Sejahterakan Warga di Tanah Gersang

Kini ada yang berbeda di perbukitan Wanga, Sumba Timur. Padang gersang itu menghijau oleh perkebunan tebu. Warga pun kini punya alternatif lapangan kerja selain menjadi TKI ke Malaysia. Kriminalitas turun, keamanan terjaga.

Kompas - - Nusantara - Kornelis Kewa Ama

Kamis (17/5/2018) pukul 09.30 Wita, puluhan tenaga kerja sibuk bekerja di perkebunan tebu PT Muria Sumba Manis (MSM) seluas 2 hektar (ha) dari total areal 1.250 ha yang sedang digarap. Mereka berasal dari 10 desa di empat kecamatan, yakni Umalulu, Pohunga Lodu, Rindi, dan Kahunga Eti, di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Lahan tebu di lahan yang semula kering kerontang di perbukitan Wanga, Kecamatan Umalulu, 40 km arah barat Waingapu, itu memberikan alternatif lapangan kerja bagi warga yang umumnya petani atau bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

Sebagaimana dituturkan Ny Lodia Kamba (45), salah satu tokoh masyarakat Desa Wanga, pembangunan embung (reservoir air) di perbukitan Wanga oleh PT MSM membuat lahan di wilayah itu dapat digarap kembali tahun 2018. Hamparan lahan itu telantar sejak 2012 akibat kekeringan.

”Kini tak ada pengangguran. Warga bekerja di kebun PT MSM. Kriminalitas seperti pencurian tak ada lagi. Keamanan dan ketertiban makin terjamin,” ujarnya.

Suami Lodia, Tony Pahamba Kamba (48), bekerja sebagai buruh harian di PT MSM. Tony mendapat upah Rp 66.400 per hari untuk bekerja di kebun pukul 08.00-16.00 Wita. Dalam sebulan, ia bisa memperoleh Rp 1.726.400 sampai Rp 3 juta. Tony pernah bekerja di Malaysia. Ia dideportasi tahun 2014 karena tidak memiliki dokumen keimigrasian.

Warga lain, Nurhayati Woleama (21), bekerja di bagian

cleaning service kantor PT MSM. Lulusan SMAN Malolo, Sumba Timur, tahun 2014 itu pernah diajak calo untuk bekerja di Denpasar. Namun, ia memilih tinggal di desa.

”Saya ingin kuliah, tapi orangtua tidak mampu. Tahun 2014-2016, saya bekerja di ladang jagung, terkadang membantu mama di rumah. Teman-teman pergi kuliah ke Kupang dan Denpasar,” katanya.

Awal 2016, ada informasi lowongan kerja di PT MSM. Ia pun melamar dan diterima. Ia juga mendapat upah Rp 66.400 per hari. Nurhayati tinggal di asrama perusahaan bersama puluhan pekerja lain. Mereka bekerja sebagai juru masak, tenaga pembersihan, serta pesuruh dan staf administrasi kantor.

Kebutuhan sehari-hari disiapkan pihak perusahaan selama tinggal di asrama. Upahnya ditransfer tiap bulan ke rekeningnya di BRI Waingapu. Sebagian ditabung, sebagian untuk orangtua. Suatu saat nanti, Nurhayati ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Direktur PT MSM Bernardus Dwisektiono mengatakan, MSM di bawah grup perusahaan Hartono Plantation Indonesia (HPI). Perkebunan tebu dan sejumlah embung itu didesain untuk menjadi agrowisata nantinya. Selain membuka kebun, pihaknya akan melibatkan masyarakat dengan sistem kemitraan mandiri. Petani bisa menanam tebu untuk dijual kepada perusahaan.

Tenaga lokal

”Perekrutan kami prioritaskan untuk tenaga lokal. Saat ini ada 1.750 karyawan. Jika perluasan lahan sampai 7.500 hektar pada 2019, kami akan rekrut 3.800 tenaga lokal,” katanya.

