Perlindungan ”Satwa Payung” Dievaluasi

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar akan mengecek pengelolaan habitat agar menjamin perlindungan satwa liar. Kematian satwa liar merugikan negara dan menjadi sorotan publik.

Kompas - - Sains, Lingkungan & kesehatan -

JAKARTA, KOMPAS — Kematian gajah Bunta mendorong Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mengevaluasi jaminan keamanan bagi keselamatan ”satwa-satwa payung” di habitat alamnya. Evaluasi dilakukan agar kejadian yang diduga kuat terkait perburuan tak terulang.

Gajah dikenal sebagai satwa payung, kehadirannya di suatu lokasi menandakan tersedianya sumber daya untuk mendukung kehidupan satwa lain. Dalam laman WWF Indonesia disebutkan, mamalia terbesar ini mengonsumsi sekitar 150 kilogram makanan dan 20 liter air dalam sehari.

Terkait kasus pembunuhan Bunta, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, Rabu (13/6/2018), di sela-sela memantau pengelolaan sampah di Km 57 Karawang, Jawa Barat, meminta agar perlindungan satwa ini dievaluasi. Ia menjanjikan dalam waktu dekat KLHK—melalui Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem—mengecek kondisi Conservation Response Unit (CRU) Serba Jadi. Ia menyebutkan, CRU terkendala keterbatasan personel.

”CRU yang menjadi rumah gajah jinak Bunta dibiayai USAID dan Astra. Pembangunan CRU bertujuan untuk memitigasi konflik antara gajah dan warga yang kerap terjadi di Aceh. Wilayah mitigasinya meliputi Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Barat, Aceh Selatan, Pidi, dan Aceh Jaya,” kata Siti.

Lokasi ini sebagian dari 19

kabupaten (total 23 kabupaten/kota di Aceh) yang menjadi daerah perlintasan gajah sumatera. Penyebaran gajah di Aceh meliputi 25 persen hutan konservasi, 55 persen hutan lindung hutan produksi. Sisanya, sebesar 20 persen, berada di areal umum atau area penggunaan lain (APL) yang relatif minim perlindungan.

Aceh merupakan habitat penting gajah sumatera selain Riau. Siti menyebutkan, survei Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh pada 2017 mendata 539 ekor gajah sumatera.

Menurut sejumlah pihak, jumlah gajah subspesies gajah Asia di alam liar kian merosot. Berdasarkan data Forum Konservasi Gajah Indonesia 2014, populasi gajah saat itu 1.724 ekor atau turun 28 persen dari tahun 2007 yang sekitar 2.4002.800 ekor. Sepanjang 20122018, sebanyak 56 gajah mati di Aceh. Pada 2016, jumlah gajah di Aceh diperkirakan tersisa 500 ekor.

Petisi dan hadiah

Karena itu, kematian gajah Bunta—apalagi di daerah perlindungan semacam CRU— menjadi kerisauan banyak pihak. Dalam petisi daring di change.org, muncul ”#RIPBunta: Usut Pembunuhan Keji #gajahBunta dan percepat Revisi UU Konservasi 5/1990” yang sejak diunggah 11 Juni 2018 hingga semalam telah ditandatangani 22.751 orang.

Melalui petisi itu, pengunggah memperkenalkan sebagai ustaz bernama Teuku Nurhayati,

tinggal di Bireuen, Aceh. Ia meminta dukungan publik untuk mendesak Irwandi Yusuf (Gubernur Aceh), Bareskrim Polri, dan Siti Nurbaya (Menteri LHK) segera mengusut pembunuhan gajah Bunta, serta kepada DPR untuk segera mengesahkan revisi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990.

Terkait pengusutan kasus ini, Siti Nurbaya mengatakan masih ditangani kepolisian dengan dibantu jajaran Ditjen Penegakan Hukum dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh. Aparat telah mengambil sampel jantung, limpa, usus, dan ginjal untuk dicek di laboratorium.

Untuk membantu mempercepat pengusutan kasus ini, Irwandi Yusuf akan memberikan hadiah Rp 100 juta bagi orang yang memberikan informasi akurat mengenai pelaku pembunuhan gajah Bunta. Irwandi juga meminta pelaku menyerahkan diri kepada polisi.

Pernyataan itu disampaikan Irwandi lewat akun resmi Facebook, Selasa (12/6/2018). Ia juga akan merahasiakan identitas pelapor. Juru Bicara Gubernur Aceh Wiratmadinata, yang dihubungi pada hari Rabu, membenarkan pernyataan Irwandi Yusuf tersebut.

Selain Gubernur Aceh, BKSDA Aceh beserta mitranya pun akan memberikan hadiah kepada warga atau siapa pun yang memberikan informasi akurat untuk mengungkap siapa pemburu yang membunuh Bunta. Hadiahnya berupa uang sebesar Rp 26 juta.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.