Potensi Munduk

Desa Munduk di Kabupaten Buleleng, Bali, adalah desa kecil dengan potensi luar biasa.

Kompas - - Halaman Dapan - Dahlia Irawati & Cokorda Yudistira

Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, adalah desa kecil di Bali Utara yang menyimpan potensi luar biasa. Baik karena keindahan alam, maupun hasil buminya. Kawasan di lereng pegunungan Batukaru ini terus berbenah menjadi desa wisata. Dan, harus ada yang mengawal perkembangan itu agar tidak merusak alam dan tradisi.

PPutu Ardana (62) boleh dibilang menjadi inisiator sekaligus pengawal perkembangan wisata di Desa Munduk. Ia adalah Bendesa (kepala desa adat) Munduk, sekaligus Ketua Tim 9 masyarakat adat dalam Tamblingan yang mengawal agar nilai-nilai tradisi tidak punah. Dalam sejarahnya, Desa Munduk adalah kawasan peristirahatan era Belanda. Desa Wisata Munduk digagas sejak 1992, saat di sana berdiri penginapan Puri Lumbung. Berikutnya, pada 2007, mulai banyak penginapan dan restoran. Saat ini, ada 300-an kamar di Desa Munduk yang bisa diakses wisatawan.

”Munduk memiliki tiga potensi yang membuat orang mau datang ke sini, yaitu alam, budaya, dan spiritual. Karena itu, butuh menjaga ketiganya agar pesona Munduk tetap terjaga,” kata Putu.

Selama ini Putu menekankan pada masyarakat Munduk agar tidak melulu mengeksploitasi ketiganya hanya untuk menarik wisatawan. Wisata diharapkan tidak menjadi tujuan, tetapi hanya efek dari terkelolanya potensi Munduk dengan baik.

”Jangan jadikan wisata sebagai tujuan. Masyarakat Munduk harus tetap menjadi masyarakat agraris. Dan, dengan kehidupan itu, efeknya bisa mendatangkan wisatawan. Konsep inilah yang kami bangun sehingga potensi Munduk tidak dieksploitasi besar-besaran hanya untuk mendatangkan orang,” katanya.

Risiko tidak menempatkan wisata sebagai tujuan, menurut Putu akan menjadikan tumbuh kembang sektor wisata di Munduk bergerak lambat. ”Namun, tidak apa-apa wisata Munduk berjalan lambat. Ini agar masyarakatnya siap sebagai pelaku wisata. Biarpun lambat berkembang, tetapi warga sendiri sebagai pemiliknya. Bukan investor luar,” kata ayah empat anak tersebut.

Perkembangan fisik bangunan sarana dan prasarana wisata di Munduk boleh dibilang lambat. Hingga saat ini, di Desa Munduk tidak memiliki mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Mesin ATM hanya ada di kawasan Bedugul atau Seririt yang jaraknya sekitar 1 jam dari Munduk. Di Munduk

juga belum banyak warung makan. Ada beberapa kafe mulai muncul dengan jam operasional yang juga terbatas.

Namun, kekurangan itu juga bisa dianggap sebagai kelebihan Desa Munduk. ”Desa Wisata Munduk tidak ingin seperti Ubud atau Denpasar. Munduk adalah Munduk, yang menawarkan wisata dengan kenyamanan dan ketenangan alam khas perdesaan,” katanya.

Untuk menggabungkan konsep wisata dan budaya agraris bagi Putu tidaklah mudah. Sebab, keduanya lebih banyak bersifat kontradiktif. Misalnya, petani biasanya bermental tuan sedangkan mental penyedia jasa wisata adalah melayani. ”Beda lainnya adalah masyarakat agraris sangat menghargai proses, sedangkan masyarakat wisata tidak (cenderung instan). Jika mental masyarakat wisata ini tidak dikelola dengan baik, maka bisa terjadi loncatan budaya yang merusak,” ujarnya.

