Rasa Persaudaraan dan Kekeluargaan

Kompas - - Halaman Dapan -

Ibadah puasa di bulan suci Ramadhan merupakan bentuk latihan mengolah batin dan rohani. Dengan berpuasa selama sebulan penuh, harapannya berbuah pada kemenangan di hari raya Idul Fitri. Kemenangan itu artinya kembali kepada fitrah kemanusiaan. Menjadi manusia sempurna dan suci.

”Berpuasa itu seperti latihan rohani. Kita masuk ke dalam diri, melihat batin kita. Lalu, kita disadarkan bahwa kita adalah makhluk yang tidak boleh menganggap diri sebagai pencipta,” kata Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Monsinyur Ignatius Suharyo Pr saat ditemui Kompas di Jakarta, Rabu (13/6/2018).

Suharyo lahir dan besar di Sedayu, Yogyakarta, hingga usia 11 tahun. Kemudian, ia melanjutkan studi di sekolah berasrama. Baginya, momen Lebaran di masa kecil itu sangatlah menyenangkan. Orangtuanya akan mengajak Suharyo dan saudaranya berkunjung ke tempat saudara dan eyangnya yang beragama Islam. Suharyo biasa diboncengkan ayahnya dengan sepeda. Jarak tempuhnya sekitar 8 kilometer menuju rumah eyangnya di Godean, Yogyakarta.

Setibanya di sana, Suharyo bersungkem meminta pangestu (memohon maaf) kepada para sesepuh secara bergantian. Adapun setiap berkeliling itu Suharyo dapat makan sepuasnya dan mendapatkan uang saku. ”Yang paling menarik adalah suasana persaudaraan. Suasana persaudaraan dan kekeluargaan, sama sekali tidak ada perbedaannya waktu itu,” ujarnya.

Suharyo mengatakan, pada saat dirinya kecil, yang dipikirkan orang-orang tua bukanlah perbedaan agama. Yang lebih dipikirkan atau yang dirasakan adalah persaudaraan yang jauh lebih kuat daripada perbedaan. Menurut Suharyo, menghargai perbedaan itu dilakukan dengan bertoleransi. Hal tersebut merupakan warisan nenek moyang. ”Jadi, jauh lebih dahsyat dari pelajaran. Kalau pelajaran, kan, dari tidak tahu, ya, diberi tahu. Tapi kalau warisan itu sudah ada di sini. Memandang orang lain sebagai saudara. Secara spontan tidak berpikir lagi,” tuturnya.

Akhlak mulia

Suharyo menggambarkan umat Islam yang menjalankan puasa pada Ramadhan ini dalam istilah rangkaian kata bahasa Jawa neng, ning, nung, nang (meneng, wening, dunung, menang). Meneng itu diam, artinya ketika hidup yang bergejolak ini diendapkan, akan menjadi tenang seperti air. Jika digoyang-goyang terus, akan tetap keruh, tapi kalau diletakkan menjadi bening. Saat orang diam, budi atau hatinya menjadi wening atau bening, ketika bening itu bisa melihat yang sejati. Lantas, ketika mengerti dunung atau arah hidup yang lurus dan sejati, maka akan menang. Kemenangan itu berarti kembali sesudah latihan-latihan dengan berpuasa atau latihan olah batin. Sampai kepada kemenangan, artinya kembali kepada fitrah kemanusiaan. Menjadi manusia yang sempurna dan suci. Manusia yang sempurna itu yang saling mengampuni.

Suharyo menyebutkan, tradisi atau budaya khas Lebaran di Indonesia adalah saling memaafkan. Kemampuan meminta maaf dan memberi maaf menjadi watak dari manusia yang beriman. Memaafkan juga menunjukkan kesucian hati seseorang.

Sebagai Ketua KWI, Suharyo menyampaikan, Paus di Vatikan sebagai Pemimpin Gereja Katolik sedunia mengeluarkan surat sapaan Ramadhan dan Lebaran. Surat sapaan itu berisikan ungkapan rasa hormat Gereja Katolik kepada umat Islam di seluruh dunia yang menjalankan latihan rohani dan ikut bersyukur kepada Allah Yang Maharahim atas kebaikan-Nya. Selain itu juga turut mengucapkan selamat Idul Fitri.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI

Mgr Ignatius Suharyo

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.