DREAM WORKS

Heidar Sadeki dari Richardson Sadeki yang berbasis di New York City, menapaki pengalaman dunia perfilman untuk membangun sebuah tempat yang mampu menyatakan dirinya dalam bentuk ruang.

Luxury Properties (Indonesia) - - CONTENTS - Teks/ Words Rebecca Lo

Heidar Sadeki dari Richardson Sadeki yang berbasis di New York City, menapaki pengalaman dunia perfilman untuk membangun sebuah tempat yang mampu menyatakan dirinya dalam bentuk ruang.

Heidar Sadeki of New York City-based Richardson Sadeki taps into his filmmaking background to build an oeuvre that tells strong narratives in spatial form.

Heidar Sadeki of New York Cit y- based Richardson Sadeki taps into his filmmaking background to build an oeuvre that tells strong narratives in spatial form.

Banyak pemuda penuh semangat bermimpi untuk meraih sukses di Hollywood. Selalu ada pesona yang menggelitik ingin lepas dari rutinitas sehari-hari dengan menyusup ke bioskop dan hilang ke dunia lain, walau hanya sekian jam. Sihir Hollywood dekat dengan mimpi ala Amerika itu sendiri: siapa pun dapat menjadi bintang film atau mencetak film blockbuster. Yang dibutuhkan hanya bakat, faktor mujur dan sentuhan bintang – atau paling tidak begitulah tampaknya. Bagi Heidar Sadeki yang waktu itu berusia 18 tahun, baru saja tiba dari Iran ke Amerika, membuat film seperti satu dorongan yang amat kuat. Ia berpacu selama tujuh tahun dalam studi sekolah film dan kegiatan magang, menimba ilmu di Purchase State College di White Plains, New York kemudian Mercer Country Community College sebelum bekerja sebagai asisten cameraman. Walaupun akhirnya, dia mendapati bahwa jalan menuju Hollywood bukanlah hal yang mudah.

“Cuma sedikit mahasiswa perfilman yang berhasil menjadi pembuat film,” aku Sadeki, mengingat masa mudanya yang optimis. “Sisanya bekerja di bagian produksi, kecuali bila memiliki koneksi dengan seseorang yang terkenal di Hollywood. Saya lulus dari sekolah film pada usia awal 20an. Biaya terkecil untuk pembuatan sebuah film saja membutuhkan jutaan dolar Amerika. Tidak banyak produser yang mau mempercayai pembuat film usia muda dengan uang sebesar itu. Setelah bekerja di industri film untuk beberapa lama, saya sempat frustrasi. Saya tidak tertarik kepada bidang arsitektur sama sekali. Tetapi pedagogy (metode mengajar dan praktek dalam mengajar) menarik bagi saya. Hal menarik lainnya adalah baik arsitektur dan perfilman di Amerika sama- sama tidak memiliki program doktoral. Kedua disliplin ilmu ini bersifat quasi-academic dan memiliki kemiripan – bagaimana menyusun konsep yang baik dan mengkonstruksikan ruang. Sekolah arsitektur cenderung menarik kalangan intelektual, sementara sekolah film menarik kalangan penyuka petualangan. Saya sudah puas bertualang. Saya menginginkan sesuatu yang intelektual.” Sadeki menyebut Elizabeth Diller, mantan direktur untuk studi lanjutan di Sekolah Arsitektur, Universitas Princeton, bukan hanya soal kemudahannya memelajari program namun juga untuk menjadi pengaruh terbesarnya saat kuliah. “Liz bekerja untuk banyak proyek konseptual tanpa membangun pada saat itu,” ia mengingat-ingat. “Saya juga tertarik pada pekerjaan konseptual. Princeton merupakan satu dari dua kampus di Amerika Serikat yang memperbolehkan Anda lulus tanpa menggambar satu garis. Mereka membolehkan sebuah pendekatan multi disiplin ilmu. Itulah yang membuat kampus ini sebuah aura yang berbeda.”

