ART

Luxury Properties (Indonesia) - - CONTENTS - Teks/Words: Ira Dzakira Dewi Foto/Photo: Courtesy of Hanafi, LP Indonesia, National Gallery of Indonesia

Apa itu Jawa? Apakah teritori Jawa hanya sebatas dalam bahasa Jawa? Berlatar belakang dari pertanyaan tersebut, seorang perupa Indonesia, Hanafi, membuka kembali sebuah pameran dialog inspiratif mengenai kawasan historis dunia Jawa.

What is Java? Is the Java Island merely bounded within its native language? To explore the answer behind that question, an Indonesian artist, Hanafi, reopened an inspiring dialogue exhibition about the historical world of Java.

Setelah melewati berbagai tikungan dan lompatan selama 25 tahun rentang perjalanan karirnya, pada awal Maret 2016 lalu, Hanafi Muhamad kembali menggelar pameran tunggal bernama Pintu Belakang | Derau Jawa. Ekshibisi yang bertempat di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta ini dikuratori oleh Agung Hujatnikajennong dan dibuka oleh budayawan Goenawan Mohammad. Bagi Hanafi, panggilan akrabnya, Jawa merupakan sebuah budaya yang mayoritas masih menggeliat hingga kini, jawa adalah kultural spesifik yang diikat oleh bahasa, tata cara hidup, dan sistem kepercayaan, serta nilai-nilai yang dianut oleh suatu kelompok. Sedangkan derau diartikan sebagai noise atau semacam suara yang tidak diinginkan.

Arti derau pada pameran ini diterjemahkan Hanafi ke dalam beberapa bentuk narasi, simbol, mitos yang nyaris hampir terlupakan, hingga gaung dimensi ruang yang menggambarkan waktu dan kejadian di masa lampau. Melalui pameran Pintu Belakang | Derau Jawa, diharapkan para penikmat dapat melihat imajinasi lain mengenai Jawa. Pintu belakang dalam kehidupan masyarakat Jawa berhubungan dengan istilah 'jalan belakang' untuk berbagai hubungan informal tanpa publik. “Kalau pulang ke rumah, aku lebih suka masuk lewat pintu belakang, pintu depan selalu memunculkan bayangan bapak yang duduk di kursi menatap lurus keluar pintu,” begitulah kalimat yang terlontar dari pria lulusan Sekolah Seni Rupa Indoensia (SSRI). Menurutnya, pintu belakang sebuah rumah kadang tidak berfungsi sebagaimana awal rumah itu terbentuk. Terkadang halaman

After coming across various nooks and turns over the past 25 years of his career, on early March 2016, Hanafi Muhamad once again presented a solo exhibition called Pintu Belakang | Derau Jawa. The exhibition held in the National Gallery of Indonesia, Jakarta, is curated by Agung Hujatnikajennong and opened by the humanist, Goenawan Mohammad. For Hanafi, his nickname, Java is a culture that is still regarded highly by the majority until today—java portrays a distinct culture that is bounded by language, lifestyle, and a set of beliefs, along with many qualities adopted by the community. While Derau is defined as somewhat an undesirable noise.

Derau in Hanafi’s exhibtion is translated through forms of narrations, symbols, and myths that are nearly forgotten, as they surround the space with echoes from events in the past. Pintu Belakang | Derau Jawa allows the audience to imagine Java at a different perspective. A back door in the Javanese culture conveys the idea of going through an alternative access, thereby avoiding the road taken by everyone. “Whenever I’m going home, I prefer using the back door, because the front door always has the impression of an old man sitting on a chair and staring out of the door,” said the man who graduated from Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI). According to him, the back door of a house often serves no purpose when it was initially built. Sometimes, the backyard turns to be an empty space, which tends to be occupied with trash. “If we don’t have a back door, we don’t have to go home. The house becomes a place to leave from instead,” said the artist born in Purworejo in 1960.

belakang berubah menjadi ideologi yang kosong dan cenderung diisi dengan sampah. “Kalau kita tidak punya pintu belakang, kita tidak punya pulang. Rumah menjadi tempat untuk pergi,” lanjut tutur dari perupa kelahiran Purworejo 1960 ini.