Terkait tantangan di atas, Putu memasukkan konsep agraris dan wisata Munduk dalam perarem (kesepakatan bersama masyarakat desa). Salah satu cara membangun wisata di sana disepakati dengan membangun pertanian, yaitu salah satunya mengembalikan Munduk sebagai produsen kopi.

Ikon kopi

Putu Ardana mengajak masyarakat Munduk untuk mengangkat ikon kopi Blue Tamblingan. Kopi Blue Tamblingan adalah kopi berjenis arabika yang ditanam di sekitar Danau Tamblingan pada ketinggian 1.500 mdpl. Kopi arabika polsa itu tumbuh subur di hutan sekeliling Danau Tamblingan, yaitu Hutan Amerta Jati.

Hutan Amerta Jati juga dikelilingi 17 pura di sekitarnya. Pura tersebut berasal dari empat desa adat Tamblingan Dalam, yaitu Desa Munduk, Desa Gobleg, Desa Gesing, dan Desa Umajero. ”Kopi Blue Tamblingan istimewa karena tumbuhnya berlumur doa dan asap dupa,” kata Putu.

Potensi kopi Blue Tamblingan, menurut Putu, sebanyak 40 hektar (ha) lahan di sekitar Danau Tamblingan. Namun, saat ini, kopi Blue Tamblingan belum banyak digarap masyarakat. Putu kini mengajari 30-an petani kopi bagaimana cara menghasilkan produk kopi istimewa. Mereka tergabung dalam komunitas petani Blue Tamblingan.

Kopi istimewa menurut Putu dihasilkan dengan melakukan petik merah, menjemur kopi tidak di tanah, melakukan sortasi kopi cacat, dan penanganan kopi dengan baik lainnya.

Rumitnya proses menghasilkan kopi bagus membuat sebagian petani enggan. Karena itu, Putu mendekati mereka dengan tiga model pendekatan. Pertama, adalah mendekati petani yang sebenarnya sudah enggan mengurus kopi, tetapi masih memiliki kebun kopi. Putu meminta para petani untuk menafsir berapa banyak kopi yang akan dihasilkan dari kebun mereka. Nanti, Putu yang akan memanen dan membeli kopi sesuai keinginan petani.

Kedua, adalah pendekatan ke petani yang masih mau memetik buah kopi merah, tetapi enggan mengolahnya lebih lanjut. Untuk petani dengan tipe ini, Putu membeli kopi petik merah mereka dengan harga di atas rata-rata.

Adapun model pendekatan ketiga, adalah pada petani yang mau bertani dan mengolah kopi dengan baik. Terhadap petani tipe ini, Putu intensif melakukan pendampingan agar mereka tidak patah semangat di tengah jalan.

Saat ini, ada 30-an petani binaan Putu. Secara keseluruhan, produksi kopi Blue Tamblingan masih 2 ton-3 ton sekali panen. Terbatasnya produksi kopi tersebut membuat harga kopi Blue Tamblingan menjadi cukup tinggi, yaitu Rp 300.000 per kilogram biji kopi.

”Saat petani melakukan budidaya kopi dengan baik, maka harus ada pasar untuk produknya. Karena itu, saya membantu membuka jaringan penjualan kopi Blue Tamblingan melalui jaringan kedai di Yogyakarta,” kata Putu.

Upaya mengembalikan Munduk sebagai produsen kopi Blue Tamblingan melambungkan harapan masyarakat bahwa wisatawan akan dengan sendirinya datang. Wisatawan bukan hanya mencari tempat tenang di antara keriuhan Pulau Bali, tetapi juga mencari sensasi mencicipi secangkir kopi Blue Tamblingan.

Kerja keras Putu dan masyarakat Munduk untuk mengangkat wisata berbasis kehidupan agraris rupanya tidak sia-sia. Tahun 2010, Desa Munduk memenangi peringkat kedua Desa Wisata Nasional dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

FOTO-FOTO: KOMPAS/RIZA FATHONI

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.