SPACES

Luxury Properties (Indonesia) - - CONTENTS - Teks/words: Dionne Bel

Sebuah hunian privat, butik, perkantoran atau showroom, sentuhan Chahan Minassian dalam merancang interior sarat akan sentuhan budaya.

Whether it’s a private residence, hotel, boutique, office or showroom, Chahan Minassian’s interiors are area an opulent fusion of cultures.

Resor di Gstaad, bank di Zurich, rumah di Jenewa atau Mustique, hingga apartemen prestisius di Paris atau London sampai vila bergaya country di Quebec. Semua itu hanyalah sebagian proyek yang ditangani oleh Chahan Minassian. Telah menjelajah hampir seluruh sudut dunia, nuansa kosmopolitan yang lahir dari torehannya banyak mengadopsi gaya kemewahan Prancis, kenyamanan khas Amerika, dan bubuhan unsur Timur. Terbayang residensial di apartemen pencakar langit di New York berfitur pahatan dinding karya Peter Lane, bebatuan, kashmir, atau anyaman kulit halus layaknya 'limusin di udara'. Nuansa tegas dan sensual di Italia menampilkan aksentuasi planel, suede, anyaman kulit, kaca-kaca, balutan stainless steel dan dominasi abuabu menyuguhkan atmosfer otomotif California; sebuah desain khusus yang diaplikasikan pada yacht pribadi sepanjang 100 meter dipenuhi material premium seperti lacquered teak, walnut, nikel, embos kulit buaya, linen, siluet garis horizontal pada bahan dan pemolesan akhir dengan teknik jahitan tangan yang dibuat penuh ketelitian.

“Bicara mengenai desain maka tak lekang dari ketajaman mata, menempatkan secara bersama proposisi ruang, pembagian ruang, dan elemen lain yang dipenuhi oleh kurator terpilih,” ungkap Minassian saat mendefinisikan karyanya. “Subsidi antar elemen dan padu padan adalah esensi penting. Paras monokrom dan tekstur menjadi ciri khas desain saya. Abadi, nyaman, dan keindahan adalah pandangan objektif saya.” Penerapannya dalam membuat harmonisasi ruang terpapar dalam Hôtel de Crillon di Paris: ia turut ambil bagian dalam pembaruan hotel Place de la Concorde yang dibuka tahun 2016 ini, setelah ditunjuk oleh keluarga Kerajaan Saudi Arabia sebagai pemilik hotel tersebut.

Minassian menjelaskan tahap kreativitasnya: “Setiap proyek tentu memiliki ukuran, lokasi, dan klien yang berbeda. Jadi saya menerapkan pendekatan yang berbeda pula. Hal itu bisa berangkat dari struktur ruang, pewarnaan, benda- benda di dalamnya, dan bisa saja ide saya rampung dalam waktu 30 menit. Selebihnya adalah bagaimana mewujudkan semua ide tersebut ke dalam presentasi bagi klien dengan representasi yang tentu saja terbatas. Memahami kelebihan tekstur, material, dan furnitur akan melengkapi seluruh elemen interior itu sendiri.” Seolah ingin keluar dari pakem yang ada, penampilan interior didominasi oleh warna-warna pastel, Minassian membalurkan warna-warna cerah dengan material premium seperti galuchat atau lacquered.

MENGADOPSI SEBUAH KONSEP PADA DESAIN, SESUAIKAN DENGAN YANG ANDA SUKA, TIDAK ADA KOMPROMI DALAM KUALITAS DAN BATAS.

Chalets in Gstaad, a bank in Zurich, a house in Geneva and another in Mustique, prestigious apartments in Paris and London and country villas in Quebec. These are just some of the projects interior designer Chahan Minassian has worked on. Well-travelled, his cosmopolitan style is the result of a marriage between high-end French-style decoration, American glamour and comfort, and a sense of Eastern refinement. Imagine a home in a high-rise, transparent building in New York featuring a Peter Lane sculptural wall, stone, cashmere and woven suede like a “limousine in the air”; a sleek and sexy interior in Italy showcasing flannel, suede, woven leather, mirrors, stainless steel and greys in a California-meets-race cars atmosphere; and a custom-designed 100-metre-long private yacht incorporating lacquered teak, walnut, nickel, shaved quartz, matte crocodile, linen, parchment, horizontal stripes and hand-stitched finishes throughout.

