Upaya Atasi Radiasi

Kompas - - Umum -

Ketika Presiden AS Harry S Truman memutuskan untuk mengebom Jepang dalam Perang Dunia II, pertimbangannya hanyalah soal kalah menang. Tak pernah terbayangkan, ledakan bom nuklir itu membawa kesengsaraan berkepanjangan.

Bom uranium yang meledak di Hiroshima, 6 Agustus 1945, membakar dan menghancurkan 70 persen bangunan di kota itu dan menyebabkan sekitar 140.000 orang meninggal hingga akhir 1945. Bom plutonium yang dijatuhkan di Nagasaki, tiga hari kemudian, merusak kota dalam radius 6,7 kilometer persegi dan menyebabkan kematian pada 74.000 penduduk hingga akhir 1945. Suhu di darat mencapai 4.000 derajat celsius dan hujan radioaktif membasahi Bumi.

International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN) menyebutkan, efek radiasi berdampak panjang. Mereka yang selamat di kedua kota itu, 10-70 tahun kemudian, menderita kanker tiroid, payudara, dan paru. Perempuan hamil banyak yang keguguran atau melahirkan bayi bermasalah, baik fisik maupun intelektualitasnya.

Hasil penelitian menunjukkan, ion radiasi memiliki cukup energi untuk mengubah susunan kimia dalam sel sehingga merusak jaringan dan DNA dalam gen, yang akhirnya memunculkan kanker dan pelbagai gangguan kesehatan.

Bahaya paparan radiasi memicu para ahli membuat vaksin antiradiasi. Di antaranya adalah eksperimen Dr Willardy dan Dr Hung Cheng Dung dari Universitas Cornell, AS, seperti yang diberitakan Kompas tepat 52 tahun lalu.

Hingga kini, upaya menemukan vaksin antiradiasi masih berlangsung. Dalam jurnal Radiats Biol Radioecol (2007), Maliev dan kawan-kawan menyebutkan, vaksin antiradiasi penting untuk mengurangi sindrom radiasi akut, baik akibat terpapar radiasi pada kecelakaan reaktor nuklir, aksi terorisme, maupun pengobatan.

Vaksin antiradiasi terdiri dari bahan yang disebut Specific Radiation Determinant (SRD) dan disuntikkan sebelum proses iradiasi berlangsung. Fungsinya meningkatkan umur sel yang dipapar dengan radiasi gamma yang mematikan. Efek imunisasi bekerja 15-35 hari setelah disuntikkan.

Kalau dalam penelitian dari Universitas Cornell bahan baku SRD berasal dari tumbuhan, dalam penelitian Maliev dan kawan-kawan, molekul SRD merupakan gabungan dari glikoprotein dan lipoprotein.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.