Suluh Tukang Tambal

Jika pendidikan itu adalah cahaya, kaum difabel di perdesaan selama ini terlalu lama berkutat dalam gulita. Bermodal ikhtiar, Kadiyono (49) ikhlas berbagi suluh, menyalakan percik gelora anak-anak difabel di pelosok Kendal menatap masa depan.

Kompas - - Sosok - Winarto Herusansono

HHawa dingin puncak musim kering menyelimuti Desa Campurejo, Kecamatan Boja, Kendal, Jawa Tengah, yang terletak di ceruk perbukitan. Kadiyono bergegas menyiapkan motor bututnya. Pagi itu, sama seperti hari-hari yang dilakoninya enam tahun terakhir, Kadiyono akan menjemput anak-anak difabel untuk diantar ke Sekolah Luar Biasa (SLB) Insan Tiara Bangsa. Aktivitas itu dijalani Kadiyono sebelum membuka praktik tambal ban di ruas utama Boja, daerah di sekitar Pegunungan Ungaran yang berjarak 30 kilometer barat daya Kota Semarang. Anak-anak tadi dijemput dari rumahnya kemudian dibonceng sepeda motor hingga tiba di halaman sekolah. Tidak hanya satu atau dua anak, setiap hari, Kadiyono bolak-balik menjemput hingga 10 anak.

Jika anak yang dijemput berpostur kecil atau kurus, Kadiyono bisa membawa dua anak sekaligus di boncengan motornya. Sebaliknya kalau anaknya cukup besar atau tambun, motornya hanya bisa membonceng satu anak. Aktivitas itu baru selesai pukul 08.30.

Kadiyono menjemput mereka karena orangtua anak-anak difabel itu tidak punya kendaraan atau tak sempat mengantar. Kebanyakan anak difabel berasal dari keluarga kurang mampu. Orangtua mereka petani dan buruh.

Seperti Senin (6/8/2018) pagi, Kadiyono baru selesai menjemput Fahri (4) dan Rama (9). Sesampainya di kelas, Rama langsung mengambil potongan kertas semen. Beberapa guru mengatakan, jika sudah pegang kertas semen, biasanya Rama mudah diatur, tidak mudah emosi dan nyaman.

”Kalau Fahri, biasa duduk di kursi pendek dijemur di halaman sekolah. Dia perlu dijemur sinar matahari 2-3 jam. Nanti gurunya akan menemani sambil meluruskan kaki-kakinya. Orangtuanya senang, Fahri bisa sekolah,” tutur Kadiyono, pendiri SLB Insan Tiara Bangsa.

Dengan telaten, Kadiyono dan para guru lain melayani kebutuhan para murid, termasuk Fahri. Misalnya kalau buang air besar atau kencing di celana.

”Setelah ikut belajar di SLB ini, mungkin anak-anak belum pintar, tetapi anak-anak yang belajar di sekolah ini jadi ketagihan. Mereka mulai percaya diri dan mau bersosialisasi. Yang membahagiakan lagi, anak-anak kami mulai tumbuh rasa solidaritasnya, mereka saling membantu. Hal itu terbawa sampai ke rumah, saya merasa anak-anak kami mulai normal,” ujar beberapa orangtua siswa SLB Insan Tiara Bangsa, Boja.

Membuka akses

Niat membantu bocah kaum difabel diakui sudah lama dipendam Kadiyono. Lahir sebagai anak tukang tambal ban, sejak kecil dia sudah membantu bapaknya, Ilyas (89), menambal ban di tepi jalan antara Boja-Kaliwungu. Dia teringat pesan bapaknya, ”Sebagai anak tukang tambal harus bisa nerimo, kalau mau sekolah harus kerja keras, lebih giat berusaha.”

Dengan tekad kuat, Kadiyono melakoni profesi sebagai tukang tambal ban. Dari hasil tambal ban, setamat SMA, Kadiyono melanjutkan kuliah di Kota Semarang. Dia mengambil studi di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan menyelesaikannya selama 10 tahun akibat kesulitan biaya.

Kadiyono melengkapi kemampuan sebagai guru dengan menempuh kuliah lagi di Universitas Terbuka program Diploma II Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Setelah itu, dia mulai mengajar di sejumlah sekolah, termasuk di SLB M Surya Gemilang, Limbangan (2012-2015).