“It is all about selection with a sharp eye, putting together architectural volumes, and scaling rooms and their contents with a curator’s approach,” Minassian says about his design language. “Complementarity and mixtures are important. Monochromes and textures mark a lot of my interiors. Timelessness, comfort, serenity and beauty are my objectives.” His gentle and muted harmonies have even seduced the Hôtel de Crillon in Paris: the decorator is participating in the renewal of the luxury hotel at Place de la Concorde set to open its doors next year, having been handpicked by representatives of the Saudi Arabian royal family – the hotel’s owner – to redo its interiors.

Minassian describes his creative process: “Every project is different in size, location, client, light, etc., so the starting point varies. It could be a room size, a colour, a piece of art, a flair that stands out first, and then in 30 minutes my concept is born. The rest is putting it down on paper and helping the client visualise it, but with very limited representations. Viewing textures, materials and furniture gives more sensibility to the end project.” Against a restrained colour palette of ivory, beige, taupe and bronze, with an occasional splash of blue or aubergine, he injects his passion for sophisticated and precious materials such as galuchat, lacquer and tortoiseshell.

In his interior design commissions, Minassian enjoys combining furniture from the 1930s to the 1960s by noteworthy American designers – like Vladimir Kagan, Paul Evans, Karl Springer and Paul Laszlo – with his own studio- designed, handmade and individuallynumbered line of furniture and lighting – which ranges from a bronze daybed, python armchair and lamp in gypsum to a coffee table in parchment and screen in eel skin (having decided to manufacture his own pieces when he failed to find exactly what he was looking for) – and decorative objects created by the contemporary artists he promotes, even regularly hosting art exhibitions of their work in his galleries.

Pada firma desain miliknya, Minassian menyukai paduan gaya furnitur tahun 1930- an hingga 1960- an terinspirasi para perancang seperti Vladimir Kagan, Paul Evans, Karl Springer, dan Paulo Lazlo – di studio miliknya yang ia desain sendiri dengan beragam kreasi furnitur dan lampu – mulai dari ranjang beraksen tembaga, kursi bermaterial kulit piton, lampu gantung, hinga coffee table berlapis perkamen kayu dan paparan kulit belut (akhirnya ia memutuskan untuk menyesaikan karyanya tersebut di pabrik setelah ia kesulitan menemukan material yang dicari) – dan elemen dekoratif lainnya seperti karya seni dari seniman yang ia ajak bekerjasama yang tak jarang turut ditampilkan dalam setiap ekshibisinya.

Lahir tahun 1961 di Lebanon, berasal dari Armenia, dan dibesarkan di Paris, Minassian menetap di Prancis sejak tahun 1976 dan mengenyam pendidikan desain interior di Paris. Ia mencetak debut pertama untuk Ralph Lauren di usia 26 tahun, kemudian menduduki posisi sebagai Creative Director selama tujuh tahun (sebuah pengalaman yang mendedikasikan dirinya pada pemikiran adaptasi konsep dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata), sebelum mendirikan firma desainnya sendiri, Chahan Interior Design, tahun 1993 di Paris, ia menjadi desainer untuk sejumlah butik mewah dengan atmosfer yang dekat dengan persona dirinya. Proyek pertamanya antara lain restoran Starfish di Miami Beach. Kesuksesan dan keunikan desainnya pada restoran ternama itu membuat kiprahnya kian berkibar hingga ke Jepang dan Hong Kong dari tahun 1994 sampai 1997. “Asia adalah wahana untuk berkembang dan masih akan terus berkembang dengan segala kekayaan yang dimiliki. Saya sangat menikmati mendapat kesempatan untuk berkarya di sana dengan memadukan antara elemen budaya dengan modernisme.”

