Kondisi Global Membaik

Perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh 5,3 persen tahun ini. Tahun depan, pertumbuhan produk domestik bruto Indonesia diperkirakan lebih tinggi, yakni 5,5 persen.

Kompas - - Ekonomi - Dewi Indriastuti dari Washington DC, Amerika Serikat

WASHINGTON DC, KOMPAS — Ekonomi global diproyeksikan tumbuh 3,9 persen tahun ini dan tahun depan. Pertumbuhan, antara lain, didukung oleh momentum yang kuat, sentimen pasar, dan kondisi finansial yang akomodatif. Namun, dalam jangka menengah, ada risiko pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,7 persen.

Proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook itu dirilis pada IMF-World Bank Group Spring Meetings 2018 di Washington DC, Amerika Serikat, Selasa (17/4/2018). Proyeksi itu dipaparkan Maurice Obstfeld, konselor ekonomi dan Direktur Departemen Riset IMF.

IMF memaparkan, pemulihan kondisi perekonomian negaranegara maju terus berlangsung. Hal ini mendukung pertumbuhan perekonomian global yang pada 2017 tumbuh 3,8 persen. Perbaikan global juga didukung kondisi ekonomi negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi dan negara-negara berkembang yang meningkat.

Sementara itu, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi dan negara-negara berkembang masih ditopang konsumsi masyarakat, selain perbaikan harga komoditas di pasar dunia.

IMF juga menyebut soal harga minyak dunia yang berdampak terhadap perekonomian banyak negara. Harga rata-rata minyak dunia diperkirakan mencapai 62,3 dollar AS per barrel, lebih tinggi daripada harga rata-rata 2017 sebesar 52,8 dollar AS per barrel. Namun, jika suplai minyak dunia sudah kembali pulih, harga minyak diperkirakan turun jadi 58,2 dollar AS per barrel pada 2019. Bahkan, jadi 53,6 dollar AS per barrel pada 2023.

Dapat dicapai

Angka proyeksi pertumbuhan ekonomi RI tahun ini (5,3 persen) sama dengan proyeksi Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB) yang dirilis pekan lalu. Adapun proyeksi IMF untuk pertumbuhan PDB sebesar 5,5 persen pada 2019, lebih tinggi daripada proyeksi Bank Dunia dan ADB, yakni 5,3 persen.

Dalam APBN 2018, Pemerintah RI menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen tahun ini. Target tersebut di atas pencapaian pertumbuhan PDB 2017, yakni 5,07 persen.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyebutkan, kendati cukup berat, target pertumbuhan dapat dicapai jika pemerintah dapat mendongkrak konsumsi rumah tangga lebih dari 5 persen. Pertumbuhan konsumsi ditopang daya beli masyarakat. ”Terjaganya daya beli dapat diwujudkan dengan peningkatan pendapatan,” kata Josua melalui pesan singkat dari Jakarta.

Selain itu, efektivitas stimulus fiskal melalui instrumen belanja pemerintah juga mendukung pertumbuhan perekonomian. Instrumen itu di antaranya belanja sosial, subsidi, serta pelaksanaan pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah.

Sumber pertumbuhan lain adalah investasi, yang diperkirakan tumbuh stabil, didorong sektor konstruksi seiring dengan penyelesaian proyek infrastruktur. Investasi diharapkan tumbuh 6,5-7 persen tahun ini. ”Pemerintah perlu meningkatkan keyakinan pelaku usaha untuk berinvestasi. Caranya, tata regulasi dan birokrasi di tingkat pemerintah pusat dan daerah,” kata Josua.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kemudahan berusaha dan mengintegrasikan sistem perizinan. Pemerintah perlu memberikan insentif bagi investasi di industri pengolahan. Revitalisasi industri manufaktur dapat meningkatkan produktivitas nasional.

”Jika diikuti inovasi, dapat meningkatkan nilai tambah barang ekspor, terutama nonmigas. Akhirnya, kinerja ekspor nasional dan pendapatan masyarakat meningkat,” ujar Josua.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.