LIMITLESS ARCHITECTURE

Luxury Properties (Indonesia) - - CONTENTS - Teks/words: Sophie Kalkreuth

Dari karya arsitektural kurva khas Zaha Hadid hingga bangunan modern dan sederhana karya David Chipperfield, kami membahas berbagai solusi arsitektural teranyar bagi kehidupan modern.

From Zaha Hadid’s curvaceous façades to David Chipperfield’s modern simplicity, we round up the latest architectural solutions for modern living.

Dari karya arsitektural kurva khas Zaha Hadid hingga bangunan modern dan sederhana karya David Chipperfield, kami membahas berbagai solusi arsitektural teranyar bagi kehidupan modern. From Zaha Hadid’s curvaceous façades to David Chipperfield’s modern simplicity, we round up the latest architectural solutions for modern living.

The Ritz Carlton Residences Sunny Isles Beach, Florida

Miami tidak hanya satu-satunya komunitas di Florida Selatan yang sedang dalam masa pembangunan. Sunny Isles, yang terletak di antara Miami dan Fort Lauderdale ini juga mengalami pembangunan skala besar dan eksperimen arsitektural. Bergabung dengan rangkaian gedung-gedung mewah seperti Porsche Tower dan Chateau Beach Residences, menara berbentuk organik ini merupakan karya studio asal Miami, Arquitectonica. Proyek ini terdiri dari 212 unit kondominium, 2.2 hektar lingkungan hijau dan pantai pribadi – sebuah program yang disebut sang arsitek sebagai 'urban oasis'. “Sunny Isles merupakan lokasi yang mengalami paling banyak perubahan di seluruh kota Miami,” jelas Edgardo Defortuna, CEO dari Fortune International Group yang terlebih dahulu pernah mengmbangkan Ritz Carlton Residences Sunny Isles Beach. “Cukup sulit menemukan lokasi dengan pemandangan laut lepas secara langsung di kawasan Miami Beach. Disini, pengembang dapat membangun bangunan besar dengan arsitektural yang ekspresif.” Menara residensial memiliki dua, tiga dan empat tipe kamar tidur dengan luasan dari 1.605 hingga 2.999 meter persegi, serta lima penthouse seluas 3.640 meter persegi. Harga berkisar antara 1,3 hingga 9,8 juta US dollar. Bagian bangunan yang cenderung bulat di bagian paling atas gedung ialah tempat penthouse suite yang masing-masing memiliki kolam renang pribadi. Penthouse ini ditaksir seharga 20 juta US dollar.

Miami is not the only community in South Florida currently getting a makeover. Sunny Isles, located between Miami and Fort Lauderdale, is also the site of large-scale development and architectural experimentation. Joining luxury buildings like the Porsche Tower and the Chateau Beach Residences this organically formed tower was designed by Miami-based studio Arquitectonica. The project will include 212 condominium units, 2.2 acres of lush landscaping and private beach amenities – a program the architects describe as an ‘urban oasis’. “Sunny Isles has had the biggest transformation of all of Miami,” says Edgardo Defortuna, CEO of Fortune International Group who is developing the Ritz Carlton Residences Sunny Isles Beach. “It’s difficult to find oceanfront sites in Miami Beach. Here, developers can do large volume and expressive architecture.” The tower will feature two-, three- and four-bedroom residences ranging from 1,605 sqf to 2,999 sqf and five penthouses of up to 3,640 sqf. Prices range from US$1.3 to US$9.8 million. The building’s rounded profile culminates in a tiered roofline where the penthouse suites each have their own private pool. These are priced at US$20 million.

