Berbagi dengan Bubur Muhdhor dan Suru

Kompas - - Halaman Dapan - (ADI SUCIPTO KISSWARA)

Di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, ada masakan khas, yakni bubur muhdhor dan bubur syuro (bubur suru). Kedua masakan ini menggunakan bumbu gulai. Bedanya, bubur muhdhor menggunakan daging dan balungan kambing, sedangkan bubur suru menggunakan daging dan balungan sapi. Setiap hari, warga rela antre untuk mendapatkan menu makanan yang hanya ada selama bulan suci Ramadhan tersebut.

Bubur muhdhor dikenal sejak tahun 1930-an. Disebut bubur muhdhor karena hanya dibuat di kompleks Masjid Al-Muhdhor. Resepnya diperkenalkan ke Indonesia oleh keturunan Syeikh Habib Abdul Qodir bin Alwi Assegaf, tokoh terkemuka dari jazirah Arab. Menurut pengurus Masjid Al-Muhdhor, Agil Bunumay, awalnya pembuatan bubur dilakukan oleh orang Arab pada masa penjajahan Belanda. Saat itu, tahun 1930-an, kondisi perekonomian masyarakat Tuban masih sulit.

Di Tuban, bubur sejenis juga dibuat di kompleks Masjid Astana, Kompleks Makam Sunan Bonang, sekitar 30 tahun lalu. Resepnya mengadopsi bubur muhdhor, tetapi disebut bubur suru, bubur syuro, atau dikenal dengan bubur bonang.

Sekretaris Yayasan Mubarrot Sunan Bonang Tuban, Ilham Abdul Muhith, menjelaskan, disebut bubur suru karena dulu cara makannya menggunakan suru (daun pisang) yang dibuat untuk menyendoki bubur. Disebut bubur bonang karena lokasinya di kompleks makam Sunan Bonang atau Raden Maulana Makdum Ibrahim. Disebut bubur syuro karena berasal dari kata asyuro, artinya berbagi.

Menurut Mahfud, warga Kutorejo, Tuban, dirinya setiap hari antre bubur di Bonang. Dulu, dia juga antre bubur muhdhor, tetapi karena di Muhdhor lebih banyak warga yang antre, ia memilih bubur bonang. ”Bumbunya sama. Bedanya, bubur muhdhor pakai tulang dan daging kambing, di Bonang pakai tulang dan daging sapi,” katanya seusai antre bubur, Senin (11/6/2018). Aromanya mirip suruh (sirih) sehingga ada yang menyebutnya dengan bubur suruh. Pembagiannya waktu surup (senja) bertepatan dengan waktu berbuka. Rasanya perpaduan gurih, sedikit asin, dan pedas.

Tradisi sajian bubur muhdhor dan bubur suru di Tuban menunjukkan semangat berbagi. Sasaran utamanya adalah berbagi kepada fakir miskin dan orang dalam perjalanan. Bahkan setelah habis, ada yang rela koret-koret (mengambil sisa-sisa) bubur yang menempel di kuali atau wajan demi mendapatkan bubur. Bubur itu dimasukkan ke wadah plastik, seperti terlihat di kompleks Masjid Muhdhor, Minggu (10/6). Apalagi bubur itu hanya bisa didapat secara gratis saat Ramadhan dan tak ada yang menjualnya.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.