Wandering Gunung Kidul

Maxim (Indonesia) - - Contents - TEKS & FOTOGRAFI Astri Apriyani

Namanya memang gunung tapi siapa yang sangka di baliknya terdapat jejeran pantai yang menawan.

Di penghujung Oktober 2015, saat musim kemarau masih betah di Ind0nesia, saya biarkan diri menikmati terik matahari di perjalanan. Bersama seorang kawan, Adhisty Prameswari, saya menderu di atas aspal sepanjang Yogyakarta-Wonosari, yang hawa panasnya menguar-nguar. Sudah sejak lama saya hanya menduga-duga tentang keindahan jajaran pantai di area Gunung Kidul. Kenapa Gunung Kidul? Lho, kenapa tidak? Kini, saatnya membuktikannya sendiri. Toh, orang bijak juga mengatakan, “Better to see something once, than to hear about it a thousand times. ” Sebelum akhirnya tiba di destinasi-destinasi cantik Gunung Kidul, ada dua pilihan berdiri tegak di hadapan saya dan Adhis. Apakah kami ingin menghabiskan waktu di jalan, tapi sedikit di tempat tujuan dengan menginap di Jogja—perjalanan JogjaWonosari sekitar 2 jam? Atau, menginap di Wonosari dan bisa lebih leluasa untuk menjajaki satu demi satu pantai-pantai Gunung Kidul? Pilihan jatuh di kawasan gersang dengan pesisir cantik peta Jogja sekaligus Gunung Kidul sudah ada di tangan saya. Sembari duduk manis di jok belakang Kris—motor Adhis—, saya menggenggam peta itu erat-erat dengan pikiran yang sudah lebih dulu tiba di pantai yang hendak kami tuju. Gunung Kidul, yang merupakan salah satu kabupaten di Wonosari, memiliki banyak sekali pantai di jajaran pesisir selatan. Jumlahnya bisa sampai 50-an pantai yang terbentang hingga 65 km dari Kecamatan Purwosari hingga Girisubo. Dan, lautnya berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Kami memulai perjalanan dari penginapan sejak pagi. Sebab, jika sudah lewat dari jam 10.00, matahari sudah terlalu tinggi. Gunung Kidul terkenal

sebagai kawasan yang gersang. Sebab, sebagian besar wilayahnya berupa perbukitan kapur. Maka, hindari perjalanan pada siang hari. Toh, banyak keuntungan jika memulai perjalanan saat pagi. Udara segar masih bisa kita nikmati sepanjang jalan. Kita bisa melihat para petani berjalan kaki di tepi jalan, hendak berangkat kerja. Butuh waktu sekitar 30 menit dari penginapan saya untuk tiba di kawasan pesisir. Tiga puluh menit tanpa macet. Saya melihat jalan berkelok-kelok di hadapan saya. Kadang-kadang, kami melewati kawasan pemukiman di kanan-kiri. Tapi, pemandangan yang seringkali terlihat adalah hutan jati yang meranggas di tepi jalan. Daun-daun sudah gugur. Ranting-ranting kelihatan kering, tinggi, dan seperti menggapai-gapai langit yang sangat biru tanpa awan. “Kayak di Eropa pas autumn, kan?” kata Adhis seperti menghibur diri, lalu tergelak-gelak bersama Kris—motor kesayangannya. “Kalo musim hujan, hutannya bisa hijau tapi, Dhis?” saya bertanya pada Adhis yang memang sering ke Gunung Kidul untuk pelesir, karena ia kuliah di Jogja. Saya mengenal Adhis karena kami sama-sama terlibat dalam satu komunitas #Savesharks Indonesia. “Iya, daun-daunnya tumbuh, tapi tetep gersang, sih. Soalnya banyak karst di sini. Tuh, kayak gitu!” Adhis menunjung sebongkah bukit kapur yang terekspos karena dikeruk. “Silau!” “Banget!” Hening lagi. Adhis sibuk mengendarai Kris. Sementara, saya asyik menikmati perjalanan. Ranting-ranting kering masih mendominasi pemandangan. Kadang-kadang, padang tanah merah yang luas menarik mata. Mengingatkan saya pada Gurun Sahara.

