Mitra Lokal yang Makin Diperlukan

Kompas - - Ekonomi - (ANDREAS MARYOTO)

Salah satu pembicaraan penting dalam Annual Investment Meeting 2018 di Dubai, Uni Emirat Arab, pekan lalu, adalah kebutuhan partner lokal dalam berinvestasi. Kebutuhan itu semakin nyata ketika mereka bertemu empat mata. Kebutuhan partner lokal memperlihatkan kultur usaha rintisan di kalangan milenial telah memengaruhi pebisnis mapan.

Kecenderungan hanya pebisnis besar yang bisa masuk ke sebuah negara mungkin tak lama lagi berkurang. Kelak tidak hanya perusahaan besar saja. Perusahaan-perusahaan dengan berbagai skala usaha, tetapi berhasil memiliki komunikasi dan jaringan yang sejalan dengan bisnis, sangat mungkin juga berinvestasi ke luar negeri. Informasi yang makin mudah didapat dan pertemuan-pertemuan bisnis yang makin sering mengakibatkan tren itu menguat.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengakui, selama ini korporasi yang masuk ke Indonesia punya kekuatan finansial bagus dan sudah punya pengalaman di Indonesia. Tentu saja mereka mampu membiayai pencarian informasi dan punya jaringan sehingga bisa dengan mudah berinvestasi di Indonesia.

Selama ini, beberapa investor yang ditemui di UEA lebih memilih rekan bisnis dari Amerika Serikat dan Eropa untuk berinvestasi. Namun, dari beberapa perbincangan, mereka ingin berinvestasi di Indonesia. Mereka mengaku tidak mendapat informasi yang cukup tentang Indonesia. Di luar masalah itu, mereka membutuhkan mitra lokal. Bambang mengakui pemerintah memang perlu mempunyai jawaban ketika mereka menanyakan mitra lokal yang bisa diajak kerja sama.

Dalam sebuah sesi di World Economic Forum tahun ini, Executive Vice President, Chief Strategy and Growth Officer PayPal Jonathan Auerbach membuat artikel dengan judul ”Why Partnership is The Business Trend to Watch”. Ia mengemukakan, penggunaan teknologi digital makin banyak memunculkan peluang sehingga pebisnis makin dekat dengan konsumen.

Untuk itu, pebisnis membutuhkan pengetahuan tentang keunikan dan kekhasan suatu pasar sehingga bisa memasuki pasar baru, mengatasi halangan yang sifatnya tradisional, dan memberikan paparan merek di kalangan konsumen tertentu dengan lebih tepat. Ia mencontohkan, investasi di dunia teknologi finansial (tekfin) membuktikan kerja sama antara mitra lokal dan investor membuat industri ini berkembang. Mitra lokal memahami masalah akses finansial di kalangan masyarakat setempat, sementara investor melakukan pendanaan.

Mengapa di kalangan usaha rintisan yang notabene adalah kaum milenial kebutuhan mitra sangat kuat? Mereka sebenarnya antitesis dari para pebisnis besar dengan modal besar. Mereka tidak mungkin langsung mengalahkan para pebisnis besar. Beberapa ide bisnis juga tidak mudah dibiayai perbankan. Karena itu, di setiap acara, usaha rintisan selalu didengungkan, mulailah berbisnis dengan teman. Setelah itu, perbanyak perjumpaan, perluas perkenalan, bikin jaringan, ikut komunitas, dan lain-lain. Otomatis sejak awal mereka terbiasa dengan kultur kerja sama dan bermitra.

Kecenderungan di kalangan usaha rintisan itu makin menyebar ke berbagai bisnis. CEO Crown Group, sebuah korporasi yang bergerak di bidang properti di Australia, Iwan Sunito dalam sebuah kesempatan mengatakan, ia juga beberapa kali mencari mitra lokal. Alasannya, banyak pekerjaan yang sekarang tidak bisa dikerjakan sendiri. Kualitas mitra lokal juga tidak kalah. Sumber daya manusia yang ada bisa mengerjakan berbagai pekerjaan di dalam proyek.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Melihat keraguan investor, perlu ada lembaga yang mengelola dan memiliki data perusahaan yang bisa menjadi mitra lokal oleh investor asing. Setidaknya mereka mendapatkan panduan dan tidak membeli kucing dalam karung ketika berinvestasi. Apalagi pernah ada kejadian yang menyebabkan investor ragu dengan mitra bisnisnya. Mitra lokal telah menjadi kebutuhan dalam berkomunikasi dengan calon investor.

DIDIE SW

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.