PROPERTY SPECIAL

Dari deret pegunungan yang disakralkan di Ubud hingga suburnya pantai di Jimbaran Bay, LP melihat fokus desain properti dari dua destinasi primadona di Bali. From the sacred mountains of Ubud to the fecund shores of Jimbaran Bay, LP takes a design-focused

Luxury Properties (Indonesia) - - CONTENTS - Teks/Words: Kevin Daniel Dwyer

Arsitektur hunian di Bali mengusung kekayaan budaya, berakar dari pengaruh Hindu yang kental hingga sentuhan nuansa Jawa. Kini, gaya kontemporer Bali menjadi salah satu arsitektur tropis yang paling terkenal di Asia seiring pertumbuhan pariwisata di Bali, sehingga bangunan berciri Bali banyak disematkan pada hotel, resor, dan perumahan. Desain kontemporer Bali memadukan prinsip estetika tradisi dengan material alam yang banyak dihasilkan, karya seni dan kerajinan dari masyarakatnya, dan pengaruh gaya arsitektur internasional.

Arsitek dari hampir seluruh dunia telah mencicipi kesempatan untuk merancang residensial dan properti hotel di Bali dalam 20 tahun terakhir. John Heah adalah salah satu arsitek terkemuka yang telah menorehkan beberapa karyanya di Bali, salah satunya adalah The Four Seasons Resort Bali di Sayan di dataran tinggi Ubud. Properti tersebut boleh jadi yang terbaik yang pernah kami lihat di Bali, semuanya terpapar dari kombinasi visioner Heah dari rimbunnya hutan, hamparan sawah, desain modern dan elemen tradisional Bali.

Heah, arsitek lulusan Cambridge, mengutip pendapat Carlo Scarpa (1906-1978), seorang arsitek jenius asal Veneto, Italia yang telah berbagi hasrat desain bersama Frank Lloyd Wright untuk berekplorasi pada material alam dan buatan manusia sebagai salah satu pengaruh terbesarnya. “Saya percaya dalam mengintegrasikan apa yang ada di luar dan apa yang ada di dalam. Sebuah gedung perkantoran, rumah, atau bahkan rancangan yang paling sederhana harus menyatu dengan lanskap. Di Sayan kami ditantang oleh kompleksitas kurva bangunan dan kemiringan situs, tetapi mampu menciptakan struktur yang disesuaikan secara alami.” ucap Heah.

Konsep properti diawali saat pebisnis andal Mr. Ong Beng Seng dari Hotel Properties Limited (HPL), mengundang Heah & Co. untuk mengajukan konsep rancangan yang lain dari biasanya untuk lahan yang dibelinya di Bali, Indonesia. Sebagai pengembang perkotaan, Mr. Ong tetap memegang keinginan bila sawah, perkebunan sayurmayur dan pepohonan di sepanjang situs lembah Sungai Ayung harus tetap terjaga. Bangunan yang secara arsitektural harus menyatu seutuhnya ke dalam lanskap.

Tantangan yang didapat dari pembicaraan konsep membuat

Heah mencari inspirasi dari sumber lain. Ajaran Buddha memberi pencerahan baginya untuk menciptakan bangunan resor mewah sarat filosofi yang didesain secara vertikal. Di tengah hamparan hutan kelapa, muncul dari lembah Sungai Ayung suci yang mengalir terus hingga pusat Pulau Bali. Rancangan tersebut merupakan gambaran dari simbol mandala pada agama Buddha yang memiliki filosofi mendalam akan makna perjalanan kehidupan.

Sebanyak 40 vila yang disamarkan bersama lanskap setempat menghadirkan tantangan desain yang relatif mudah menurut Heah, tetapi untuk membaur bangunan pendukung utama dengan lanskap alami yang ada dengan lobi, restoran, klub kesehatan dan spa, kantor administrasi dan 18 suites menimbulkan masalah. Solusi ikonik yang diberikan Heah adalah dengan membentuk fokus desain properti: pendekatan dramatis melalui jembatan kayu jati dan baja melintang sepanjang 20 meter di udara pada sebuah anak sungai yang mengalir ke Sungai Ayung. Berjalan di jembatan setapak sepanjang 55 meter yang terbuat dari kayu jati solid yang membentuk sisi eliptis bunga lotus sangatlah menakjubkan serta memberi nilai meditatif yang lebih mendalam pada properti.

