UE Hadapi Dilema

Drama kemanusiaan di Laut Mediterania membuat Uni Eropa dihadapkan pada dilema.

Kompas - - Halaman Dapan -

Uni Eropa kini menghadapi dilema besar terkait krisis migran setelah Pemerintah Italia dan Malta menolak kehadiran kapal penyelamat Aquarius yang mengevakuasi 629 migran di Laut Tengah, pekan lalu.

Meski akhirnya Spanyol menengahi persoalan dengan mengizinkan Aquarius merapat ke pelabuhannya di Valencia, persoalan migran tak berhenti di sini. Pada musim panas ini, migran lainnya menanti di pesisir Libya untuk menyeberang ke Eropa melalui Laut Tengah.

Saat ini kapal Aquarius masih berada di Laut Tengah dan sedang mengarah ke Spanyol. Dengan persediaan makanan yang makin menipis dan ramalan cuaca yang memprakirakan ombak setinggi 2 meter, kondisi di dalam kapal Aquarius semakin mengkhawatirkan.

Saat ini organisasi Dokter Lintas Batas (MSF) menangani penumpang Aquarius, yang antara lain terdapat 7 perempuan hamil, 11 anak kecil, dan 123 anak di bawah umur yang tak didampingi orangtua. Sebagian dari mereka berasal dari Afrika.

Setelah ditambah dengan perjalanan ke Spanyol, para penumpang Aquarius ini total berada di laut selama sepekan.

”Seorang pria mengancam bunuh diri dengan mencebur ke laut jika mereka dikembalikan ke Libya. Bagi mereka, dipulangkan ke Libya sangat menakutkan,” kata Anelise Borges, koresponden Euronews yang berada di kapal.

Italia vs Perancis

Drama kemanusiaan pekan lalu menimbulkan saling kecam antara Italia dan Perancis. Presiden Perancis Emmanuel Macron mengecam keputusan Italia yang menghadang Aquarius merapat di pelabuhannya.

”Situasi kemanusiaan yang dramatis pekan lalu menunjukkan sikap Pemerintah Italia yang sinis dan tak bertanggung jawab,” kata juru bicara Macron, Benjamin Griveaux. ”Perancis tak ingin terjadi preseden di mana negara-negara Eropa melanggar hukum internasional dan bergantung kepada negara lain untuk mengambil alih migran,” kata Macron.

Namun, PM Italia Giuseppe Conte yang akan bertemu dengan Macron, Jumat, menyerang balik. ”Italia tidak bisa menerima petuah hipokrit dari negara-negara yang selama ini tutup mata terhadap persoalan migran,” ujar Conte.

Situasi menjadi panas karena Roma kemarin memanggil Dubes Perancis di Italia untuk meminta penjelasan soal komentar Macron. ”Jika Perancis cukup rendah hati menyatakan maaf, kami akan melupakan persoalan ini dan berteman seperti sebelumnya,” kata Mendagri Italia Matteo Salvini yang mencanangkan kebijakan keras bagi migran, termasuk pendeportasian ratusan ribu migran dan menutup pintu masuk ke Italia.

Pemerintahan baru Italia merupakan koalisi dari partai ekstrem kanan Liga dan partai populis 5 Bintang. Keduanya anti-imigran dan skeptis terhadap kebijakan Brussels.

Menurut rencana, Salvini akan ke Libya akhir bulan ini. ”Perlu dicari jalan keluar di Benua Afrika,” kata Salvini yang juga mengeluarkan larangan bagi LSM melakukan penyelamatan terhadap kapal migran.

”Penyelamatan oleh kapal LSM harus distop. Namun, penjaga pantai dan AL Italia bisa melanjutkan penyelamatan. Negara lain harus membantu Italia,” katanya.

Solusi UE

Kini Uni Eropa terbelah antara negara-negara yang mendukung Italia, yang menolak tegas kehadiran migran, dan negara-negara yang memberikan bantuan kepada mereka yang berada di wilayahnya, sesuai dengan hukum internasional. Jerman, Perancis, dan Spanyol termasuk dalam kategori terakhir.

Kanselir Jerman Angela Merkel, misalnya, menolak kebijakan langsung mengembalikan pencari suaka yang sudah di perbatasan. Adapun Kanselir Austria Sebastian Kurz mendukung pengembalian langsung.

Bahkan, Merkel sendiri kini harus berhadapan dengan Mendagri Horst Seehofer yang menuntut penanganan migran yang lebih keras di Jerman menjelang pilkada di Bavaria, Oktober depan. Seehofer mendapat dukungan dari Austria, Italia, Hongaria, dan Slowakia.

Uni Eropa terbelah antara negara-negara pendukung Italia, yang menolak tegas kehadiran migran, dan negara-negara yang memberikan bantuan kepada mereka yang berada di wilayahnya.

AP PHOTO/SALVATORE CAVALLI

Kapal penjaga pantai Italia mendekati kapal Aquarius milik lembaga swadaya masyarakat asal Perancis ”SOS Mediterranee” saat para migran ditransfer ke kapal Italia di Laut Tengah, Selasa (12/6/2018). Italia mengirim dua kapal untuk mengangkut 629 migran ke Spanyol.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.