Soal Ekonomi, Erdogan Salahkan AS

Kompas - - Internasional -

ISTANBUL, SABTU — Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan, penurunan ekonomi negaranya terjadi akibat ulah Amerika Serikat dan negara-negara lain yang diklaimnya sedang melancarkan ”perang” terhadap Turki. Erdogan membantah bahwa Turki berada dalam krisis mata uang, menolak anjloknya mata uang lira, dan menyatakannya sebagai fluktuasi biasa yang tak ada hubungannya dengan fundamental ekonomi negara itu.

Berbicara di provinsi yang terletak di timur laut Turki, yakni Rize, Sabtu pekan lalu, Erdogan mengatakan, mata uang dollar AS, euro, dan emas sekarang bak ”peluru meriam dan rudal perang ekonomi yang ditembakkan terhadap negaranya”. Ia sesumbar di depan para pendukungnya akan segera mengambil tindakan pencegahan untuk melindungi ekonomi negara. Menurut dia, hal yang paling penting adalah menghancurkan tangan-tangan yang menembakkan ”senjata-senjata” itu terhadap Turki.

Turki kembali didera penurunan mata uang lira pada pekan lalu. Lira jatuh 14 persen, Jumat (10/8/2018), menjadi di level 6,51 per dollar AS.

Kondisi itu membuat penduduk Turki lebih miskin dan mengikis kepercayaan investor internasional. Penurunan mata uang sangat menyakitkan bagi Turki karena negeri itu relatif banyak membiayai pertumbuhan ekonominya dengan mata uang asing.

Total penurunan mata uang lira—41 persen—pada tahun ini merupakan tanda kecemasan terhadap negara yang selama bertahun-tahun hidup dengan tingkat utang tinggi, keprihatinan internasional atas upaya Erdogan menambah kekuasaan, serta memburuknya hubungan Turki dengan AS.

Dalam opini yang dipublikasikan di The New York Times pada Jumat pekan lalu, Erdogan juga mengkritik ketegangan dengan AS. Ia menyebutkan, ”kegagalan untuk membalikkan tren unilateralisme

dan sikap tidak hormat akan mengharuskan kami untuk mulai mencari teman-teman dan sekutu baru”.

Penangkapan

Melalui media sosial Twitter, Presiden AS Donald Trump menyatakan, hubungan AS-Turki sedang tidak baik. Di antara sejumlah masalah, isu paling mutakhir adalah tindakan Turki menangkap seorang pendeta AS dan mengadilinya atas tuduhan spionase serta terorisme.

Penangkapan warga AS ini dilakukan terkait dengan upaya kudeta gagal dua tahun lalu di Turki. Sang pendeta telah menyatakan

bahwa dirinya tidak bersalah.

AS menanggapi tindakan Turki dengan menerapkan sanksi terhadap negara itu. Washington juga mengancam lebih banyak sanksi. Kedua belah pihak bertemu di Washington pekan lalu, tetapi gagal menyelesaikan pertikaian.

Trump mengatakan telah mengesahkan penggandaan tarif baja dan aluminium atas produk-produk asal Turki yang masuk ke pasar AS. Menurut dia, tarif impor aluminium akan meningkat menjadi 20 persen dan tarif baja menjadi 50 persen.

AFP/YASIN AKGUL

Warga memeriksa nilai kurs di sebuah tempat penukaran uang di Istanbul, Turki, Sabtu (11/8/2018). Di tengah nilai mata uang Turki, lira, yang anjlok, Presiden Recep Tayyip Erdogan menuding Amerika Serikat sebagai penyebab masalah ekonomi di negara itu.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.