Riam air dari sungai yang mengalir menjadi fitur yang memisahkan bangunan utama secara spasial dan menyuguhkan sensasi aural. Tanaman pakis, tumbuhan merambat jenis thunbergia, heliconias dan pohon beringin memberi aksen pada area interior. Sebuah tangga spiral mengarah ke klub kesehatan dan fasilitas spa dengan

pemandangan 180 derajat menyapu lembah, dan ruang makan yang menakjubkan seolah berada di pucuk pohon.

Setelah beberapa malam menginap di vila di tepi sungai, kita dibawa untuk merasakan properti menakjubkan lainnya milik grup pada lereng bukit pesisir di Jimbaran Bay yang tersohor. Properti seluas 14 hektare ini dapat ditempuh selama 10 menit dari Pantai Kuta dan Bandara Internasional Ngurah Rai. Properti ini tidak seperti pengembangan pariwisata pesisir di Bali pada saat konstruksi (1989) yang harus setara tingginya dengan pohon kelapa di jalur pantai. The Four Seasons Resort Bali di Jimbaran Bay bertengger di lereng curam setinggi 45 meter di atas air, menawarkan pemandangan tidak terbatas dan unik dari Jimbaran Bay sampai Gunung Agung yang merupakan salah satu pusat spiritual di Bali.

Berbeda dengan arsitektur Barat, hunian dan puri di Bali tidak dirancang layaknya sebuah bangunan tunggal, melainkan kumpulan dari berbagai struktur dalam balutan dinding masing-masing dengan fungsi khusus, seperti paviliun terbuka untuk menerima tamu, bilik kamar tidur, sebuah pelinggihan atau kuil keluarga kecil, ruang keluarga dan dapur. Sebagian besar paviliun ini diciptakan dengan arsitektur bale Bali – struktur atap jerami dengan atau tanpa dinding serupa pendopo Jawa. Ruang berdinding biasanya dihubungkan oleh serangkaian gerbang; arsitektur Bali mengakui dua jenis gerbang: gapura candi bentar sebagai pemisah, dan paduraksa atau kori sebagai gerbang beratap.

Unsur fundamental dari pedesaan di Bali yang sangat kuat terpapar kuat pada pengaruh desain properti di Jimbaran; tiga elemen tadi diusung ke dalam Village Square, the Village Lane, dan the Courtyard House. Tata letak yang dihasilkan mencerminkan serangkaian desa yang mengelilingi fasilitas bangunan utama. Dalam setiap area resor dikelilingi oleh 20 sampai 25 unit yang mencirikan perumahan tradisional Bali, melingkupi tiga paviliun – ruang makan atau ruang keluarga yang terbuka dan ruang tidur serta paviliun kamar mandi tertutup untuk menjaga privasi – pada halaman berdinding terdapat pintu masuk dengan gerbang tradisional yang dilengkapi aneka tanaman tropis dan – fasilitas berendam air asin yang telah diperbarui.

Balinese residential architecture is renowned for its rich culture, developed from Hindu influences through an ancient Javanese intermediary. Today, contemporary Balinese style is one of the most popular Asian tropical architectures due largely to the growth of the tourism industry in Bali, which has created demand for Balinese-style houses, cottages, villas and hotels. Contemporary Balinese design combines traditional aesthetic principles with the volcanic island’s abundance of natural materials, the artistry and craftmanship of its people, as well as international architectural influences.

Architects the world over have jumped at the opportunity to design lavish residential and hotel properties in Bali for the past 20 years. John Heah is one of the talented few that has been fortunate enough to leave his mark on the Island, high in the mountains of Ubud, at The Four Seasons Resort Bali at Sayan. The property is perhaps the most distinctive we have seen on the island, and is in a realm of its own thanks to Heah’s visionary combination of lush jungle, verdant paddy fields, cutting-edge design and traditional Balinese elements.

Heah, a Cambridge-educated architect, cites Italian Carlo Scarpa (1906-1978), genius of the Veneto region who, along with Frank

SAYA PERCAYA DALAM MENGINTEGRASIKAN APA YANG ADA DI LUAR DAN APA YANG ADA DI DALAM... SEBUAH STRUKTUR HARUS MENYATU DENGAN LANSKAP. I BELIEVE IN INTEGRATING WHAT IS INSIDE WITH WHAT IS OUTSIDE… A STRUCTURE MUST BLEND INTO THE LANDSCAPE.

Lloyd Wright, shared a passion for juxtaposing natural and man-made materials, as one of his greatest influences. "I believe in integrating what is inside with what is outside. An office building, a house, or even a simpler structure must blend into the landscape. In Sayan we were challenged by the complexity of the curve of the building and the slope of the site, but were able to create a structure that adapted naturally,” says Heah.