Saat kuliah di Princeton, Sadeki berteman baik dengan rekan bisnis masa depannya: sesama alumi Clarissa Richardson. Sebelumnya rekan ini belajar di London dan berpraktisi arsitek sebelum kembali ke bangku kuliah untuk mencapai gelar master. “Saya menyukai tesisnya: tentang sebuah motel di gurun Nevada yang dirancang untuk mengamati kegiatan UFO,” ujarnya sambil tersenyum. “Ada sebuah jendela yang mengarah ke langit agar tamu dapat berbaring di atas tempat tidur, melihat ke atas dan menunggu UFO yang lewat. Ia berkarya seperti budaya pop yang lazim.”

Sadeki dan Richardson kemudian membangun bisnis setelah lulus kuliah, dan mulai berkonsentrasi pada rancangan interior yang bersifat naratif. Saat ini mereka menjalankan studio kerja di Manhattan, Miami Beach dan Hong Kong, dengan fluktuasi karyawan dari 11 hingga 20 orang di ketiga kota. Dua tahun lalu, Richardson meresmikan nama brand studio bernama One Tomato, dan dia menjadi ketuanya, sementara Sadeki melanjutkan proyekproyek yang didominasi interior. Kadangkala pekerjaan mereka saling silang dan Richardson menangani aspek branding sebuah interior yang diawasi Sadeki, misalnya Lapis Spa di Miami Beach. Kebanyakan, mereka bekerja dalam proyek mandiri dengan fokus utama desain hunian dan bidang hospitality.

SAYA TIDAK TERTARIK MENGELOLA PROYEK MENGENAI PROPORSI ATAU SKALA. SAYA TERTARIK PADA KEBUDAYAAN

I HAVE NO INTEREST IN PROJECTS THAT ARE ABOUT PROPORTION OR SCALE. I’M INTERESTED IN CULTURE

“Saya belum pernah bekerja dengan seseorang sebelum kami memulai firma ini,” kata Sadeki. “Hal ini bagus dan buruk. Kami tidak menciptakan peraturan tertentu. Artinya bahwa kami juga pernah mengalami semua kesalahan yang ada! Saya tertarik pada budaya. Saya tidak membaca majalah arsitektur. Saya cenderung memperoleh inspirasi dari budaya, termasuk kolom-kolom gosip. Bagi saya, hal terpenting saat merancang sebuah ruang adalah mengangkat narasi aslinya. Setiap ruang memilikinya, dan hal itu sangat sinematik. Saya pikir itu sama seperti membuat film, hanya bedanya ruang itu harus dapat ditinggali, dengan program yang spesifik. Saya tidak bisa terlalu konseptual. Hal kedua adalah kami menghabiskan banyak waktu mencari program tersebut, lalu membandingkan dengan program yang ada di seluruh dunia. Kebanyakan, seperti Taikoo Place service apartment yang baru kami selesaikan untuk Swire Properties, mendapat pengakuan internasional. Kami bertanya: bagaimana cara kami membuat sesuatu yang dapat mengangkat tipologi, juga bisa berbeda - out of the box? Hal ketiga adalah bagaimana kami membawa sebuah aura ke dalam alur ruangnya. Saya tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya dengan kata lain selain aura. Aura bisa terinspirasi dari sebuah novel atau sepotong lagu, dan hal yang dapat membentuk rasa maupun energi sebuah ruang.”

Berpengalaman bekerja di banyak tempat seperti Asia, Timur Tengah dan Amerika, Sadeki merasa ada positif negatif saat merancang di benua yang berbeda. “Sangat menantang saat bekerja di Amerika Serikat karena regulasi pemerintah yang ketat,” jelasnya. “Di banyak kota-kota di Amerika, biaya konstruksi sangat tinggi dan kami harus berkompromi agar konsep rancangan kami sesuai anggaran. Kecuali