www.theresidencessunnyislesbeach.com

520 West 28th Street, New York

Dunia arsitektur kembali berduka ketika arsitek peraih penghargaan Pritzker Prize, Zaha Hadid, menghembuskan nafas terakhirnya pada bulan April lalu. Telah mengukir banyak prestasi dalam wujud karya-karya arsitektural yang ikonis, Zaha Hadid memberikan inspirasi bagi banyak orang di seluruh dunia, baik itu komunitas desain maupun publik. Salah satunya ialah proyek residensial pertamanya di New York City. Tidak mengejutkan dengan desain fasad yang khas berupa permukaan kaca berkurva dan struktur baja yang tampak seperti pesawat antariksa membuatnya berbeda dibandingkan bangunan pencakar langit di Manhattan pada umumnya. Bentuk kurva skuptural dan pola chevron pada bagian luar menghadirkan area outdoor yang luas dan meningkatkan tingkat privasi penghuni, yang secara bertahap memisahkan interior dan eksterior. Fasad bangunan dari logam hasil buatan tangan menggambarkan semangat komunitas industrial. Gedung kaca dengan struktur baja sebelas lantai ini berlokasi di West 28th Street, disamping the High Line Park – sebuah oasis urban yang dibangun diatas bekas jalur kereta memanjang melewati berbagai bangunan eksperimental karya arsitek terkenal diantaranya Frank Gehry, Norman Foster and Jean Nouvel. Tampilan gedung yang kontemporer juga terlihat pada interior, hasil kolaborasi Hadid dengan Boffi menciptakan kitchen island dengan linear lengkung. Fasilitas tambahan pada gedung yaitu parkir bawah tanah otomatis, gudang beroperator robot serta apartemen yang dilengkapi dengan fitur 'smart homes'. Gedung ini terdiri dari 21 lantai dan 39 residensial dengan luas 1.691 meter persegi hingga 6.618 meter persegi dari dua sampai lima tipe kamar tidur. Harga berkisar antara 4,95 hingga 50 juta US Dollar.

Pritzker Prize-winning architect Zaha Hadid has designed her first residential building in New York City. Unsurprisingly the curved glass and steel structure looks more like a spaceship than a Manhattan skyscraper. The sculptural curves and chevron patterns on the outside create generous outdoor spaces and enhance privacy, simultaneously merging and separating the interior and exterior. The handcrafted metal façade carries the spirit of the former industrial neighbourhood. The 11-story glass and steel building is situated on West 28th Street beside the High Line Park – an urban oasis built on formerly derelict railway tracks that have attracted a number of experimental buildings by Frank Gehry, Norman Foster and Jean Nouvel, among others. The building’s sleek contemporary look also extends to the interiors, where Hadid worked with Boffi to create curvilinear kitchen islands. In addition to the usual building amenities there will be automated underground parking and a robot-operated storage facility. Apartments will also be fully wired to be “smart homes.” The building features 21 interlaced floors with 39 residences from 1,691 sqf to 6,618 sqf with two- to five-bedroom layouts. Prices range from US$4.95 million to US$50 million.

www.520w28.com

East 44th Street, New York

ODA Architecture telah mengajukan untuk membangun gedung tinggi dengan area bebas berupa sky garden di tengah kota Manhattan. “Dengan 'melebarkan' gedung secara vertikal yang berbeda dari program awal, kami dapat membuat sebuah jarak dengan tinggi sebesar 16 kaki setiap dua lantai,” jelas Erin Chen, pendiri dan direktur eksekutif ODA. Jarak pada gedung ini akan didesain dengan satu lantai penuh taman skuptural menyesuaikan dengan denah gedung, yang bisa diakses langsung dari tiap apartemen. Setiap 2.800 meter persegi apartemen, setengahnya merupakan taman terbuka pribadi yang menggabungkan hidup urban dengan fantasi layaknya halaman rumah di pinggiran kota. Gedung ini akan memiliki 44 unit residensial, dengan satu, dua atau tiga tipe kamar tidur yang dilengkapi juga oleh duplex penthouse. “Ada diskonektivitas antara bagaimana kita hidup di kota dengan apa yang kita butuhkan sebagai manusia untuk kualitas hidup yang baik. Saya rasa kita tak perlu harus memilih antara tetap bertahan hidup di kota atau pindah ke pinggiran kota,” kata Chen. Area taman dengan jarak langit-langit yang tinggi akan memaksimalkan cahaya matahari masuk dari core inti dan desain perimeter pada gedung menurunkan tingkat kecepatan angin tanpa harus mengorbankan pemandangan kota 360 derajat. Gedung dengan taman vertikal telah diajukan di Eropa dan Asia, tetapi konsepnya tak seunik di Manhattan. Pembangunan akan dilakukan pada musim semi ini.