The property’s conception began with one of Asia’s most astute businessmen, Mr. Ong Beng Seng of Hotel Properties Limited (HPL), who invited Heah & Co. to submit a concept for an unusual property he had just purchased in Bali, Indonesia. An urban empire builder,

Mr. Ong nonetheless held a bold and forward thinking vision that the paddy fields, herb and vegetable gardens, and trees along the site’s Ayung River Valley slope all had to be kept. Architecturally meaningful buildings had to either blend or disappear into the landscape.

The challenges of the brief led Heah to seek inspiration in another realm. Buddhism inspired him to sink this otherwise high profile resort into the lush palm jungle that rises up from the holy Ayung River that meanders through central Bali. As if experiencing the concentric circles of a Buddhist mandala, little is revealed to the casual observer who has yet to commit to the inbound journey.

Forty-two camoflagued villas presented a relatively straightforward design challenge according to Heah, but to blend the main support building into the natural enviornment with its lobby, restaurant, health club and spa, administration offices and 18 suites posed problems. His iconic solution forms the focus of the property: the dramatic approach via a teak and steel footbridge straddling 20 metres in the air across a tributary flowing into the Ayung River. The walk across the 55-metrelong teak-clad footbridge leading to large elliptical lotus pond is breathtaking, highlighting the property’s meditative pleasures.

Cascading water features fuse the imposing central building spatially and enhance the aural sensation. Stag-horn ferns, thumbergia vines, heliconias and banyan trees define interior areas. A dramatic central spiral staircase leads to the property’s health club and spa facilities with sweeping 180-degree views of the valley, and a stunning dining room that seems to skim the treetops.

After a few nights' stay at our private river-front villa, we are taken to experience an equally stunning property from the group on a coastal hillside overlooking famed Jimbaran Bay. The 14-hectare property is approximately 10 minutes drive from Kuta Beach and the Ngurah Rai International Airport. Unlike coastal tourism development in Bali at the time of its construction (1989), which was generally set within the flat coconut grove coastal strip, The Four Seasons Resort Bali Jimbaran Bay is perched on a steep slope rising to 45 metres above the water, affording unrestricted and unique views across Jimbaran Bay to Mount Agung, the physical and spiritual center of Bali.

Unlike Western architecture, Balinese houses and puri (palaces) are not created as a single huge building, but rather a collection of numerous structures within a walled enclosure each with a special functions, such as an open pavilion at the front to receive guests, sleeping quarters, a pelinggihan or pemrajan (a small family shrine) living areas and a kitchen. Most of these pavilions are created with Balinese balé architecture – a thatched roof structure with or without walls similar to Javanese pendopo. The walled enclosure are typically connected by a series of gates; Balinese architecture recognises two types of gates: the candi bentar split gate, and paduraksa or kori roofed gates.

These fundamentals of Balinese village life strongly influenced the Jimbaran property’s design; the three key elements being the Village Square, the Village Lane and the Courtyard House. The resulting layout mirrors a series of villages surrounding the central facilities building. Within each village is a square surrounded by 20 to 25 courtyard units that reference traditional Balinese homes, consisting of three pavilions – an open living/dining pavilion and enclosable air-conditioned bedroom and bathroom pavilions – within a walled courtyard entered through a traditional gate complete with fecund tropical flora and – a modern upgrade – private saltwater plunge pools.

Berdiri di antara rimbunnya tanaman di lembah Sungai Ayung, The Sacred River Spa menghadirkan ketenangan di Four Seasons Resort Bali di Sayan

Immersed in lush jungle greenery in the Ayung River valley, The Sacred River Spa is a serene of Four Seasons Resort Bali at Sayan

Vila The Royal di Four Seasons Resort Bali di Sayan The Royal Villa, Four Seasons Resort Bali at Sayan

Vila tepi sungai dengan satu kamar di Four Seasons Resort Bali di Sayan Riverfront One-Bedroom Villas, Four Seasons Resort Bali at Sayan

Residence Villa Main Bedroom, Four Seasons Resort Bali at Jimbaran Bay Kamar utama pada vila di Four Seasons Resort Bali di Jimbaran Bay

Atas: Vila dua kamar di Four Seasons Resort Bali, Jimbaran Bay Top: Two-Bedroom Garden Residence Villa, Four Seasons Resort Bali at Jimbaran Bay

Bawah: Area ruang makan dan ruang tamu pada vila Four Seasons Resort Bali, Jimbaran Bay Bottom: Residence Villa Dining & Living Area, Four Seasons Resort Bali at Jimbaran Bay

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.