Mudik Rasa Politik

Partai-partai politik menggelar mudik gratis yang diikuti ribuan warga. Kegiatan ini, selain untuk memfasilitasi masyarakat bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halaman, juga untuk memperoleh keuntungan elektoral di Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

Kompas - - Politik & hukum - (A PONCO ANG AGNES THE

Mendekati hari raya Idul Fitri, partai politik kembali berlombalomba menggelar mudik gratis. Kegiatan ini tidak sepenuhnya hanya untuk membantu masyarakat yang hendak merayakan Lebaran di kampung halaman, tetapi juga ada pesan politik terselip di baliknya.

Dari dua titik di Jakarta, yakni Stasiun Kereta Api Pasar Senen dan kantor DPP PDI-P di Lenteng Agung, Selasa (12/6/2018) lalu, PDI-P memberangkatkan 8.829 pemudik ke kota-kota di Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Sebagian besar atau 8.104 pemudik menggunakan 143 bus dari Lenteng Agung. Sisanya, atau 725 pemudik, menggunakan sejumlah kereta api dari Senen.

Keberangkatan para pemudik itu tak tanggung-tanggung dilepas sejumlah elite di PDI-P. Di Lenteng Agung, keberangkatan pemudik dilepas putri Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri, yang juga Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani. Sementara di Senen, Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto yang melepas keberangkatan para pemudik.

Menurut Ketua Panitia Mudik Gratis PDI-P Utut Adianto, mudik gratis menjelang Lebaran tahun ini merupakan upaya meneruskan tradisi mudik gratis oleh PDI-P sejak tahun 2003.

Jumlah pemudik yang diberangkatkan dari tahun ke tahun pun terus ditambah. Sebagai perbandingan, jumlah pemudik yang mengikuti mudik gratis PDI-P tahun lalu hanya sekitar 5.000 orang.

Kemudian jika tahun-tahun sebelumnya hanya dengan bus, tahun ini ditambah kereta api. Menurut Hasto, mudik dengan kereta api sekaligus sebagai bentuk dukungan kepada pemerintahan Joko Widodo terhadap pengembangan transportasi massal.

Memberangkatkan ribuan pemudik itu jelas membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Untuk itu, menurut anggota DPR dari PDI-P, Charles Honoris, kader-kader PDI-P gotong royong. ”Gotong royong” itu tidak hanya dari kader PDI-P di pusat seperti yang saat ini menjabat anggota DPR, tetapi juga kader PDI-P di daerah, seperti mereka yang kini menjabat kepala/wakil kepala daerah.

”Ada yang menyumbang dana,

ada juga yang mengirimkan bus seperti yang dilakukan kader PDI-P di daerah yang menjabat di eksekutif. Seluruh kader sukarela saja. Tidak ada keharusan dari partai untuk menyumbang berapa dan apa bentuknya,” katanya.

Keuntungan elektoral

Gotong royong partai ini, menurut Utut, menunjukkan kerja nyata partai untuk membantu masyarakat agar mereka dapat merayakan Lebaran di kampung halamannya. ”Jadi urusan partai itu tidak semata urusan mengejar elektoral,” katanya. Namun, apakah betul demikian?

Di Jalan Raya Lenteng Agung, depan lokasi kantor DPP PDI-P, tempat bus diberangkatkan, terbentang dua spanduk calon gubernur-wakil gubernur Jawa Tengah dan Jawa Timur yang diusung PDI-P. Gambar mereka disertai logo PDI-P lengkap dengan nomor urut partai di Pemilu 2019. Kehadiran spanduk ini setidaknya menyiratkan keinginan partai agar pemudik ingat PDI-P pada 2019 dan calon PDI-P di Pilkada 2018, 27 Juni mendatang.

Jika PDI-P tidak terang benderang menyampaikan kepentingan politiknya di balik mudik gratis, lain halnya dengan sejumlah partai politik lain yang juga menggelar mudik gratis.

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto saat melepas 15 bus berisi peserta mudik gratis Golkar, Sabtu (9/6/2018), terang-terangan berharap kepada para pemudik untuk menyampaikan kepada keluarganya di kampung halaman agar memilih calon kepala-wakil kepala daerah yang diusung Golkar di Pilkada 2018.

Begitu pula Ketua Um Partai Kebangkitan Bang (PKB) Muhaimin Iskand melepas 20 bus berisi pe mudik gratis pada Mingg (10/6/2018). Ia terang-te berharap pemudik mend nya menjadi presiden at kil presiden pada 2019.

Pengamat politik dari versitas Paramadina, Tot giarto, menilai wajar jika saat mendekati Pilkada 2 dan Pemilu 2019, partai coba menarik simpati pu dengan mudik gratis.

”Kian dekat ke waktu lihan, partai tentu mema kan momen-momen yan untuk menunjukkan par kerja nyata membantu m rakat. Ini dengan harapa raih keuntungan elektor pemilihan nanti. Hal itu terlihat, tidak perlu ditut tupi, dan hal yang wajar katanya.

Di tengah mayoritas m rakat yang belum rasion lam menentukan pilihan at pemilu, upaya nyata p itu bisa lebih efektif dari sekadar menyampaikan misi partai atau calon pe pin yang diusung partai pidato politik.

”Sebab, dengan cara y nyata, seperti mudik gra itu lebih bisa menyentuh emosi publik, perasaan p Dan, kalau emosi publik sudah tersentuh, publik fanatik kepada partai ata calon pemimpin tertentu katanya.

Namun, harapannya t berhenti di sana. Partai j rus ingat tanggung jawab melakukan pendidikan p kepada masyarakat, guna dorong perubahan perila milih menjadi lebih rasio Dengan demikian, kelak pemimpin bangsa dipilih ngan pertimbangan rasio bukan perasaan.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

Penumpang antre memasuki gerbong Kereta Api Matarmaja jurusan Malang, Jawa Timur, di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Senin (4/6/2018). Selain untuk bersilaturahim di kampung, pemudik yang memiliki hak pilih diharapkan juga turut berpartisipasi dalam...

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.