ODA Architecture has proposed a midtown Manhattan skyscraper with open floors for sky gardens. “By ‘stretching’ the building vertically beyond its original program, we were able to create gaps, 16 feet in height, between every two floors,” explains Erin Chen, founder and executive director at ODA. The gaps in the building will contain full floor sculptural gardens equal to the footprint of the building, and will be directly accessible from each apartment. Every 2,800 sqf apartment will have 1,400 sqf of open private gardens, combining urban living with the suburban backyard fantasy. The tower will contain 44 residential units in total, with one-, two- or three-bedroom layouts and a duplex penthouse. “There is a huge disconnect between how we live in our cities and what we need, as human beings, for quality of life. I don’t think that we should be forced to choose between enduring in the city or escaping to suburban areas,” says Chen. The expansive height of the garden space will also permit a suffusion of sunlight throughout and the central core and perimeter design will dramatically reduce the wind load without sacrificing the 360-degree view. Buildings with vertical gardens have been proposed in Europe and Asia, but the concept is something of a novelty for Manhattan. Construction is scheduled to begin in the spring.

www.oda-architecture.com

Caye Sereno, Ha Long Bay

Studio arsitektur asal Brasil, MK27 telah merampungkan desain Caye Sereno, sebuah komunitas residensial eksklusif di tepi pantai Ha Long Bay, Vietnam. Didesain oleh Marcio Kogan dan Maria Cristina Motta, proyek ini terdiri dari 18 vila mewah yang menawarkan pemandangan pulau-pulau kecil tersebar di penjuru teluk. Di Brasil, Marcio Kogan terkenal akan vilanya yang terinspirasi oleh abad pertengahan dengan desain area indoor dan outdoor yang harmonis. Di sini, gaya khasnya diadaptasi untuk rumah pesisir, dengan area indoor dan outdoor yang luas serta area balkon yang menghadap infinity pool. Vila didesain dengan concrete slab yang melintang, terbuat dari batu alam masonry dan dinding kaca yang dapat dipindah sehingga menciptakan area tinggal yang fleksibel. Pada lantai atas, terdapat beberapa master suite yang masing-masing menawarkan pemandangan teluk. Berlokasi di ujung selatan pulau Tuan Chau, proyek ini dapat dijangkau dengan perjalanan udara melalui Hanoi (Bandara Internasional Noi Ban) dari Singapura, Hong Kong, Guangzhou, dan pesawat sewa dari Macau ke Hai Phong (Bandara Internasional Cat Bi). Harga ditaksir dari 3,5 juta US Dollar.

Brazilian architecture studio MK27 has completed the design of Caye Sereno, an exclusive beachfront residential community in Vietnam’s picturesque Ha Long Bay. Designed by Marcio Kogan and Maria Cristina Motta, the project comprises 18 luxury villas that offer unobstructed views of the bay scattered with small limestone islands. In Brazil, Marcio Kogan is known for his mid-century inspired villas that seamlessly blend indoor and outdoor living. Here, his style is adapted for beachfront living, with expansive indoor and outdoor living areas and cantilevered volumes that protrude over the infinity pools. The villas feature streamlined concrete slabs punctuated by natural stone masonry and movable glass walls that provide highly flexible living spaces. The upper levels include spacious master suites, each of which affords views of the bay. Located at the southern edge of Tuan Chau Island, the project is accessed by flight connections through Hanoi (Noi Bai International Airport) from Singapore, Hong Kong, Guangzhou, and charter flights from Macau to Hai Phong (Cat Bi International Airport). Prices start from US$3.5 million.

cayesereno.com

www.savills.com.vn

The Bryant, New York

Arsitek David Chipperfield dikenal akan desainnya yang sederhana namun cerdas. Gedung residensial pertamanya di Manhattan, The Bryant, berlokasi di Bryant Park dengan arsitekturnya yang sederhana dan tidak menarik banyak perhatian. Desain struktur dan fasadnya sama. Keduanya terbuat dari polished concrete yang memberi kesan gedung ini tektonik dan kokoh. “Dengan desain ini, gedung mengurangi elemen kolom dan pemakaian jendela, void yang padat, massa dan ruang,” jelas Sir David Chipperfield. “Saya rasa Anda dapat membuat arsitektur dari hal-hal yang sederhana, tak perlu rumit.” Dengan 57 unit residensial dari tipe satu hingga empat kamar tidur pada lantai 16 hingga 34 – termasuk dua triplex penthouse – tiap residensial memiliki jendela yang terbingkai elegan antara lantai dengan langitlangit di sudut ruang, serta pintu geser yang berperan mengaburkan batas antara ruang dalam dan luar. Gedung berfasad terrazo yang dirancang khusus ini selaras dengan interior gedung, membuat bingkai arsitektural dari berbagai jendela di tiap unit dan batas bagi lantai pola herringbone berwarna hangat. Tipe satu kamar tidur dimulai dari 2.225.000 USD. Karena kawasan sekitarnya sudah menjadi sebuah landmark tersendiri, gedung ini akan menjadi sebuah tahap akhir pembangunan di Bryant Park.