Sejak menjadi guru anak-anak berkebutuhan khusus, kegelisahan Kadiyono bertambah. Dia tersadarkan bahwa banyak anak-anak difabel di daerah perbukitan Kendal seperti Boja, Limbangan, dan Singorojo belum terjangkau pendidikan.

”Jumlah anak-anak usia produktif dari kelompok difabel di Kendal bisa lebih dari 600 anak, sebagian besar belum mendapat pendidikan layak,” ucap bapak tiga anak itu.

Kadiyono mengamati, anak-anak berkebutuhan khusus di perdesaan tidak mendapatkan akses pendidikan setidaknya akibat tiga hal. Pertama, orangtua malu memiliki anak berkebutuhan khusus. Kedua, tidak ada sekolah luar biasa di sekitar rumah mereka. Ketiga, tingkat kepedulian masyarakat kurang.

Berbekal kenyataan itu, Kadiyono bertekad semampunya mendirikan SLB gratis di lingkungan kecamatannya. Sejak awal, Kadiyono menyadari tidak akan mampu mendirikan SLB hanya dari penghasilan sebagai tukang tambal ban. Jalan mulai terpampang saat dia memperoleh akta pendidik profesional tingkat sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah pada 2008. Dari situ Kadiyono berhak atas tunjangan sertifikasi guru SD sekitar Rp 24 juta per tahun. Dari sisa-sisa tunjangan itu, dia bisa mengantongi sedikit modal membuka SLB di desanya.

Akhirnya, pada 2015, dia mendirikan SLB Insan Terang Bangsa di Kecamatan Boja. Nama itu diambil dengan misi agar anak-anak difabel kelak bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Sekolah itu terbuka untuk semua anak-anak difabel tanpa memandang status, agama, ataupun latar belakang.

Oleh karena belum memiliki bangunan sendiri, SLB Insan Terang Bangsa menumpang di TPA Fadhlullah Desa Campurejo. Aktivitas pendidikan digelar pagi hari mengingat pada sorenya dipakai untuk TPA.

Mencari murid

Mendirikan sekolah memang susah, tapi lebih sulit lagi mencari murid untuk sekolah baru. Walau gratis, banyak orangtua awalnya tidak mau menyekolahkan anaknya yang berkebutuhan khusus. Kadiyono sering ditolak.

Setiap hari, dia berkeliling dari satu desa ke desa lain mendatangi rumah anak difabel. Dia meyakinkan orangtua bahwa sekolahnya gratis dan dirinya pun siap menjemput juga mengantar pulang anak-anak.

Dari kegigihan Kadiyono mengantar-jemput siswa SLB, tiga tahun berselang, jumlah siswa terus bertambah dari semula hanya 10 siswa, kini sudah ada 47 siswa. Bahkan, mereka kadang terpaksa menolak beberapa siswa karena keterbatasan pengajar. Jumlah pengajar di SLB Insan Terang Bangsa hanya enam orang, termasuk dirinya. Padahal, untuk pendidikan anak difabel, butuh perhatian dan pendekatan personal.

Perlahan, pengabdian Kadiyono mendapat perhatian. Ada donatur yang bersedia mewakafkan tanahnya seluas 572 meter persegi. Di atas lahan itu, kini sedang dibangun gedung SLB Insan Terang Bangsa.

Namun, Kadiyono enggan diberi tanah secara gratis. Dia bersedia menerima bantuan lahan dengan syarat membelinya dengan sistem angsuran. Sebagian dananya diambil dari bantuan donatur ataupun dana operasional sekolah dari pemerintah.

Walau statusnya adalah pemilik sekolah, Kadiyono tetap bersahaja. Selesai mengajar dan mengantar pulang para siswa, dia rehat sejenak. Sekitar pukul 16.00, dia berganti pakaian ”dinas” lusuhnya, menarik mesin pompa angin dari rumahnya ke tepi jalan, lalu membuka bengkel tambal ban melayani para pesepeda motor yang butuh bantuan.

Menjelang tengah malam, saat jalanan mulai sepi, barulah dia pulang. Bagi Kadiyono, apa yang dia lakukan bukanlah hal besar. ”Saya ibaratnya hanya membantu mengambilkan cahaya bagi anak-anak itu agar hidup mereka lebih terang,” tutupnya.

FOTO-FOTO: KOMPAS/WINARTO HERUSANSONO

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.