Kopi dan Akrilamida

Kompas - - Sains, Lingkungan & Kesehatan - Atika Walujani Moedjiono

Saking gandrungnya pada kopi, Johann Sebastian Bach (1685-1750) yang dikenal sebagai komposer musik liturgi menulis komposisi tentang kopi, Coffee cantata (Schweigt stille, plaudert nicht, BWV 211). Komposisi ini bertutur tentang perempuan muda penuh semangat bernama Aria yang tergila-gila pada kopi, tetapi dilarang ayahnya minum kopi.

Selama berabad-abad kopi menjadi bagian peradaban manusia. Tanaman kopi liar diyakini berasal dari Etiopia, kemudian dibudidayakan di Harar, dataran tinggi di Etiopia timur. Nenek moyang etnis Oromo di Etiopia yang menemukan efek stimulan dari tanaman kopi. Namun, kopi baru digunakan secara luas sebagai minuman pada abad ke-15, yakni di kalangan kaum sufi di Yaman. Dari sana kopi menyebar ke negara-negara Timur Tengah, termasuk Turki, lalu meluas ke Afrika Utara, Eropa, Asia Tenggara, dan Amerika.

Nama kopi atau coffee—mengacu pada minuman kopi atau kopi seduh—berasal dari kata Arab qahwa yang berarti berwarna hitam atau energi. Para sufi minum kopi untuk meningkatkan konsentrasi saat ritual doa di malam hari. Kopi juga digunakan banyak bangsa untuk meningkatkan vitalitas dan kesehatan.

Pada 30 Maret 2018, kantor berita Reuters memberitakan, hakim Los Angeles, Amerika Serikat, Elihu Berle, mengabulkan gugatan sebuah lembaga nonpemerintah, The Council for Education and Research on Toxics. Hakim itu memerintahkan Starbucks dan perusahaan penjual kopi lain mencantumkan peringatan ”kopi bisa menyebabkan kanker” pada produk yang dijual di California karena kandungan akrilamida pada kopi.

Akrilamida adalah kristal putih, tidak berbau, dengan rumus kimia C3H5NO. Menurut situs Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat (FDA), zat ini terbentuk saat bahan pangan digoreng, dipanggang, atau dibakar. Akrilamida merupakan hasil reaksi Maillard saat gula dan asam amino asparagine dipanaskan lebih dari 120 derajat celsius. Akrilamida ditemukan pada produk kentang seperti kentang goreng, keripik kentang; produk biji-bijian seperti roti, sereal, biskuit; serta kopi. Namun, tidak terbentuk pada produk susu, daging, dan ikan. Akrilamida juga tak terbentuk pada perebusan dan pengukusan.

Perkiraan kandungan akrilamida dalam makanan menurut FDA, kopi seduh mengandung 7,8 mikrogram per kilogram (µg/kg), keripik kentang 597,5 µg/kg, kentang goreng 404,1 µg/kg, sereal 119,4 µg/kg.

Tahun 2002, Badan Pengawas Makanan Nasional Swedia (Swedish National Food Agency) dan Universitas Stockholm memublikasikan penelitian bahwa akrilamida menyebabkan kanker pada hewan percobaan. Namun, ditengarai dosis akrilamida yang dipaparkan pada hewan percobaan sehingga menyebabkan kanker adalah 1.000-100.000 lebih besar daripada yang didapat manusia lewat makanan.

Sejauh ini, belum ada bukti signifikan minum kopi meningkatkan risiko kanker. Bahkan, hasil penelitian Division of Nutritional Epidemiology, The National Institute of Environmental Medicine, Karolinska Institutet, Stockholm, Swedia, yang dipublikasikan pada Mei 2007, mendapatkan, minum kopi 2 cangkir sehari bisa menurunkan 40 persen risiko kanker hati.

Setidaknya ada 300 senyawa alami terkandung dalam kopi dan 1.000 senyawa yang terbentuk dari proses pemanggangan, termasuk kafein, antioksidan, dan sejumlah mineral. Berbagai riset menunjukkan, minum kopi memberi manfaat kesehatan seperti hidup lebih lama serta mengurangi risiko terkena berbagai penyakit seperti diabetes dan gangguan jantung.

Pada 15 Juni 2016, International Agency for Research on Cancer (IARC) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, kopi tidak lagi diklasifikasikan sebagai zat yang bisa menyebabkan kanker. Bahkan, kopi memiliki kemampuan melindungi terhadap kanker hati dan endometrium (dinding rahim). Penelitian lain menyatakan, kopi mengurangi risiko kanker mulut, kerongkongan, dan prostat.

Jadi, tak perlu takut minum kopi.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.