Hari Pertama: Mulai dari Panjat Tebing sampai Menikmati Senja

Di sebuah pertigaan, kami akhirnya dihadapkan pada papan jalan yang terpecah. Jika ke kanan, kami diarahkan ke Kecamatan Tanjungsari, lokasi jajaran pantai yang lebih dekat berada. Sementara, jika ke kiri, kami diarahkan ke Kecamatan Tepus, juga tempat jajaran pantai yang lain berada—hanya saja lebih jauh. kami pun berbelok ke kiri. Pantai Siung adalah destinasi pertama kami. Saat pertama kali tiba, yang ada dalam benak saya adalah, “...sepi sekali tempatnya...” Meskipun sudah ada lahan parkir, toilet, dan warung nasi, pengunjung di Siung hari itu hanya satu-dua kelompok orang. Saat berjalan ke arah pantai, kilauan pasir putihnya langsung menyilaukan mata. Dua bukit yang menjorok ke laut seperti menjaga pantai dari gangguan. Ombak-ombak besar pecah di karang-karang itu dengan suara blar yang keras. Menimbulkan perasaan ngeri yang tidak terjelaskan di hati saya. Pantai Siung nyatanya memang bukan pantai untuk berenang. Ada papan pengumuman besar di tepi pantai yang isinya melarang pengunjung untuk berenang di laut. Siung yang tepatnya di Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus ini memiliki daya tarik lain. Ia menjadi lokasi panjat tebing berstandar internasional dengan 250 jalur tersebar di tebing-tebingnya. Jika naik ke bukit sebelah kiri pantai, kita akan melihat gazebo-gazebo berbentuk rumah panggung yang bertebaran di puncak bukit. Itu adalah pondok yang biasa digunakan untuk para pemanjat bermalam di Siung. Hari selayaknya kuda pacu jawara. Kami sadar sudah terlalu lama menghabiskan waktu di Siung ketika matahari mulai teduh. Hari ternyata sudah hampir sore. Kami lalu memutuskan untuk beranjak ke pantai yang dekat dengan Siung. Pantai Jogan. Jaraknya hanya sekitar kurang dari 10 menit dari Siung. Letaknya masih di Kecamatan Tepus. Orang yang datang ke tempat ini biasanya tertarik untuk melihat air terjun yang langsung menuju ke laut.

Pak Min, orang yang memiliki warung dan toilet sederhana di tepi Jogan, dengan semangat menceritakan sesiapa saja orang-orang yang sudah datang ke tempat itu. Mulai dari mahasiswa sampai selebritis, seperti Ruben Onsu, bersama kru program televisinya. Pak Min masih bercerita bagaimana para pengunjung bisa mendirikan tenda dan bermalam di Jogan, lalu menunjuk titik-titik di mana orangorang biasa memilih spot kemah mereka. Ia lalu cerita tentang aktivitas menarik yang bisa dilakukan di air terjun, yaitu rappelling. Sayang, karena musim kemarau, air terjun dialihfungsikan oleh masyarakat setempat untuk pengairan ladang mereka. Ketika kami tiba di Jogan, aliran airnya kering karena tujuan tadi. Tapi, bahkan begitu, saya bisa merasakan betapa menariknya Jogan. Ketika matahari mulai turun dan langit mulai memasuki waktu jingga, Pak Min menghampiri kami. “Mbak, kalau mau liat sunset, bisa naik bukit itu,” kata Pak Min sembari menunjuk ke bukit di kanan kami. Beberapa menit kemudian, saya dan Adhis sudah berada di antara tanaman-tanaman pinus yang tinggi-tinggi, sembari mendaki terus hingga puncak bukit. Tanpa sadar, tahu-tahu kami sudah tiba di puncak tepat saat senja mulai keemasan, dan cahayanya menyirami wajah kami. Lautan yang tadinya gelap, kini terlihat lebih ceria karena senja. Ah, tidak ada cara yang lebih baik untuk menutup hari.