BAGI SAYA, HAL UTAMA SAAT MERANCANG SEBUAH RUANG ADALAH UNTUK MENGANGKAT NARASI DESAINNYA ITU SENDIRI FOR ME, THE FIRST THING WHEN I DESIGN A SPACE IS TO DEVELOP ITS NARRATIVE

di Las Vegas, kami tidak menghadapi kendala ini. Sementara di Timur Tengah, kendala biaya kurang berarti, namun dari ketersediaan materi tekstil kurang memadai. Kami sampai harus mengusahakan sesuatu dan mengirimkan materi ke sana lewat udara. Hal ini membuat kami menjadi lebih presisi dan tidak tergantung pada tingkat keahlian karyawan di lapangan. Di Asia, kebebasan anggaran juga terbatas namun hasil pekerjaan tangan sangat menakjubkan dan tenaga buruh relatif lebih murah. Menurut saya, Tiongkok Daratan merupakan tempat terbaik untuk mewujudkan konsep dan gagasan. Saya menetap di Hong Kong antara tahun 2009 dan 2010, dan kami menjadi sangat aktif hingga kini sejak 2009. Melalui proyekproyek kami, saya bertemu dengan pihak pabrik dan produsen di Tiongkok Selatan.”

Bagi seorang Sadeki, yang disebut proyek impian adalah merancang sebuah hotel dari kerangka arsitektural hingga mencapai ke berbagai detail seperti tisu toilet dan perabotan lengkap. Ia percaya bahwa jenis proyek seperti ini bisa saja menjadi layak secara finansial bila destinasi menjadi itu sendiri, dan itu bergulir di banyak lokasi lainnya. Untuk berekreasi, ia menghabiskan waktunya banyak di tokotoko buku mencari buku seni dan fashion, atau lari keliling keluar huniannya maupun treadmill untuk menyegarkan pikirannya. “Ada sebuah perbedaan kecil antara waktu pribadi dan kerja saya,” ujarnya. “Saat travel, saya juga bekerja, tapi saya akan selalu mengambil beberapa hari cuti untuk pergi ke manapun yang terdekat dan cuti bekerja untuk sementara waktu.”

www.rsdnyc.com

Many bright and eager young things dream of making it big in Hollywood. There is something infinitely alluring about escaping from the daily grind by ducking into a cinema and getting lost in another world, even if it’s only for a couple of hours. The magic of Hollywood is much like the American Dream itself: anyone can become a movie star or create blockbuster hits. All it takes is talent, luck and a little stardust— or so it appears. For 18- year- old Heidar Sadeki, freshly transplanted from Iran to the States, movie making’s appeal was strong. He immersed himself in seven years of film school and apprenticeships, studying at Purchase State College in White Plains, New York and then Mercer County Community College before working as an assistant cameraman. However, he soon discovered that the path to Hollywood was not paved in gold.

“Only a small number of cinema students become filmmakers,” admits Sadeki, looking back on his youthful optimism. “The rest work in production, unless they are well connected to someone famous in Hollywood. I graduated from film school in my early 20s. The smallest budget for a movie is in the millions of US dollars. Not many producers are willing to trust a young filmmaker with that kind of cash. After working in the industry for a while, I became frustrated. I had absolutely no interest in architecture. But pedagogy interested me. I found it interesting that neither film nor architecture have doctorate programmes in the US. Both are quasi- academic disciplines and are similar— they are about how concepts are put together and how spaces are constructed. Schools of architecture tend to attract intellectuals, while schools of cinema attract people who are more adventurous. I’d had enough adventure by then. I wanted to do something more intellectual.”

MENURUT SAYA, TIONGKOK DARATAN MERUPAKAN TEMPAT TERBAIK UNTUK MEWUJUDKAN KONSEP DAN GAGASAN

I FIND GREATER CHINA THE BEST PLACE FOR REALISING CONCEPTS AND IDEAS

Sadeki credits Elizabeth Diller, the former director of graduate studies at Princeton University’s School of Architecture, for not only easing his acceptance into the programme but also for being his biggest influence while at school. “Liz worked on a lot of conceptual projects with nothing built at the time,” he recalls. “I, too, am attracted to conceptual work. Princeton is one of two schools in the US where you can get away without drawing a single line. It allowed a multidisciplinary approach. That gave the school a different aura.”

