Polisi Selisik Keterkaitan Pelaku

Tiga kejadian pelemparan batu dari jembatan penyeberangan orang mulai diselidiki polisi. Petugas mencari keterkaitan antarpelaku, mengingat waktu dan pola tiga kejadian itu memiliki kemiripan.

Kompas - - Metropolitan -

JAKARTA, KOMPAS — Pelemparan batu dari jembatan penyeberangan orang di Jakarta, Depok, dan Bekasi yang terjadi dalam waktu berdekatan menunjukkan adanya pola serupa. Kepolisian masih mendalami motif dan keterkaitan antarkejadian. Kewaspadaan petugas di setiap jembatan penyeberangan orang pun ditingkatkan.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur Ajun Komisaris Besar Ida Ketut Gahananta, Rabu (13/6/2018), di Jakarta, mengatakan, tiga peristiwa pelemparan batu yang terjadi dalam beberapa hari terakhir patut dicurigai sebagai tindakan terkoordinasi.

Ketiga pelemparan batu tersebut terjadi di Tol Jakarta-Cikampek Kilometer 6, Kelurahan Jati Cempaka, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, Senin (4/6). Batu dilempar dari jembatan penyeberangan orang (JPO). Kejadian tersebut menewaskan seorang pengemudi mobil.

Berselang sepekan, pelemparan batu berikutnya terjadi di Tol Jagorawi Kilometer 14, Kota Depok, Senin (11/6). Batu juga dilempar dari JPO.

Terakhir, pelemparan batu terjadi di Tol Jagorawi Km 11, Kelurahan Kelapa Dua Wetan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur. Pelempar melakukannya dari JPO. Peristiwa ini terjadi pada Selasa (12/6) atau berselang sehari dari peristiwa di Depok.

”Ketiga pelemparan batu tersebut dilakukan dalam periode waktu yang sama, yakni sekitar pukul 03.00-04.00. Harinya pun berdekatan,” ujar Ida Ketut.

Menurut dia, seluruh kejadian pelemparan batu menunjukkan pola yang sama. Karena itu, Polres Metro Jakarta Timur, Polres Metro Bekasi Kota, dan Polres Kota Depok bekerja sama untuk mendalami motif para pelaku

serta kemungkinan keterkaitan di antara pelaku pelemparan tersebut.

Tetapkan tersangka

Kepala Polres Metro Jakarta Timur Komisaris Besar Yoyon Tony Surya Putra mengatakan, pelempar batu dari JPO di Tol Jagorawi, Kelurahan Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur, adalah T (17) dan H (14).

Keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka disangka melanggar Pasal 170 Ayat (1) juncto Pasal 406 Ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum

Pidana.

Dalam Pasal 170 Ayat (1) dijelaskan bahwa barangsiapa secara terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan.

Adapun pada Pasal 406 Ayat (1) menjelaskan, barangsiapa dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusakkan, membikin tidak dipakai atau menghilangkan sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain. ”Meski

kedua pelaku masih anak-anak dan mengaku hanya iseng, mereka tetap dijadikan sebagai tersangka karena perbuatannya membahayakan orang lain,” kata Tony.

Selain itu, pelaku juga terbukti sengaja datang ke JPO untuk melempari kendaraan yang melintas di tol. Mereka melempari kendaraan itu dengan batu.

Saat kejadian, kedua pelaku berbagi tugas. H mengamati kendaraan yang melintas, sedangkan T melempar batu.

Tony menjelaskan, mereka datang ke JPO dengan mengendarai

sepeda motor pada pukul 03.00. Sesampainya di lokasi, mereka segera melempar batu hingga mengenai kaca depan mobil Ford bernomor polisi F 1046 HW. Kaca depan mobil itu retak.

Setelah pemilik mobil melaporkan peristiwa yang dialaminya kepada petugas pengamanan, petugas dan anggota kepolisian mengintai T dan H selama 20 menit. Mereka masih berencana untuk melempar batu kembali.

”Kami berhasil menggagalkan aksi mereka yang kedua,” ucap Tony. Dari pelaku, polisi menyita beberapa butir batu dan satu pecahan genting sebagai barang bukti.

Tingkatkan kewaspadaan

Tony mengatakan, patroli akan dilakukan di seluruh JPO di Jakarta Timur. Ia pun tidak segan-segan menembak jika menemukan pelempar batu yang melawan.

”Kami juga menyurati PT Jasa Marga dan Wali Kota Jakarta Timur untuk mengoptimalkan fungsi kamera pemantau dan memasang pagar kawat di setiap JPO,” ujar Tony.

Menurut dia, di Jakarta Timur, dari semua JPO yang melintas di atas tol, baru sebagian yang dipasangi kamera pemantau.

Sementara JPO di Kelurahan Kelapa Dua Wetan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, seluruh bagian JPO telah dipasangi pagar kawat, seperti jaring.

Akan tetapi, setidaknya terdapat empat bagian di pagar tersebut yang lubangnya lebih besar sehingga dapat dilewati batu. Di lokasi itu, tidak ada kamera pemantau yang terpasang. Sejak pukul 15.00, JPO tersebut dijaga tiga anggota Bintara Pembina Desa.

Peningkatan kewaspadaan juga tampak di JPO di Kelurahan Munjul, Kecamata Cipayung, Jakarta Timur, yang juga berada di atas Tol Jagorawi.

Sarmada, anggota Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat Kelurahan Munjul, mengatakan, pihaknya memantau JPO secara bergantian.

Meski belum pernah terjadi pelemparan batu di kelurahan ini, JPO juga sangat rentan digunakan untuk aksi serupa. Sebab, di sepanjang JPO setidaknya terdapat empat lubang besar di pagar kawat yang dipasang. Kamera pemantau pun tidak ada.

KOMPAS/KURNIA YUNITA RAHAYU

Salah satu contoh lubang di jembatan penyeberangan orang di Kelurahan Munjul, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Meski belum ada pelemparan batu di daerah itu, JPO dijaga oleh warga setempat mulai Rabu (13/6/2018).

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.