Hari Kedua: Keindahan di Bawah Sadar

Rencana hari ini adalah menuju jajaran pantai di Kecamatan Tanjungsari. Tidak seperti perjalanan menuju Tepus yang ditemani oleh perbukitan kapur, karang-karang di tengah ladang, dan pohon-pohon kering, perjalanan menuju Tanjungsari lebih rindang, tapi juga lebih membosankan. Sebab, sepanjang jalan kita akan lebih banyak melihat rumahrumah yang berjejer di kanan-kiri. Untung saja, tak sampai setengah jam, kami tiba di tempat tujuan. Kecamatan Tanjungsari sendiri menyimpan keindahan pesisir yang menakjubkan. Pantai-pantainya yang bersebelah-sebelahan (bersebelahan dalam artian harfiah) memaksa kita untuk mengakui bahwa, “Well, Gunung Kidul memang cakep!” Pantai Watu Kodok adalah pantai pertama saya dan Adhis hari ini. Kami begitu bersemangat ketika tiba dan disambut oleh bentangan pasir putih yang luas. Oh, mungkin yang terlalu bersemangat hanya saya, karena setelahnya saya tahu kalau Adhis sudah beberapa kali ke sini. Watu Kodok adalah pantai landai dengan ombak yang jauh lebih tenang jika dibandingkan dengan Siung. Airnya segar dan jernih, tapi hatihati ada karang-karang di beberapa tempat. Mengenai nama tempat ini, ada cerita menarik. Meski tidak terlalu jago bahasa Jawa, tapi saya tahu kalau watu artinya batu, dan kodok adalah kodok. Sempat mata saya berkeliling hendak menemukan batu berbentuk kodok di pantai ini, tapi ternyata bukan begitu ceritanya. Kabarnya, di Watu Kodok ini, tersimpan sebuah patung berbentuk serupa kodok di dalam gua di barat Watu Kodok. Patung ini keramat. Setiap satu tahun sekali di bulan Suro, beberapa gelintir orang kerap kali melakukan ritual di gua tempat patung kodok tersebut berada. Tapi, gua itu sulit dijangkau dan hanya bisa dikunjungi saat surut. Saat pasang, ia akan ditenggelamkan air laut. Di luar cerita mistis tersebut, Watu Kodok adalah pantai yang nyaman untuk dijadikan tempat berjemur. Sebab, pantai ini masih sepi dan tenang. Hanya suara ombak yang akan mengganggu kita. Tapi, siapa juga yang bakal terganggu oleh suara ombak? Mereka adalah musik pengiring waktu berkontemplasi di pinggir pantai. Di kanan-kiri pantai ini, terdapat bukit yang tadinya saya pikir ‘hanya’ agar membuat pantai ini menjadi seperti tersembunyi. Tapi, ternyata bukit itu adalah batas satu pantai dan pantai lainnya. Bukit di kanan Watu Kodok adalah batas dengan Pantai Watu Lawang. Sementara, bukit di sebelah kiri adalah batas dengan Pantai Drini. Yes, karena itu saya tadi bilang bahwa pantai-pantai ini literally bersebelahan. Titik paling menyenangkan di tempat ini adalah bukit yang menjadi batas antara Watu Kodok dan Drini. Di puncak bukit ini, saya melihat lengkung pantai Watu Kodok yang berbatasan dengan air laut yang biru, sekaligus melihat bukit lain di Drini dan ombak-ombak yang berdebur. Dua pantai sekaligus dari satu tempat. Meskipun agak sedikit berangin di puncak bukit ini, tetapi ada gazebo-gazebo bertenda jerami yang bisa kita gunakan untuk duduk-duduk. Setelah mencoba berenang di Watu Kodok dan ternyata pantai itu banyak bebatuan, saya dan Adhis beranjak ke Pantai Drini dengan jalan kaki melewati bukit. Air di Drini begitu segar dan jernih. Ia seperti berwarna kehijauan karena lumut-lumut di bebatuan yang ada di dasar pantai. Tapi, tidak kalah dengan Watu Kodok, Drini memiliki pasir putih yang halus dan bersih. Saya cuma agak terganggu dengan para tukang foto yang kerapkali memaksa menawarkan jasa foto dan print mereka, sedikit menodai ketenangan di pantai ini. Drini adalah destinasi terakhir kami kali ini di Gunung Kidul. Dari total 50-an pantai, memang mustahil untuk bisa menyusuri keseluruhannya hanya dalam waktu dua hari. Tapi toh, banyak pengalaman bisa dialami dalam waktu dua hari. Mulai dari Kris yang berulang kali kempis ban, topi yang terbang lalu hilang, sampai ngebut malam-malam karena jalan gelap dan sepi. Terima kasih atas keindahannya, Gunung Kidul. Sampai jumpa lagi!

Keterangan foto:

1. Dua gazebo yang bisa digunakan untuk berteduh dari panasnya Drini yang menyengat. 2. Banyak terdapat karang-karang daripada pasir. 3. Bersantai sejenak di Drini yang menyengat. 4. Pantai Watu Kodok, pantai landai dengan hamparan pasir yang luas. 5. Bukit di Watu Kodok. 6. Jogan di waktu sunset.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.