Berpulangnya Sang Laksamana Amoroso

Kompas - - Pendidikan & Kebudayaan -

” Kalau seorang dokter yang laksamana dalam usia 77 tahun masih begitu luruh menempatkan panggung (drama) di batinnya, alangkah aneh kalau masih ada yang mempertanyakan apa pentingnya ’sandiwara’ dalam kehidupan nyata,” demikian sutradara Putu Wijaya memberikan pengantar pentas Meniti 77 dalam rangka perayaan 77 tahun perjalanan Laksamana Pertama TNI (Purn) Amoroso Katamsi (Kompas, 18 Januari 2015).

Pentas kolaborasi Amoroso dengan sejumlah seniman serta putra-putrinya itu ternyata jadi kado istimewa terakhir baginya. Selasa (17/4/2018) pukul 01.40, aktor senior itu berpulang kepada Sang Khalik.

Amoroso merupakan sosok yang sangat lengkap dari sisi karya. Ia tidak hanya sukses sebagai dokter, tetapi juga sebagai tentara, dosen, sekaligus aktor.

”Bapak sejak SMA sudah aktif berteater. Begitu kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, bapak tetap aktif bermain teater. Beliau ingin membuktikan ke ibunya, meski terus-menerus pulang malam karena berlatih teater, bapak tetap bisa lulus kuliah,” ungkap Aning Katamsi, salah satu putri Amoroso.

Kecintaan Amoroso pada seni peran memuncak ketika

Buah kedisiplinan

Sejak muda, Amoroso membiasakan diri dengan pola hidup disiplin. ”Semuanya tak ada porsi yang dikurangi. Saya ingat banget, pagi beliau pakai baju Angkatan Laut, lalu sore pakai tas selempang pergi ke TIM (Taman Ismail Marzuki). Dia bisa menjalani dunia yang berbeda-beda,” ungkap Aning.

Nama Amoroso makin dikenal setelah memerankan Soeharto dalam film Pengkhianatan G30S/PKI yang disutradarai Arifin C Noer pada 1982.

RAT

Amoroso Katamsi penyair legendaris WS Rendra mengajaknya bergabung dalam Studi Grup Drama Jogja yang tak lain merupakan cikal bakal Bengkel Teater. Rendra rupanya terkesima dengan penampilan Amoroso muda yang membacakan puisinya, ”Surat kepada Bunda:...

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.