Architect David Chipperfield is known for his design ethos of intelligent simplicity. His first residential building in Manhattan, The Bryant, is located on Bryant Park and the architecture is notable precisely because it does not call attention to itself. In the design, the structure and the façade are one in the same. They are made out of polished concrete, giving the building a tectonic and physical presence. “Through this, the building is reduced to elements of columns and windows, of solid void, mass and space,” says Sir David Chipperfield. “I think you can make architecture out of very simple things, it doesn’t have to be complicated.” With 57 one- to four- bedroom residences on floors 16 through 34 – including two triplex penthouses – each residence will have elegantly framed floor-to-ceiling windows, at least one corner exposure, and sliding doors that blur the division between inside and outside. The building’s custommade aggregate terrazzo façade also transitions seamlessly into the interiors, creating crisp architectural frames to the multiple windows in each residence and a border for the warm-toned herringbone floors. Onebedroom residences start from US$2,255,000. Due to its landmarked surroundings, the building will be the final development site on Bryant Park.

www.thebryantnyc.com

Istanbul Summits, Istanbul

Pembangunan gedung-gedung di Istanbul yang kini semakin meramaikan horison ibukota, mengundang banyak kritik bahwa perubahan ini tidak menghiraukan lingkungan. Diantaranya ialah Julien de Smedt Architects, yang mengajukan sebuah tipologi baru untuk kawasan residensial di puncak Istanbul. Komunitas ini akan dibangun di antara Esenyurt dan Bahçesehir, sebuah kawasan yang sedang mengalami pertumbuhan yang cepat. Proyek ini memiliki tiga program untuk residensial yang terintegrasi dengan alam, menawarkan berbagai pelayanan dan pengalaman. The Cappadocia Residences memiliki bentuk yang menyerupai bentuk batu yang paling terkenal di Turki dengan area tengah berupa void yang mengesankan suasana privat sekaligus menjadi area komunal. Infinity Park berperan sebagai 'winding residential wave' yang bentuknya campuran antara apartemen low-rise dan mid-rise. Tetris Village diperuntukkan untuk keluarga dengan lingkungan yang aman dan nyaman serta terdapat rooftop sebagai ruang fasilitas tambahan.

Istanbul’s recent building boom has added a number of new towers to the city’s historic skyline, leading some critics to argue that the transformation has created a skyline of solitary blocks without regard for their environment. Among these is Julien de Smedt Architects, who have proposed a new typology for residential living with Istanbul Summits. The ambitious community is to be built between Esenyurt and Bahçesehir, an area currently undergoing rapid growth. It includes three programs for residential living that integrate nature with a diversity of services and experiences. The Cappadocia Residences features a shape reminiscent of Turkey’s famous rock formation, and includes a central void that grants privacy and creates a communal space. Infinity Park is conceived as a ‘winding residential wave’ whose shape mixes low-rise and mid-rise residential apartments. Tetris Village is geared towards families with a more enclosed and protective environment and a large accessible rooftop amenity space.

www.jdsa.eu

Vancouver House, Vancouver

Rancangan sebuah gedung pencakar langit yang terpuntir setinggi

150 meter di Vancouver ini baru saja dinobatkan sebagai Future Project tahun 2015 pada ajang World Architecture Festival. Studio asal Denmark ini memuntir bentuk gedung yang akan berlokasi disamping Granville

