.

”Data penjualan ritel menunjukkan banyak hal tentang konsumsi. Kondisi itu tidak musiman, khususnya jika dilihat dari data penjualan kosmetika, belanja pakaian, dan otomotif, trennya terlihat tetap dalam beberapa bulan,” kata Iris Pang, ekonom perusahaan ING di Hong Kong.

Pang menambahkan, konsumsi China cukup kuat, antara lain juga terlihat dari kenaikan gaji di sejumlah daerah urban di China. Selain itu, pertumbuhan PDB juga didukung oleh ekspor. Menariknya, ekspor China ke AS melonjak hingga 14,8 persen tahun ini. Hal itu memunculkan spekulasi bahwa perusahaan-perusahaan China berupaya memaksimalkan pengiriman barang ke ”Negeri Paman Sam” sebelum tarif impor diterapkan oleh Washington.

”Kita tidak mengharapkan tensi AS-China akan berujung terjadinya perang dagang secara terbuka, tetapi kita juga melihat ketidakpastian saat ini tidak akan hilang dan bakal terjadi negosiasi panjang terkait hal itu. Terkait efek atas penerapan tarif-tarif, kita lihat akan terbatas, khususnya tahun ini,” kata Haibin Zhu, kepala ekonom JP Morgan di Hong Kong.

Zhu melihat, jika AS ataupun China sama-sama menerapkan tarif senilai 50 miliar dollar AS, hal itu baru akan mencakup sepersepuluh dari sisi persentase poin. Efek atas penerapan tarif itu diproyeksikan baru terasa— paling cepat—pada akhir tahun ini dan pada 2019.

Ekonomi Jerman

Namun, di Benua Eropa, perang dagang ditambah konflik di Suriah telah menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Bahkan, proyeksi perekonomian Jerman tahun ini—terdampak oleh kondisi-kondisi tidak menentu saat ini—dikhawatirkan lebih rendah. Jerman sendiri adalah negara dengan perekonomian terkuat di antara 28 negara anggota Uni Eropa.

Indeks institut riset ZEW April, yang dirilis pada Selasa, turun 13,3 poin menjadi minus 8,2 poin. Penurunan itu merupakan yang kedua kalinya secara berturut-turut. Indeks yang didasarkan pada survei analis investasi itu menggambarkan proyeksi atas kondisi beberapa bulan mendatang. Indeks itu berada di bawah angka rata-rata 23,5 poin.

Ekonom ING, Carsten Brzeski, mengatakan, analisis itu terpengaruh oleh jatuhnya indikatorindikator ekonomi dari tahun lalu yang relatif cukup kuat. Produksi industri di zona euro, misalnya, turun untuk pertama kali dalam dua bulan pertama pada tahun ini. Namun, angka itu dinilai masih terlalu dini untuk dikhawatirkan.

AFP

Seorang pekerja menyortir telur bebek di sebuah pabrik, di Nantong, Provinsi Jiangsu, China timur, Senin (16/4/2018). Ekonomi China tumbuh 6,8 persen pada triwulan I-2018, di tengah upaya Beijing menekan risiko keuangan, mengurangi polusi, dan...

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.