Saat ini ia tengah mengerjakan 20 proyek hunian, ia begitu sibuk hingga tak jarang kurang istirahat, namun kecintaannya pada desain membuatnya terus bersemangat. Setiap hari ia bangun pukul 5:30 pagi, membuka email, merencanakan jadwal harian, dan menggagas ide- ide segar. Ia menghabiskan waktu tiga atau empat hari dalam satu minggu untuk pelesiran, mengambil empat sampai delapan penerbangan destinasi berbeda untuk bertemu klien, atau sekadar mencari inspirasi. Ia menambahkan, “Saat berpergian saya tidak hanya berlibur, saya juga menghabiskan waktu mengunjungi beberapa proyek, saya hidup dengan moblilitas sangat tinggi, 350 sampai 450 email setiap hari adalah hal biasa bagi saya. Saya juga senantiasa mengawasi koordinasi jalannya sebuah proyek dari awal hingga akhir. Saya juga membagi waktu untuk wawancara, pemotretan, atau memantau kondisi galeri saya di Los Angeles dan Paris.”

Sejak awal September hingga 23 November 2014, majalah Architectural Digest meluncurkan edisi kelima yang mengulas tentang ekshibisi AD Intérieurs yang dilaksanakan pertama kali di Museum of Decorative Arts di Paris dan Minassian terlibat di dalamnya. Konsep di balik ekshibisi prestisius ini adalah untuk mengapresiasi pesohor desain yang sedang meroket di industri kreatif dengan karya-karyanya yang menakjubkan. Pada edisi 2014, sebanyak 16 desainer – termasuk Tristan Auer, Noé Duchaufour-Lawrence, Luis Laplace, François-Joseph Graf, dan Caroline Sarkozy – digaet untuk merancang 13 ekshibisi hasil kurasi koleksi museum, funitur bersejarah dari beragam gaya dan era. Ekshibisi ini tercipta dalam beraneka ruang seperti area ruang ganti, ruang baca, sampai ruang kantor yang membaurkan nuansa masa lalu dengan gurat kontemporer masa kini.

Minassian menyumbangkan karya berupa meja dengan kaca bercat tertutup hingga menimbulkan sebuah refleksi, material stainless steel untuk pesawat jet, dirangkai satu sama lain yang telah dirancang sebelumnya oleh pemahat legendaris Prancis César dan diberikan kepada Museum of Decorative Arts dari kurator Marcel Lefranc tahun 1992. Gubahan ini layaknya ruang kerja presiden dengan ruang yang luas, hiasan kaca berpigura dengan detail menawan, kursi yang megah layaknya singgasana kerajaan, dan rangkaian pedang sebagai aksen dekorasi di belakang meja. Minassian mengungkapkan, “Ruang ini mencitrakan 'kekuasaan', kesunyian yang melambangkan kekuatan bisa dirasakan dari guratan simetris pada arsitektur dan materialnya.”

www.chahan.com

Lebanese by birth, of Armenian origin and Parisian by adoption, Minassian was born in Lebanon in 1961, arrived in France in 1976 and studied interior design in Paris. He made his debut at Ralph Lauren at the age of 26, serving as European creative director for seven years (an experience that he credits with teaching him lessons like “adopt a concept, adapt it to anything you like, no compromise on quality and the world has no frontiers”), before setting up his own firm, Chahan Interior Design, in 1993 in Paris, creating commercial spaces for luxury brands and personalised atmospheres for private residences around the world. His first project was a new concept for a restaurant, Starfish, in Miami Beach. That put him on the map, followed by numerous store and home projects in Japan and Hong Kong from 1994 to 1997. “It was very exciting, with a great reception of my work and a real cultural blend,” he recalls. “Asia has been in full bloom and it seems like it has a long journey of development ahead. It’s very exciting to see the international way of mixing all aesthetics. I hope that the Asian identity will maintain a strong mark in the long run.”

