Class of Casualities

Maxim (Indonesia) - - Contents - TEKS ADE IRAWAN FOTOGRAFI NIKI YUSUF SAPUTRA

Tampilan kasual dalam diri Dimas Beck yang gemar berinvestasi besar untuk sepatunya.

Personil salah satu grup vokal yang dibesarkan oleh Melly Goeslaw ini berbicara tentang dunia bisnis dan benda penting yang harus dimiliki oleh pria di seluruh dunia.

Akan sangat aneh kalau salah satu personil sebuah grup musik yang cukup lama bergelut di dunia musik Indonesia harus berdiri sendiri dan muncul sebagai perseorangan. Tapi kami tetap berhasil membuat Dimas Beck keluar sementara dari grup vokal yang telah membesarkan namanya selama delapan tahun ke belakang dan berbicara tentang pandangannya di dunia fashion. Menurutnya, setiap orang bisa berpakaian rapi dan menarik yang mungkin saja akan dengan mudah menarik perhatian wanita yang memandangnya. Namun, setiap pria setidaknya memiliki satu atau dua pasangan sepatu bagus yang mencerminkan gaya berpakaian pria yang sebenarnya. “Banyak baju dengan harga terjangkau yang membuat Anda tampak rapi,” katanya. “Tapi, setiap pria harus punya investasi besar untuk sepasang sepatu, saya punya banyak sepatu dan selalu membawanya di dalam mobil.”

Sweater, Knowledge Cotton at Club Culture. Pants, Burton.

Dunia fashion selalu menjadi perhatian khusus dari Dimas Beck yang menilai Indonesia seharusnya sudah bisa mempopulerkan karyanya di negara lain. Krisis yang terjadi di Indonesia, menurut Dimas, bukan lagi orang yang terampil, tapi sebuah karya yang laku di pasaran internasional. Semua orang sekarang sudah mulai membuat bisnis fashion dan berlomba-lomba untuk mencari eksistensinya di Indonesia. “Sekarang bukan lagi bilang bisnis ini akan bertahan 5 atau 10 tahun lagi. Sekarang harus tanya, barang ini laku nggak yah di negara lain,” terangnya. Pengetahuan bisnis yang dipelajarinya dari studi yang masih dijalaninya ini juga yang memicu Dimas Beck harus segera memulai bisnis. Setidaknya bisnis bersama dengan personil grup vokalnya itu. Kembali lagi kalau Dimas sebenarnya belum bisa dipisahkan dengan mereka. Dimas mengaku, dia dan teman-temannya itu masih mencari tahu bisnis terbaik yang akan mereka kerjakan nantinya. “Ternyata membuat sebuah bisnis tidak semudah membuat single lagu,” candanya. Walaupun tidak mau melihat kegagalan yang akan datang, Dimas tetap mempersiapkan kalau hari itu akan datang. Dimas punya sebuah kata makian favorit yang selalu diucapkan ketika dia menemui kegagalan. “Kayaknya generasi gue sukanya ngomong an#^*g deh,” katanya. Kami harap Dimas tidak sering mengucapkan kata itu di masa depan karena kami berharap dia akan sukses dengan semua kariernya sesukses kami membuat Dimas Beck bergaya kasual untuk liburan ala MAXIM di bulan Januari 2016 ini.

HALAMAN INI Shirt, Naked & Famous at Club Culture. Pants, Zara. Watch Aldo.

HALAMAN SEbelumnya Cardigan, Ben Sherman at Club Culture. Shirt, Lacoste at Club Culture. Jeans, Naked & Famous at Club Culture.

HALAMAN INI Sweater, Shirt, Pull&Bear. Pants, Topman. Sunglasses, Aldo.

halaman SEBELUMNYA Sweater, Shirt, Pants, Zara. Shoes, Aldo.

halaman ini Blazer, Pants, Burton. Shirt, Pull&Bear. Shoes, Aldo. HALAMAN Selanj utnya Jacket, Topman. Shirt, Burton. Pants, Burton.

Newspapers in Indonesian

Newspapers from Indonesia

© PressReader. All rights reserved.