Bersyukur di Hari Fitri

Kompas - - Opini -

i tengah suasana politik yang gaduh, puasa Ramadhan mengantarkan kita pada kesucian. Itulah ajaran Islam, tujuan baik harus dicapai dengan cara yang baik.

Kita sependapat dengan seruan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin agar khotbah Idul Fitri harus disampaikan dalam kalimat yang baik dan santun, tak berisi umpatan, makian, apalagi ujaran kebencian. Para penceramah atau khatib shalat Idul Fitri diimbau untuk menjaga kesucian hari kemenangan dengan tidak membawa pesan politik praktis.

Hari raya Idul Fitri 1439 Hijriah berdekatan dengan pemilihan kepala daerah serentak pada 27 Juni 2018. Bahkan, di tengah suasana Ramadhan pun kita masih mendengar hiruk-pikuk kampanye yang kadang jauh dari tata krama dan sopan santun, khususnya di media sosial.

Sebagian dari kita tidak berpikir bahwa apa yang ditulis di media sosial akan dibaca oleh ribuan atau jutaan manusia yang berbeda, baik dari segi budaya, ilmu, maupun latar belakang hidup. Mereka juga tidak sadar bahwa tulisan itu dapat berpengaruh positif atau negatif pada pembacanya. Bahkan, dengan media sosial, seseorang bisa bertindak di luar kebiasaannya.

Oleh karena itu, kita mendukung imbauan Menteri Agama untuk menghindarkan khotbah dari makian atau hujatan, untuk menghindari apa yang sering terjadi di media sosial. Hujatan dan makian hanya akan mendatangkan suasana saling curiga dan saling mencari kesalahan orang lain.

Dan, bukankah sudah menjadi tradisi menjelang hari raya ini, sebagian warga bangsa menjalani mudik. Dengan mudik, kita berupaya meraih kembali kenangan indah masa lalu, baik di masa kanak-kanak maupun remaja, meski kadang harus dilakoni dengan susah payah di jalan.

Tradisi mudik sedikit banyak juga berkontribusi pada pemeliharaan tenun kebangsaan. Bertemu dengan sanak saudara dan bahkan reuni dengan teman menjadi tali pengikat persaudaraan, antarkomunitas dan antarwarga bangsa. Bukankah Allah SWT berfirman dalam Surah Al Hujarat Ayat 13: Saya ciptakan manusia bersuku-suku dan berkelompok-kelompok agar mereka saling mengenal (lita’arafuu). Dengan kata lain, perbedaan itu adalah karunia Allah, dan kita manusia harus ikhlas menerima ketentuan tersebut.

Perintah untuk saling berbagi, mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah, antara lain muncul karena perbedaan (ekonomi) itu. Kesediaan saling berbagi mengandaikan adanya sikap saling kenal dan saling hormat di antara sesama manusia. Perbedaan pula yang membuat kita harus pandai bersyukur, tanpa harus mencela atau membenci orang lain.

Puasa Ramadhan telah tiba di ujung dan ketika takbir dan tahmid berkumandang, mari kita sambut hari kemenangan dengan hati putih bersih. Dan pada hari raya Idul Fitri, marilah kita bermaaf-maafan untuk memulai lembaran baru kehidupan di negara kita. Sekali lagi, masih banyak tantangan dan pekerjaan di depan mata.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1439 H. Minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir batin.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.