Currently working on over 20 residential projects, the workaholic finds little time for sleep, but it’s his passion that keeps him going. A typical work day sees him waking up at 5.30am, starting with catching up on emails, planning his schedule and structuring his team’s different missions. He spends three to four days per week travelling, taking four to eight flights to different international destinations for site visits, design meetings or client presentations. He discloses, “Those days get intense wherever I go, usually spread between site visits, looking at floor plans and designs, correcting all construction sites, planning all future schedules and designing as I walk, talk, drive or fly. No lunch breaks or lunches outside. I read my 350 to 450 emails a day on my iPhone as I am doing whatever it is that I have to do, and manage to coordinate answers between my team and outside suppliers. I also source all furniture, accessories and art for my projects. This is an unconditional point for my clients. I respond to interviews twice a week and squeeze in a photo shoot almost once or twice a month. When travelling or at home, I dine around 10pm. I sleep at 2am after having read the daily activity reports of both my Paris gallery and Los Angeles Gray gallery.” Starting last September until 23 November 2014, Architectural Digest magazine held the fifth edition of its AD Intérieurs exhibition for the first time at the Museum of Decorative Arts in Paris, in which Minassian participated. The concept behind the prestigious annual event is to give carte blanche to some of the biggest names in decoration and interior design, who create a top- of-the- range display around a common theme. For the 2014 edition, 16 designers – including Tristan Auer, Noé Duchaufour- Lawrence, Luis Laplace, François-Joseph Graf and Caroline Sarkozy – were invited to create 13 “live- in décors” based on a masterpiece selected from among the museum’s collections, historic pieces of furniture covering a wide spectrum of styles and eras. Inspired by these renowned decorators and in collaboration with exceptional artisans, dressing rooms, reading lounges, offices and boudoirs took on a new dimension of elegance and harmony combining unusual objects, exotic materials, rare pieces and works of art

Minassian opted for a desk with a tinted glass top covered in reflective, stainless steel jet engine blades, welded to one another, which had been made in 1966 by the famous French sculptor César and given to the Museum of Decorative Arts by Marcel Lefranc in 1992. The result was a presidential office with large, patinated mirrors framed by majestic arches, a throne- armchair sitting behind the desk and a collection of swords displayed on the walls behind. Minassian remarks, “The room generates a feeling of ‘power’, a silent and serene yet evident power that doesn’t need to be mentioned but experienced through the architectural symmetry and materials.”

www.chahan.com

ASIA TELAH LAMA BERKEMBANG PESAT DAN TAMPAKNYA TELAH MELALUI PERJALANAN PANJANG UNTUK BERKEMBANG LAGI. AMAT MENARIK MENYAKSIKAN CARA INTERNASIONAL DALAM MEMADU ESTETIKNYA. ASIA HAS BEEN IN FULL BLOOM AND IT SEEMS LIKE IT HAS A LONG JOURNEY OF DEVELOPMENT AHEAD. IT’S VERY EXCITING TO SEE THE INTERNATIONAL WAY OF MIXING ALL AESTHETICS.

AD Intérieurs 2014 exhibition, Museum of Decorative Arts di Paris; Foto: Claire Israël / AD France AD Intérieurs 2014 exhibition, Museum of Decorative Arts in Paris; Photo: Claire Israël / AD France

Kontribusi Minassian untuk AD Interieurs 2012 bertempat di Artcurial, Paris Minassian’s contribution to AD Intérieurs 2012 held at Artcurial in Paris

The Minassian-dirancang untuk AD Interieurs 2011, Artcurial di Paris The Minassian-designed room for AD Intérieurs 2011, Artcurial in Paris

Interior designer Chahan Minassian; Credit: Foto Mathieu Ferrier

Interior designer Chahan Minassian; Credit: Photo Mathieu Ferrier

Parisian residence dirancang oleh Minassian Parisian residence designed by Minassian

Townhouse dirancang oleh Minassian Townhouse designed by Minassian

Meja konsol yang dirancang oleh Minassian Console table designed by Minassian

Konsep kantor bertema presiden untuk AD Interieurs 2014 Presidential office-themed concept for AD Intérieurs 2014

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.