Perusahaan menyediakan pipa untuk mengalirkan air bersih bagi 1.500 warga Desa Wanga.

Dody Indharto dari Humas PT MSN mengatakan, kawasan itu semula padang tandus. Kini mulai hijau. Kawasan yang sudah ditanami tebu ada 1.250 ha. Tahun 2019 ditargetkan jadi 7.500 ha. Selain itu, ada 7.808 ha kawasan perbukitan yang akan dihijaukan PT MSM dengan tanaman kemiri untuk mengembalikan cadangan air tanah.

Perusahaan membangun 22 embung. Fungsinya untuk menampung air hujan ataupun air yang disedot dari dalam tanah. Satu unit embung menampung air 140.000-800.000 meter kubik. Air ini untuk mengairi tanaman tebu seluas 200-240 ha selama satu siklus musim tanam.

”Sistem irigasi tetes dari Israel kami transfer ke sini. Staf MSM belajar di sana, juga tenaga ahli dari Israel datang melatih di sini. Setiap tanaman tebu mendapatkan air cukup untuk pertumbuhan,” katanya.

Air masuk ke embung difilter lebih dulu sehingga air yang dialirkan ke tanaman tidak mengandung bakteri ataupun kapur. Air dicampur pupuk urea dan KCl.

Setiap tanaman tebu mendapat satu selang air berdiameter sekitar 0,5 cm. Air dari selang terus menetes ke tanaman sepanjang siklus pertumbuhan.

Status tanah

Dody menuturkan, saat ini perusahaannya sedang mengurus hak guna usaha (HGU) untuk lahan seluas 15.308 ha. PT MSM mengelola lahan itu setelah mendapatkan penyerahan lahan secara tertulis dari warga, disaksikan unsur masyarakat, pemerintah kabupaten, dan aparat keamanan.

”Jika ada yang kurang puas soal status tanah, kami siap berdialog,” kata Dody.

Menurut Dody, PT MSM telah menginvestasikan Rp 700 miliar dari total Rp 8 triliun yang akan diinvestasikan di Sumba.

Dihubungi terpisah, tokoh pemuda Desa Patahang, Kecamatan Umalulu, Umbu Ndeha, menuturkan, Patahang memiliki 400 ha lahan. Ada uang sirih pinang sebesar Rp 1 juta per hektar dari PT MSM. Uang ini dibagi 50 persen bagi warga desa dalam bentuk beras. Lalu, 20 persen diserahkan dalam bentuk uang untuk Raja Umalalu, dan 30 persen berupa uang untuk para kabihu atau kepala suku. Hal yang sama berlaku di Desa Wanga dan desa-desa lain yang lahannya dikuasai PT MSM.

”Soal proses HGU kami tidak tahu. Belum lama ini Staf BPN NTT dan Kanwil Hukum dan HAM NTT datang mengukur tanah di sana. Pihak MSM mengundang kami hadir. Tetapi saat kami hadir, pengukuran tanah sudah selesai. Kami hanya ditunjukkan batas tanah yang telah mereka ukur. Kami menerima saja,” kata Ndeha.

Sementara itu, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Sumba, Umbu Manurara, mengatakan, pengalihan lahan penggembalaan menjadi HGU itu belum mendapat persetujuan masyarakat adat. Lahan itu milik suku bukan perseorangan. Sehingga harus mendapat persetujuan seluruh warga.

FOTO-FOTO: KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA

Hamparan tebu PT Muria Sumba Manis di Desa Wanga, Sumba Timur, NTT, mengubah daerah yang sebelumnya tandus menjadi kawasan hijau. Seluas 1.250 hektar dari total 7.500 hektar yang akan dibudidayakan telah ditanami tebu (atas). Embung yang dibangun PT Muria Sumba Manis berfungsi menampung air hasil sedotan dari dalam tanah dan muara untuk mengairi lahan tebu (bawah).

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.