Pameran Pintu Belakang | Derau Jawa, selain untuk menjawab pertanyaan apakah Jawa itu, juga sebagai arus balik Hanafi saat melihat konsep pintu belakang dalam tata ruang rumah Jawa.

Terdapat sembilan seni instalasi, sebelas lukisan, dan dua video yang dipamerkan. Sebelumnya di penghujung tahun 2015, sang perupa telah membawa pikirannya mengenai Jawa ke Galeri Soemardja, ITB, Bandung, berjudul Oksigen Jawa. Pameran tersebut adalah sebuah episode baru sang seniman yang tertarik mempersoalkan Jawa dari perspektif versi dirinya. Namun, apa perbedaan pameran Oksigen Jawa dengan Derau Jawa? Sang kurator, Agung Hujatnikajennong mencoba memaparkan perbedaan tersebut, pada Oksigen Jawa dimetaforkan sebagai udara, namun pada Derau Jawa ini, Jawa bermetafora menjadi bunyi. “Menghirup udara kadang tidak sadar, namun untuk menangkap bunyi terlebih mencari noise, tentu butuh kesadaran. Pada Oksigen Jawa, basisnya ingatan, tapi Derau Jawa ini diamati, karena terdapat ada intensi yang lebih serius untuk memahami apa itu Jawa” jabarnya.

Sejak awal tahun 1990 hingga awal 2016 ini, Hanafi telah menggelar 39 pameran tunggal dan 80 pameran bersama. Kesuksesan lainnya dilihat dari sejumlah penghargaan seni yang telah ia raih, seperti sepuluh terbaik Philip Morris Award, Anugerah Kebudayaan Universitas Indonesia dan Indofood Art Award (2002 dan 2003).

KALAU KITA TIDAK PUNYA PINTU BELAKANG, KITA TIDAK PUNYA PULANG. RUMAH MENJADI TEMPAT UNTUK PERGI. IF WE DON’T HAVE A BACK DOOR, WE DON’T HAVE TO GO HOME. THE HOUSE BECOMES A PLACE TO LEAVE FROM INSTEAD.

Besides answering the question “what is Java”, Pintu Belakang | Derau Jawa exhibition also serves as Hanafi’s point of view when looking at the concept of a back door in a traditional Javanese house. There are nine art installations, eleven paintings, and two videos displayed at the exhibition. Previously, Hanafi had brought his ideas about Java in an exhibition called Oksigen Jawa in 2015, to Gallery Soemardja, ITB, Bandung. However, what differs Derau Jawa with Oksigen Jawa? According to the curator Agung Hujatnikajennong, Oksigen Jawa is a metaphor for air, while Derau Jawa uses noise as a metaphor to represent Java. “We sometimes don’t realize we are breathing in air, however we certainly need to be aware to detect noise, especially to look for where it’s coming from. At Oksigen Jawa, the point is reminiscence, but Derau Jawa needs to be analyzed because is a more profound intention to understand what Java is,” he said.

Since 1990 until the beginning of 2016, Hanafi has held 39 solo exhibitions and 80 joint exhibitions. He has also received several awards such as the top ten artists at Phillip Morris Award, Anugerah Kebudayaan Universitas Indonesia and Indofood Art Award (2002 and 2003).

Not Seeing You, 2016,

200 x 220 cm, Acrylic on Canvas.

Java Demography On Baby Stroller, 2016, 220 x 235 cm, Acrylic on Canvas.

150 wooden clogs on plate, wire, and ram installation.

Instalasi dari 150 bakiak kayu pada lempengan tembaga dan kawat.

Asmorodono, 2016, 230 x 140 cm, Mix media.

Arc Time, 2016, 220 x 235 cm, Acrylic on Canvas.

Sangir Land, 2015, 160 x 200 cm, Acrylic on Canvas.

Hanafi Muhammad

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.