Bridge dan membuat jarak 30 meter dengan jembatan layang sekitar sehingga mencegah pemandangan langsung dari jendela dan balkon. Para juri memilih proyek ini karena meminimalkan efek destruktif dari jalan tol sekitar dan menjadi contoh sebuah tipologi urban yang baru. Proposal ini menampilkan 600 unit residensial pada menara setinggi 49 lantai, yang menjadikannya bangunan tertinggi ke-empat di kota. Sembilan lantai pada bagian dasar menara merupakan tempat kantor, toko, dan restoran, yang akan menjadi sebuah plaza yang memanjang di bawah jalan tol. “Menara ini merupakan turunan kontemporer dari The Flatiron Building di New York City – yang mengisi area kosongnya untuk tempat tinggal karena lokasi gedung yang jauh dari bising dan kemacetan kota,” papar Bajrke Ingels, pendiri dari BIG. Siluet gedung berubah dari berbagai sudut pandang dan menyerupai sebuah tirai ketika disisihkan, seakan menyambut penghuni kota ketika mereka datang melewati jembatan.

BIG Studio’s proposal for a 150-metre-high twisted skyscraper in Vancouver recently won the title Future Project of the Year 2015 at the World Architecture Festival. The Danish studio contorted the form of the skyscraper, which will be located next to the Granville Bridge, and created a 30-metre setback from the adjacent overpass that prevents any windows or balconies from overlooking it. The judges selected the project because it mitigates the destructive impact of the adjacent motorway and “generates an exemplary new urban typology." The proposal calls for 600 residential units occupying the 49-story tower, which would become the city’s fourth tallest building. Nine floors at the base of the tower will accommodate offices, shops and restaurants, which will spill out onto a series of public plazas that stretch underneath the elevated highway. “The tower is a contemporary descendant of the Flatiron Building in New York City – reclaiming the lost spaces for living as the tower escapes the noise and traffic at its base,” says Bjarke Ingels, Founding Partner of BIG. The building’s silhouette changes from every angle and resembles a curtain being drawn aside, welcoming people as they enter the city from the bridge.

www.vancouverhouse.ca

Tour des Cedres, Lausanne

Arsitek asal Italia Stefano Boeri terpilih untuk merancang gedung residensial setinggi 117 meter di Lausanne, Swiss. Proyek ini memiliki banyak kesamaan dengan karya arsitek sebelumnya dari gedung Bosco Vertical di Milan yang menjadi rumah bagi 100 pohon, 6.000 pohon kecil dan 18.000 tanaman perenial. Unit apartemen didesain agak menjorok ke arah luar dari stuktur ini menawarkan pemandangan ke arah Danau Geneva, dan atapnya didesain untuk tempat berbagai tanaman. Boeri menjelaskan bahwa gedung di distrik Chavannes-Près-Renens akan menjadi gedung pertama di dunia yang akan diselimuti oleh tanaman hijau yang tahan akan iklim ekstrem dan bermanfaat bagi lingkungan karena daunnya menyerap CO2 dan memproduksi oksigen. “Bangunan dengan banyak pohon Cedar ini akan memberikan kesempatan bagi gedung yang polos untuk memiliki peran yang sangat penting bagi lansekap kota Lausanne,” jelas Stefano Boeri. “Arsitektur seharusnya mengenalkan biodiversitas yang signifikan akan spesies vegetasi di tengah kota Eropa yang penting ini.” Bangunan ini akan memiliki 36 lantai yang terdiri dari residensial privat, kantor, dan area komersial juga fasilitas tambahan seperti tempat kebugaran dan restoran pada rooftop.

Italian architect Stefano Boeri has been chosen to build a 117-metretall residential tower in Lausanne, Switzerland. The project bears many similarities with the architect’s previous Bosco Vertical building in Milan and will house more than 100 trees, 6,000 shrubs and 18,000 perennials. The apartment units protrude from the structure and offer views toward Lake Geneva, while their roofs are designed to accommodate plants. According to Boeri, the building in the ChavannesPrès-Renens district of the city will be the first tower in the world to be covered with evergreen trees, selected in part for their ability to withstand harsh climates, and also the environmental function of their leaves, which absorb CO2 and produce oxygen. “With the Tower of Cedar Trees we will have the opportunity to realize a plain building that will have a great role in the Lausanne landscape,” says Stefano Boeri. “Architecture is able to introduce a significant biodiversity of vegetal species in the middle of an important European city.” The tower will comprise 36 floors and include private residences, offices and commercial space. There will also be a gym and a rooftop restaurant.

www.stefanoboeriarchitetti.net

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.