While at Princeton, Sadeki became good friends with his future business partner: fellow grad student Clarissa Richardson. The latter had previously studied in London and practised architecture before going back to school to get her master degree. “I really liked her thesis: it was a motel in the Nevada desert designed for viewing UFOs,” he notes with a smile. “There was a window pointed at the sky so that guest could lie down in bed, look up and wait for UFOs to pass by. She was working off the prevalent pop culture.”

Sadeki and Richardson formed their partnership straight out of school, and began to concentrate on interiors that tell narratives. They currently operate studios in Manhattan, Miami Beach and Hong Kong, with a f l uctuating number of staff r anging f rom 11 to 20 people in all three cities. Two years ago, Richardson established a branding studio called One Tomato, which she heads, while Sadeki continues to concentrate on predominantly interior projects. Sometimes their jobs overlap and Richardson works on the branding aspect of an interior that Sadeki oversees, such as Lapis Spa in Miami Beach. Mostly though, they work on independent projects with a strong focus on residential and hospitality design.

“I never worked for anyone before starting our f ir m,” says Sadeki. “That’s good and bad. We don’t give i n to pre - established principles. But i t also means that we’ve made every mistake in the book! I have no interest in projects that are about proportion or scale. I’m interested in culture. I don’t look at architecture magazines. I tend to get my inspiration from culture, including gossip columns. For me, the first thing when I design a space is to develop i ts narrative. Every space has i t, and it’s very cinematic. I think of it like making a movie, except that the space has to be occupied, with a specific programme. I t cannot be t oo conceptual. The second t hing i s t hat we spend a l ot of time researching that programme, and compare i t t o programmes worldwide. Most, such as the Taikoo Place service apartment we recently completed f or Swire Proper t i es, have international precedents. We ask: how can we do something that will enhance the t ypology, yet be different— out of the box? The third element is how we bring an aura into the programme. I don’t know how to describe i t with another word beside aura. The aura could be inspired by a novel or a piece of music, and it sets the feel and energy of the space.”

After working in destinations as varied as Asia, the Middle East and America, Sadeki feels that there are pluses and minuses when designing in different continents. “It’s challenging to work in the States due to the tight government regulations,” he explains. “In major American cities, construction costs are high and we have to compromise our design intent due to budgets. The exception is in Las Vegas, where we don’t have the same scrutiny. In the Middle East, we don’t have as many budgetary restraints but the fabrication is weak. We have to build elsewhere and ship things over there. This allows us to be more precise and depend less on the skill level of people on site. In Asia, there is not as much liber ty with budgets but the workmanship is excellent and the labour is relatively inexpensive. I find greater China the best place for realising concepts and ideas. I lived in Hong Kong between 2009 and 2010, and we have been very active here since 2009. Through our projects, I’ve met many fabricators and manufacturers in southern China.”

For Sadeki, a dream project would be to design a hotel from its architectural shell right down to details such as the toilet paper and furnishings. He believes that this type of project could be financially viable if the destination becomes the brand, and it is rolled out in many locations. To recharge, he spends a lot of time in bookstores looking at art and fashion, or runs either outdoors or on a treadmill to clear his head. “There is very little distinction between my personal and work time,” he admits. “I travel a lot for work, but I will always take a few days off to go somewhere nearby and not work for awhile.”

www.rsdnyc.com

Bathhouse Mandalay Bay Las Vegas

MOUNT PARKER RESIDENCES

MOUNT PARKER RESIDENCES

Arezzo, Hong Kong

Arezzo, Hong Kong

Spa at Yas Hotel, Abu Dhabi

ARGENTA, Hong Kong

TAIKOO PLACE APARTMENTS

ARGENTA, Hong Kong

WHITESANDS, Hong Kong

Boon's Residence, New York

WHITESANDS, Hong Kong

Boon's Residence, New York

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.